Abubakar Baasyir
Congratulation, Ustad
Jakarta, Rabu, 6 November 2002 00:01
ADA 10 tokoh sejarah dari Jombang, Jawa Timur, yang di masa hidupnya menjadi
penghuni panggung utama sejarah Indonesia. Hadlratus Syeikh Hasyim Asyari,
pendiri organisasi keagamaan terbesar se-Nusantara sampai hari ini: Nahdlatul
Ulama. Cak Durasim, seniman besar yang kesenian pasemon-nya melawan Jepang
menjadi benih dari kesenian ludruk yang hidup sampai hari ini. Ludruk kemudian
mengalami penyempitan kapitalistik dan menjadi Srimulat, sementara Cak Durasim
menjadi syahid karena perlawanan politiknya terhadap kolonialisme dan
imperialisme kekuatan asing.
Kemudian KH Wahid Hasyim, yang karena kelembutan sikapnya maka lawan-lawan
politiknya pun segan dan cinta kepadanya. Kemudian Asmuni bin Asfandi termasuk
penghuni utama hati dan kenangan hidup kita. Dan bapak beliau, Pak Asfandi,
adalah pendiri Gambus Misri. Ludruk lahir dari komunitas abangan, Gambus Misri
lahir dari komunitas santri. Ludruk pakai musik dan gamelan Jawa Timur, Gambus
Misri pakai musik Melayu setengah Arab. Ludruk mengambil lakon-lakon
tradisional Jawa, Gambus Misri ambil tema-tema dari sejarah Islam. Ludruk hidup
sampai sekarang, Gambus Misri harus terus-menerus repot dengan budaya Islam
fiqh, sampai akhirnya mati. Tetapi, itu tidak mengurangi nilai dan kemuliaan
ijtihad Pak Asfandi.
Lantas Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, yang banyak umatnya menyebut "la roiba
fihi" --tak ada keraguan sedikit pun tentangnya. Yang orang Mesir sangat
mencintainya, sehingga kejatuhan Gus Dur dari kursi kepresidenan dikaitkan
dengan gagalnya kesebelasan Mesir Pra-Piala Dunia memenangkan pertarungan
melawan Aljazair. Skor 1-1. Ini membuat nama Gus Dur jadi kacau. Kalau skor
1-0, maka angka hanya Wahid. Kalau 1-1, jadinya Wahid-Wahid. Saking jengkelnya
orang Mesir terhadap kejatuhan Gus Dur, kalau di warung mereka selalu
meneriakkan nama Gus Dur keras-keras: "Gahwah wahid! Syay wahid! Thaam
wahid...!!!"
Terus Cak Nur. Nurcholish Madjid. Dunia pemerhati peta pemikiran dunia sebelah
mana tak kenal dia. Seorang pelopor pembaruan pemikiran Islam Indonesia. Waktu
usianya belasan tahun di Pesantren Gontor, ia sudah cas-cis-cus bahasa Inggris,
Arab, Jerman, Jepang. Sedemikian pandainya Cak Nur, sehingga batuk dan dehemnya
pun ilmiah, bahkan setiap helai rambutnya bisa memantulkan cahaya ilmu.
***
Apakah Anda ingat Gombloh --country singer, perokok lokomotif
sambung-menyambung namun suaranya bisa melengking bagai Robert Plant atau qari
Abdul Bashit bin Muhammad Abdus Shomad? Lagunya, Gebyar-gebyar, sering kita
perlakukan seolah-olah lagu wajib nasional. Manusia sangat merdeka. Pencinta
rakyat kecil dan membaur dalam kehidupan mereka. Pernah honornya dibelikan
ratusan BH, dibagi-bagikan di perkampungan prostitusi. Bayangkan, Gombloh naik
becak dengan tumpukan keranjang BH. Dia sibuk melemparkan BH itu satu per satu
ke setiap rumah prostitusi.
Dan Wardah Hafidz, putri seorang tokoh Masyumi, perempuan lembut berwajah
imut-imut dengan ekspresi seorang gadis pemalu, siswi Muallimat Muhammadiyah,
jagoan bahasa Inggris IKIP Malang dan tamatan Ballstate University, Muncie
City, Indianapolis, Amerika Serikat. Aktivis Urban Poor Consortium yang sering
bikin geger Jakarta dan membuat Sutiyoso pusing kepala. Kekalahan Wardah dari
Sutiyoso hanya pada jumlah uangnya. Pemberontak dari skala yang terkecil sampai
yang terus lebih besar. Kakaknya, seorang aktivis yang keteguhan prinsipnya
membentur kemapanan rezim sehingga ia tampak sebagai orang yang bikin ribut di
sebuah kantong kepolisian Bandung --sehingga akhirnya dieksekusi di era
Soeharto.
