Ahmad baidowi

--- On Mon, 8/24/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [FTK ITS] Suramadu nasibmu??
To: [email protected]
Date: Monday, August 24, 2009, 3:50 AM






 




    
                  FYI..



------------ --------- ------- Original Message ------------ --------- -------

Subject: Fw: Mudik 2009 Selamatkan Suramadu

From:    wapra...@rad. net.id

Date:    Sat, August 22, 2009 9:13 am

To:      "Wap" <prati...@oe. its.ac.id>

         "Widiap" <wipra...@xl. blackberry. com>

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -



Selamatkan Suramadu

Sabtu, 15 Agustus 2009 | 00:43 WIB

Ulah para pencuri besi Jembatan Suramadu sungguh tak lagi

bisa dianggap remeh. Mereka tidak hanya mencuri baut dan

lampu penerang seperti terjadi saat jembatan ini baru

diresmikan Juni lalu. Yang dilakukan sekarang jauh

lebih berbahaya. Mereka juga mencopoti satu demi satu

struktur besi pemecah ombak. Aksi ini bisa berakibat fatal.

Besi pemecah ombak itu melindungi pilar utama jembatan

dari gerusan ombak dan arus Selat Madura, yang tergolong

kuat. Bila pemecah ombak lenyap, pilar akan rentan

terhadap hantaman arus dan ombak.

Pada akhirnya, pilar beton itu mudah goyah dan

membahayakan seluruh struktur jembatan.

Itu sebabnya, penanganan terhadap para penjarah besi harus

jauh lebih serius. Yang mereka lakukan bukan lagi

sekadar vandalisme, melainkan sebuah perbuatan

kriminal berbahaya.



Berbahaya bukan hanya karena mereka merusak jembatan

senilai Rp 4,5 triliun itu, tapi juga mengancam nyawa ribuan

orang yang setiap hari melintasi jembatan tersebut.

Memang tidak mudah mengatasi aksi para penjarah.

Para pencuri itu sudah biasa berburu besi tua kapal karam

di kedalaman laut.

Berbekal alat selam dan alat potong besi sederhana,

dalam sekali operasi mereka bisa mendapatkan satu atau dua

ton besi. Besi-besi ini kemudian sedikit demi sedikit

mereka pindahkan ke truk yang telah menunggu untuk dibawa

ke para penadah. Dalam dua bulan terakhir,

polisi setidaknya sudah menangkap tiga truk pengangkut

besi jembatan dengan jumlah total mencapai tujuh ton

besi. Karena terbatasnya tenaga patroli polisi, yang bisa

dilakukan hanya menangkap truk pengangkut

tersebut.

Melihat keterampilan dan kegigihan para pencuri ini,

menambah frekuensi patroli di jembatan seperti yang

sekarang dilakukan tak akan cukup. Polisi hanya

mampu mengawasi area sekitar jembatan, sedangkan area

pilar, yang sebagian besar terendam laut, tak bisa dikontrol.

Agar lebih efektif, pengawasan polisi seharusnya mencakup

area bawah jembatan. Sekarang kapal TNI sesekali

terlihat melakukan patroli di area pilar.

Tapi mengandalkan bantuan TNI terus-menerus tentu

tidak memungkinkan. Tugas pengawasan rutin harus

dilakukan oleh Polri sendiri dengan mengerahkan Satuan

Polisi Air, yang biasanya bertugas mencegah penyelundupan.

Tapi sehebat apa pun pengawasan oleh polisi,

tanpa dukungan masyarakat di sekitar jembatan, itu akan

percuma. Jembatan ini dibangun dengan proses panjang

dan biaya begitu besar. Ketika jembatan sudah

berfungsi, masyarakat sekitarlah yang menikmati

keberadaan jembatan. Maka sudah sepantasnya

masyarakat sekitar memiliki tanggung jawab moral

menjaga keutuhan Suramadu. Inilah sesungguhnya masalah

yang lebih sulit dari sekadar mengawasi keutuhan

jembatan. Bangsa kita sudah lama dikenal sebagai bangsa

yang bisa membangun tapi tidak mampu memelihara.

Maka Suramadu sesungguhnya menjadi ujian bagi

masyarakat sekitar. Ujian itu tidak hanya mencegah

perusakan, tapi juga membangkitkan rasa

memiliki.



------------ --------- --------- ------



--



http://www.its. ac.id 


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke