mudah2an suatu hari modal bangsa bisa juga punya kontribusi seperti
ini...atau mgkn sudah?
wassalam,
a.alhadath
MAJALAH TEMPO
Edisi. 19/XXXIIIIII/02 - 8 Juli 2007
Pendidikan
Berkah dari Enceng Gondok Dua siswa SMA di Semarang meraih emas dalam
lomba penelitian lingkungan internasional di Turki.
Keluarga Mulyono tak lagi menggunakan air dari Perusahaan Daerah Air
Minum Semarang untuk memasak. Ini sudah berlangsung sepuluh tahun. Meski
airnya terlihat jernih, warga Simongan, Semarang Barat, itu meragukan
kebersihannya. Maklum, rasanya payau dan agak berbau. Untuk itu, ayah
dua anak ini memilih membeli air mineral untuk masak dan minum. ?Apa
boleh buat, daripada terjadi apa-apa,? katanya.
Mulyono memang hidup di kawasan industri. Pabrik berat seperti baja ada
di lingkungan tersebut. Akibatnya, serbuan polusi air dan udara tak
terbendung lagi, menyerang keseharian Mulyono dan warga lain di sana.
Apalagi beberapa sungai yang menjadi sumber air PDAM dipercaya tercemar
logam berat. Masalah pencemaran, terutama di kawasan Kali Garang dan
Terboyo, sudah menjadi keprihatinan para ahli lingkungan Semarang sejak
akhir 1980-an.
Beberapa lembaga bahkan pernah meneliti kualitas air sungai tersebut.
Penelitian Universitas Negeri Semarang, misalnya, menyebut 1.229 pabrik
berdiri di sepanjang aliran sungai di Simongan dari 1980-an hingga 2003.
Hampir semua pabrik, menurut penelitian itu, membuang limbah ke Kali
Garang di kawasan itu. Penduduk sekitar juga ikut buang sampah di sungai.
Mendekati hilir, permukaan sungai selebar empat meter itu keruh dan bau.
Penelitian Fakultas Perikanan Universitas Diponegoro pada 2001
menyebutkan, pencemaran telah merusak ekosistem dan biota air sungai.
Penduduk Semarang kehilangan makanan favorit mereka, yaitu sate kerang
dara, yang semula hidup di sungai itu. Akibat polusi, populasi kerang
dara menurun dan tak lagi layak makan.
Namun, ?berkat? Mulyono dan warga Simongan lainnya, dua siswa SMA
Semesta Semarang, Choirudin Anas dan Indradjit Ali Gorbi, mendapat
anugerah. Pasalnya, bermula dari cerita warga di hilir sungai yang
krisis air bersih itulah, Choirudin dan Indra mendapatkan ide untuk
mencari solusi atas pencemaran air itu, yaitu dengan tanaman air, enceng
gondok. Hasilnya, penelitian berjudul ?Enceng Gondok sebagai Biofilter
untuk Logam Berat? meraih medali emas dalam Olimpiade Proyek Lingkungan
Internasional pada 10-11 Juni di Istanbul, