---------- Forwarded message ----------
From: rahmatina kasri <[email protected]>
Date: 2010/5/20
Subject: [economics_feui] Intermezzo - Fw: SRI MULYANI, NASIONALISME, DAN
TINJU :-)
To: [email protected]




Dear all,

Mau sharing aja email dari milis tetangga ini.
Menurut saya featurenya tempointeraktif ini cukup menarik. Mohon maaf kalau
seandainya cross-posting.

Cheers,

Rahma

-----------------------------------------------------------

SRI MULYANI, NASIONALISME, DAN TINJU
oleh: Muhammad Chatib Basri*


Pittsburgh, 25 September 2009. Saya catat hari itu dalam ingatan. Presiden
Obama meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membagikan pengalaman
Indonesia dalam menurunkan subsidi bahan bakar minyak, dalam forum amat
penting G-20. Kita ingat pada 2005 dan 2008, Indonesia menaikkan harga BBM
dan mengalokasikan subsidinya untuk rakyat miskin. Mungkin aneh bagi
sebagian di antara kita, mengapa kebijakan yang di dalam negeri dicaci maki
justru layak dijadikan contoh oleh negara anggota G-20.

[cid:[email protected]]
Sri Mulyani

Siang itu, Presiden SBY sudah bersiap memberikan paparannya. Sayangnya,
waktu dalam sesi makan siang itu amat terbatas, padahal ada tiga topik yang
dibahas, dan giliran SBY yang terakhir. Waktu habis dan Presiden pun tak
jadi bicara. Tentu kami semua-Menteri Keuangan Sri Mulyani; juru bicara
Presiden, Dino Patti Djalal; Mahendra Siregar; dan saya-amat kecewa.

Kami berusaha meminta keterangan dari delegasi Amerika Serikat, tapi
jawabannya tak memuaskan. Mereka tentu tak berani menanyakan kepada Obama.
Saya ingat Sri Mulyani setengah berbisik kemudian mengatakan, "Kayaknya saya
mesti ngomong langsung dengan Obama." Saya kira dia bergurau. Tapi kemudian
saya sadar, ia serius. Sri menghampiri Presiden Obama yang baru memasuki
ruangan setelah jeda makan siang. Mereka berbicara berdua. Saya kebetulan
berjarak sekitar dua meter dari mereka, sehingga saya bisa mendengar
percakapan tersebut.

Dengan terus terang-khas Sri Mulyani-ia menyampaikan kekecewaannya. Ia
mengatakan bahwa Presiden Obama sudah meminta Presiden SBY berpidato, tapi
waktunya habis. Karena itu, ia meminta Presiden Obama menyampaikan maaf
kepada Presiden SBY dan memberikan kesempatan di sesi berikutnya. Saya
terkejut. Presiden Obama-saya kutip dari ingatan-tersenyum dan mengatakan,
"Itu kesalahan saya, saya minta maaf, akan saya berikan kesempatan di sesi
berikutnya."

Setelah itu, saya melihat Presiden Obama menghampiri Presiden SBY dan
berbicara berdua. Di sesi berikutnya, Presiden Obama meminta maaf secara
terbuka. SBY kemudian berpidato dengan sangat meyakinkan. Bahkan, kemudian
ada satu bagian dari komunike yang menganjurkan agar kebijakan ini dicontoh
anggota G-20. Sri Mulyani kelihatan tersenyum. Sambil bercanda kami
mengatakan kepada Sri Mulyani, sebetulnya ia lebih cocok menjadi Menteri
Pertahanan!

Itu adalah contoh kecil dari kiprah Sri Mulyani di forum internasional.
Tentu naif bila kita menyimpulkan bahwa Indonesia berperan dalam G-20 hanya
dari cerita itu. Yang jauh lebih serius adalah ketika pada pembicaraan di
tingkat Menteri Keuangan, Sri Mulyani memperjuangkan pembiayaan stimulus
fiskal bagi negara berkembang. Negara berkembang-termasuk Indonesia-sampai
September 2008, tumbuh relatif tinggi. Namun krisis keuangan global telah
membawa dampak yang dalam bagi negara berkembang.

Untuk mengatasi itu, sisi permintaan-seperti resep Keynes lebih dari 70
tahun lalu-harus didorong. Dan ini mesti dilakukan di tingkat global.
Masalahnya, tak semua negara, terutama negara berkembang, memiliki kemampuan
untuk membiayai stimulusnya. Dalam situasi krisis keuangan global, akses
terhadap pasar keuangan praktis tertutup. Kalaupun terbuka, harganya amat
mahal.

Di sini, usulan Indonesia agar dibentuk global expenditure support fund
diadopsi. G-20 sepakat mengguyurkan sedikitnya US$ 100 miliar melalui Bank
Pembangunan Multilateral untuk membantu bujet negara berkembang, termasuk
Indonesia. Selain itu, disediakan trade financing US$ 250 miliar untuk
memulihkan perdagangan global.

Saya yang hadir di sana melihat bagaimana Sri Mulyani berdebat mengenai hal
ini. Ia begitu dihormati dan didengar oleh para menteri keuangan lain,
seperti Alistair Darling dari Inggris, Tim Geithner dari Amerika, atau
Christine Lagarde dari Prancis. Saya ingat bagaimana dalam diskusi, Sri
Mulyani kerap diminta menjadi pembicara pembuka. Saya catat, Darling atau
Geithner di beberapa kesempatan, setelah mereka bicara, berpaling dan
menanyakan, "Sri Mulyani, what do you think...."

Di sana, saya bangga menjadi orang Indonesia karena Indonesia dihormati dan
didengar dalam forum yang boleh dibilang paling penting di dunia saat ini.
Sebab, Indonesia berani memperjuangkan nasib negara berkembang di pentas
global. Di masa lalu, sentimen nasionalisme kita kerap dibangun lewat tinju
atau bulu tangkis. Keindonesiaan kita menjadi begitu bergelora ketika Ellyas
Pical juara dunia, atau saat Susi Susanti dan Alan Budikusuma meraih emas
olimpiade. Atau di tempat lain, nasionalisme kita bergelora ketika kita
marah, atau terusik atau takut, lalu berteriak "awas asing".

Sri Mulyani membangkitkan kebanggaan akan Indonesia dengan cara lain. Maka,
bukan hal yang aneh jika Sri Mulyani ditawari posisi nomor dua di Bank
Dunia. Kiprahnya di dunia internasional memang membuat Indonesia yang
tadinya sunyi dalam pentas global menjadi berbunyi. Kini, sentimen
nasionalisme kita justru dibangun oleh Sri Mulyani lewat perasaan dihargai
dan dihormati, karena Indonesia didengar, karena Indonesia mewakili emerging
economies memiliki peran mengatasi krisis global. Kita tak lagi menjadi
tawanan rasa rendah diri kita atau kita tak lagi melihat dunia dengan
kecemasan di tiap tikungan.

* Muhammad Chatib Basri adalah mantan anggota staf khusus Menteri Keuangan
Sri Mulyani dan mantan Deputi Menteri Keuangan untuk G-20

---
(majalah.tempointer aktif.com/<http://aktif.com/> .../mbm.20100517
.KL133573. id.html)


Best regards,
Theresia Tobing
Gift Shop/Gallery Assistant
Public Outreach and Civil Society Division
The  ASEAN Secretariat
"One Vision, One Identity, One Community"
70 A, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta - 12110
Tel. (62-21) 7262991, 7243372 Ext. 437
Fax: (62-21) 7398234, 7243504
Website: www.asean.org<http://www.asean.org>

--------------
DISCLAIMER:
--------------
This email is confidential. If you are not the  intended recipient,
any form of usage of the content and/or attachments in this email is
unlawful. If you receive this email accidentally notify us by email
and delete this email and its attachments.



 



-- 
Tri Mukhlison Anugrah
Student of Economics, Faculty of Economy
University of Indonesia
"perkerjaan yang dilakukan disiplin, hasilnya berlipat-lipat"
hp +6285697 226 126
    +6221 9067 5937

<<attachment: image001.png>>

Kirim email ke