***
Then, tsumma alasyirah, yang ke-10: tak lain tak bukan dialah Ustad Abu Bakar
Ba'asyir, arek Mojoagung, Jombang ujung timur, tetangganya Mojolegi, Mojosongo,
Mojongapit, dan seterusnya dalam lingkaran kenangan Majapahit. Keturunan Arab:
Mojopahit adalah negara multietnik, bahkan ketika Demak menggantikan
kekuasaannya, gubernur terakhir Majapahit adalah Nyoo Lay Waa --yang mati sial
ditawur dibunuh rakyatnya sendiri karena dianggap gagal mengembalikan kejayaan
Majapahit.
Beliau dilahirkan di lingkar wilayah sensitivitas sejarah, penuh kenangan
tentang pertentangan dan perbenturan. Bahkan di zaman Belanda: dari Mojoagung
inilah akhirnya Kawedanan Jombang menjadi kabupaten, melalui peperangan yang
tidak ringan. Ustad Abu tamatan Pondok Modern Gontor Ponorogo. Bikin pesantren
di Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, yang kurikulumnya, filosofi, rangka
keilmuan, dan penyikapan zamannya disebut "Gontor Plus". Mendidik
santri-santrinya untuk tidak sekadar menjadi 'alim (mengetahui ilmu-ilmu
agama). Pun tidak sekadar menjadi 'arif (pelajaran mendalami 'irfan,
pengetahuan keakhiratan yang tahapan-tahapannya disebut marifat).
Santri-santri Ngruki juga dididik untuk menjadi mujahid (pejuang), yang
cita-citanya adalah jihad menuju derajat tertinggi pencapaian dan kebahagiaan,
yakni "almautu fi sabilillah", mati di jalan Allah.
Karena itu, dari sudut tauhid, tasawuf, dan prinsip ubudiyah murni, yang tepat
untuk kita ucapkan kepada Ustad Abu adalah "Congratulation!" "Mabruuk!"
"Barakallah." "Yarhamukallah." Selamat bahwa beliau telah sukses menapak hampir
ke puncak kemuliaan hidup di pandangan Allah. Seorang yang berada bersama
beliau dalam keributan penangkapan di RSU Muhammadiyah Solo menceritakan,
ketika itu ustad ingin sekali ditembak polisi, supaya syahid fisabilillah.
Soal penafsiran atas nilai-nilai Islam, pilihan-pilihan modus perjuangan yang
berbeda-beda, radikal atau moderat, konservatif atau liberal --sangat
dimerdekakan oleh Islam-- itu soal lain. Yang juga baik menjadi pelajaran
bersama adalah bahwa jalan lurus dan kaku yang diterapkan Ustad Abu telah tidak
saja membuatnya masyhurun fis-sama (terkenal di langit), melainkan juga
masyhurun fil-ardl (terkenal di bumi).
***
Bagi Ustad Abu, hanya ada tiga titik: Allah, dia, dan Amerika Serikat yang
selalu disebutnya "kafir". Pernah saya usulkan beliau dimohon meluangkan waktu
sehari saja, saya minta "Abu Nawas" --seorang setengah ompong berambut putih
berkumis berjenggot tebal putih, sangat menggiurkan untuk nongol di layar TV--
untuk bersama Ustad Abu mendatangi Amien Rais di MPR, Akbar Tandjung di DPR,
Megawati di istana, juga sejumlah menteri. Ustad Abu diam saja, biar si Abu
Nawas yang omong menuntut pertanggungjawaban kenegaraan pihak-pihak tersebut
atas warga negaranya yang dimusuhi tetangga. Supaya fokusnya bukan hanya Ustad
Abu, melainkan melebar menjadi multifokus. Menjadi wacana pendidikan politik,
membangunkan kesadaran tentang martabat bangsa dan negara. Ini bukan hanya soal
Ustad Abu. Ini adalah soal semua umat Islam dan bangsa Indonesia.
Abu Nawas saya pilih karena dia memang tidak punya sungkan, tidak pedulian,
bisa omong apa saja seenaknya. Ia pakai topi pejuang Afghanistan, pakai gamis
Arab yang dibuka bagian depannya, sehingga tampak kausnya yang bertuliskan
"CIA". Malam sesudah pekerjaan-pekerjaan panjang itu, saya sarankan ia menginap
di satu hotel mewah, duduk-duduk di kafe dan minum bir atau wiski seperti
kebiasaannya. Lumayan orang akan berpikir: "Lho, kok Al-Qaeda minum wiski?"
Tetapi, hal itu tidak terjadi karena Ustad Abu sudah sangat khusyuk dan
mendalam konsentrasi prinsipnya. Thariqat atau strategi perjuangannya pun sudah
tertanam di lubuk hatinya. Beliau tidak bisa menerima "huruf" lain karena
jiwanya sudah dipenuhi huruf Al-Quran yang ditafsirkannya menjadi sebagaimana
yang kini disaksikan seluruh dunia. Ustad Abu tidak akan mundur. "Kalau saya
dibunuh, berarti saya syahid. Kalau saya dipenjara, berarti saya cuti. Dan
kalau saya dibuang, diasingkan, berarti saya tamasya."
