Riska.....   Allah lebih tahu tempat terindah untukmu. 

Maaf kalau saya menangis membaca tulisan anda.  Saya  benar-benar merasa sedih, ternyata kekerasan terhadap anak-anak  di  dalam rumah tangga masih saja ada. 
    
Mari kita sama-sama berdoa, semoga Tuhan memberikan tempat  terindah  untuk almarhumah. Semoga Tuhan memberi siksa yang pedih  bagi  orang-orang yang tega menyiksa-nya. Semoga semua orang tua  terhindar  dari perbuatan serupa, dan semoga semua anak di dunia  (khususnya  Indonesia) dapat menikmati masa kecilnya dengan senyum  riang.
Amiiiiiin .........
  
  
            
    Taman Yang Paling Indah Hanya Taman Kami
                        - untuk RR
   
   
    Allah yang baik,
    senang deh aku sudah di sini
    tak ada lagi mama yang galak
    dan paman yang sering membentak
    
    Allah yang baik,
    bolehkah aku bergabung
    dengan teman-temanku di sebelah sana
    yang sedang menyanyi gembira,
    "taman yang paling indah hanya taman kami..."
   
    aku suka sekali lagu itu
    tapi tak pernah bisa menyanyikannya sepenuh hati
    karena sebelum ini,
    aku hanya bisa mendengar lagu itu
    dari balik dinding rumah
    sayup-sayup
    seperti memanggil-manggil untuk bergabung, bergembira
    tapi aku bukan burung yang punya sayap
    aku tak bisa terbang ya Allah,
    keluar barang sebentar dari rumahku yang pengap
   
    Setiap pulang sekolah
    dan ayah sedang tak ada di rumah
    paman menyuruhku rebah
    kadang-kadang menghadapnya, kadang-kadang
    membelakanginya.
    lalu aku tak tahu apa yang dilakukannya, ya Allah
    tapi rasanya sakit sekali
    badanku sakit
    tulangku sakit
    pahaku sakit
    mataku sakit
    karena airmataku habis menahan jerit.
   
    Allah yang baik,
    aku kangen ibu, bukan mama
    mama bukan ibu yang melahirkanku
    mama adalah istri ayah yang baru
    yang lebih sayang pada anaknya sendiri
    bayi mungil yang lucu
   
    aku sih sayang pada adikku itu, ya Allah.
    tapi aku takut, setiap kali aku mencium adik
    tangan mama mampir di wajahku,
    rasanya lebih sakit dari kejedot kusen pintu.
    setiap kali aku mencubit pipi montok adik
    tangan mama memuntir kupingku
    sampai hampir putus rasanya, ya Allah.
    mungkin satu kali pernah berdarah aku tak ingat lagi
   
    Allah yang baik,
    pernah satu kali mama membekap mulutku rapat-rapat
    aku seperti ikan di pasar, yang megap-megap ingin
    hidup
    aku menjerit memanggil-manggil ayah
    tapi mama semakin kencang mencekik leherku
    seperti film-film pembunuhan yang pernah kulihat
    di televisi. betul ya Allah, aku nggak bohong, lho.
    di sekolah aku kan diajar bu guru nggak boleh bohong,
    baik kepada orang lain apalagi kepada Allah.
   
    Tapi mungkin memang aku yang cengeng ya Allah,
    aku selalu menangis bila paman
    melakukan terus menerus perbuatannya yang membuatku
    sakit
    aku pernah berpikir untuk mengambil pisau dan
    menusuknya seperti pada sinetron-sinetron yang pernah
    kulihat.
    tapi aku tak pernah berani.
    bahkan ketika ayah sedang di rumah, dan memelukku pun,
    aku tak berani bercerita apa-apa kepadanya.
   
    Di buku-buku cerita, aku lihat anak-anak seumurku
    selalu manja
    pada ayah dan ibunya
    mereka bisa naik pundak sampai menginjak kepala
    lalu tertawa-tawa bersama.
    lalu orangtua menggelitiki perut anak-anaknya
    menciumi sepuasnya-puasnya, sampai si anak memang
    rasanya
    seperti hampir mati juga
    tapi mati karena rasa geli dan bahagia
    mengapa hal itu tak pernah terjadi padaku, ya Allah?
   
    Apakah para penulis di buku-buku cerita itu berbohong,
    mereka hanya mengarang yang indah-indah saja?
    kalau begitu hukumlah mereka ya Allah
    karena membuat anak-anak sepertiku tambah sedih
    tak pernah merasakan apa yang mereka tulis di
    buku-buku itu.
   
    Teman-temanku di sekolah selalu ngomong tentang plei
    stesyen
    dan boneka berbi,
    aku tak pernah iri lho, ya Allah.
    bener deh, suwer!
    aku tak pernah iri soal mainan
    aku ingin hanya ada dua ciuman berbarengan
    dari mama di pipi kanan, dari ayah di pipi kiri
    kalau ayah pulang ke rumah,
    mama kadang-kadang mau tersenyum padaku, aku akui itu
    ya Allah,
    tapi tetap saja dia tidak pernah mau menciumku.
   
    Aku ingin sekali ingin bercanda dengan mama dan adik
    kecilku yang lucu,
    apalagi kalau ayah sedang tidak di rumah.
    tapi selalu aku disuruh mama menemani paman,
    yang membuatku terus menjerit kesakitan.
   