Bahkan seorang pecinta ustad yang selalu berada di sekitar perjalanan beliau
pernah menabrak: apakah saya bersedia membuka pintu rumah saya untuk Ustad Abu
kalau beliau dikejar-kejar penguasa? Saya bilang tafadhdhol. Silakan. Kebetulan
hari berikutnya ada isu merebak bahwa pasukan Islam melakukan sweeping kepada
turis Amerika dan warga kulit putih lain. Seorang yang lain menelepon saya,
apakah pintu rumah saya terbuka untuk menampung teman-teman Amerika yang akan
di-sweeping? Saya bilang, "With all my pleasure." Silakan. Saya membayangkan,
jika itu terjadi pada hari yang sama, mungkin ada baiknya saya belikan kartu
domino atau remi, agar ustad dan teman-teman Amerika bergurau menghiasi
persaudaraan sebagai sesama manusia.
Tetapi, itu juga tidak terjadi karena penampung Ustad Abu hanya Allah,
sementara sweeping itu juga hanya isu.
***
Ada jihad, ada ijtihad, dan ada mujahadah. Jihad pengertiannya sangat luas dan
umum. Tukang becak yang menggenjot pedal becaknya dengan landasan niat yang
tepat dalam konteks nafkah anak-istri, serta perwujudan rasa syukur dan
tanggung jawab kepada Allah yang menganugerahinya sepasang kaki dan tangan yang
kokoh, adalah mujahid (pelaku atau subjek jihad). Pekerjaan apa saja, dari
mencangkul sawah sampai menjalankan tugas sebagai presiden, adalah jihad
--sepanjang dikonsep dalam pertalian yang suci dan mulia dengan dunia dan Tuhan.
Cak Nur secara lebih spesifik kita sebut mujtahid (pelaku atau subjek ijtihad),
meskipun ijtihad juga satu bentuk jihad. Ijtihad adalah jihad intelektual,
tradisi dan semangat inovasi di bidang pemikiran, eksperimentasi menuju
penemuan baru, perjuangan kasyful hijab (menguak rahasia) menuju
paradigma-paradigma baru. Adapun mujahadah adalah jihad spiritual: berdoa,
berwirid, hizib, mengenangkan terus-menerus suatu prinsip.
Apakah ngebom itu jihad? Mungkin. Jumlah tafsir terhadap Islam bisa sebanyak
jumlah pemeluknya. Ada tafsir kulit yang dangkal, ada tafsir daging yang empuk,
ada tafsir urat saraf yang lembut, ada tafsir tulang yang keras dan kaku. Ada
yang produk tafsir seluruhnya adalah tulang, ada yang seluruh sikapnya adalah
daging. Ada juga yang lengkap, dalam konteks "ini" ia daging, konteks "itu" ia
tulang.
Ada yang menilai orang lain adalah kafir dan menyebutnya kafir, ada yang jelas
orang di depannya pincang kakinya tapi tak dipanggilnya: "Hai, pincang!" Semua
dibuka pintunya oleh Islam. La ikraha fiddin, tak ada paksaan dalam agama,
Allah yang menjadi Hakim Sejati. Bahkan semua yang dilakukan Amerika adalah
juga jihad dalam tafsir dan bahasa yang berbeda, dan satu di antara hasilnya
adalah kedua pihak menuduh yang lainnya teroris. Semua pihak terlibat dalam
sejarah penafsiran, dengan segala kejujuran dan kecurangannya, dengan hati suci
serta nafsu.
Karakter utama Muhammad sendiri adalah kelembutan. Beliau bukan hanya tidak
berkirim surat "Kepada Yth. Raja Kafir", bahkan juga bersedia menanggalkan
gelar "Rasulullah" dengan hanya mencantumkan "Muhammad bin Abdullah". Ada
firman Allah "jadilhum billati hiya ahsan": perlakukanlah musuhmu dengan
sebaik-baiknya. Bahkan iblis setan menyatakan dalam Al-Quran: sesungguhnya
mereka takut kepada Allah, sehingga mereka punya potensi juga untuk memperoleh
penghormatan.
[Emha Ainun Nadjib, Budayawan]
---------------------------------
To help you stay safe and secure online, we've developed the all new Yahoo!
Security Centre.
[Non-text portions of this message have been removed]
----Hapus qoute yang tidak relevan jika me-reply!----
Arsip milis ada di:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Situs sekolah ada di:
http://www.smun2-jbg.sch.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://uk.groups.yahoo.com/group/smu2jombang/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://uk.docs.yahoo.com/info/terms.html