    Ya Allah,
    kenapa mama tak pernah mengelus airmataku ketika aku
    kesakitan?
    kenapa mama malah menampar wajahku berulang kali?
    kenapa mama malah membekap mulutku begitu kencang?
    kenapa mama malah mencekik leherku seperti teman-teman
    mencekik belut sampai mata pada perlombaan tujuh belas
    agustus di sekolah?
   
    Allah yang baik,
    tapi sekarang aku gembira, suwer!
    di sini banyak sekali teman-temanku
    yang bernyanyi riang.
   
    bolehkah aku bergabung dengan mereka sekarang ya
    Allah,
    aku ingin sekali menyanyikan, "taman yang paling
    indah..."
    mumpung sedang nggak ada mama dan paman.
    boleh ya?
   
    Oh iya, kalau Allah nggak keberatan
    sekalian panggil saja semua kawan-kawanku yang tak
    pernah menyanyikan
    lagu di rumah mereka dengan bahagia. semua
    kawan-kawanku yang selalu menangis kesakitan.
   
    biarkan kami semua bernyanyi di sini saja ya Allah,
    menyanyi bersama-sama, menari bersama-sama, tertawa
    bersama-sama,
    berpelukan bersama-sama, dorong-dorongan,
    pukul-pukulan, cubit-cubitan,
    lalu menyanyi lagi bersama-sama sambil bergandengan
    tangan.
   
    boleh kan ya Allah?
   
    oh iya, sebelum aku bergabung bersama teman-teman di
    sana,
    namaku Riska Rosiana.
    Allah bisa memanggilku Riska atau Rosi,
    atau dipanggil Ana juga boleh.
   
    Dadah Allah,
    aku mau ikut nyanyi dulu ya?
    Allah nggak akan marah seperti mama, 'kan?
   
   
   
    akmal n. basral
    jakarta. 17.01.06
   
    * * * *
   
   
    ANAK-ANAK ITU PERGI DENGAN LUKA
   
    ...
   
   
    ***
    
LUPAKAN sejenak kepedihan Lintar. Lihatlah kegemparan
yang meledak di Perumahan Sengkang, Cilincing, Jakarta
Utara, pada suatu pagi Senin dua pekan lalu. Warga menemukan pemandangan mengenaskan. Riska Rosiana,tahun, meninggal di rumahnya dengan sebagian tubuhnya sudah dikerumuni semut. Di rumah petak itu pelajar kelas dua Madrasah Al-Islamiyah tersebut tinggal bersama ayahnya, Daeng Amran, 55 tahun, dan ibu tirinya, Idawati, 39 tahun, dan seorang adik tirinya yang berumur 14 bulan.
    
Riska meregang nyawa dengan kepedihan. Malam sebelum ia meninggal, ia diperkosa dan disodomi oleh adik ibunya, Ambo Ase, 25 tahun, di kamarnya. Tindakan sang paman membuat Riska menangis kesakitan. Gadis cilik ini membawa tangisnya ke ruang tamu. Bukannya bantuan yang datang, tangis itu justru membuat Idawati murka.Idawati naik pitam dan membekap mulut Riska dengan kain dan kemudian mencekiknya. Riska terdiam. Idawati,yang menyangka bocah perempuan itu sudah tertidur,segera meninggalkan Riska. Ia tak sadar, saat itu bocah malang tersebut sudah menjadi mayat.
    
Kepada tetangganya, Idawati dan Amran, suaminya, yang
baru pulang pada pagi hari, menyatakan Riska meninggal
karena sakit. Tapi sejumlah warga yang curiga melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Polisi datang dan mengirim mayat itu ke RSCM. Dokter Mun'im Idris, pakar forensik yang melakukan autopsi terhadap jasad
Riska, memastikan: bocah malang itu meninggal karena kehabisan napas akibat cekikan. “Ada bekas kuku di dekat telinganya,” kata Mun'im. 
    
Idawati dan Ambo kini mendekam di tahanan Polsek Cilincing. Ambo mengaku perbuatan bejatnya itu sudah dilakukannya selama dua bulan. “Saya sudah sepuluh kali memperkosa Ika,” katanya. Idawati juga mengaku dirinya mencekik Riska. ”Karena tidak diam-diam, dia saya cekik dan mulutnya saya sumpel pakai kain,”ujarnya. Polisi menjerat Ambo dan Idawati dengan pasal-pasal KUHP tentang perbuatan cabul terhadap anak dan menghilangkan nyawa orang. Ancaman terhadap pelaku perbuatan ini, penjara 15 tahun. Selain itu, ujar Kapolres Jakarta Utara Komisaris Besar Dede Suryana,kedua orang ini akan dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.
    
Adapun jasad Riska kini sudah terbaring di kampung halaman ibu kandungnya di Desa Tanjungkerta,Indramayu. Sejumlah warga menancapkan pisau dan alu di atas kuburannya. Warga percaya arwah Riska akan menuntut balas. “Gunakan pisau itu untuk membalas dendam, Nak. Balaskan kemarahan kami...,” ujar sejumlah warga sambil menaburkan kembang di atas pusara Riska.
***
   


Yahoo! Photos
Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, whatever.

YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke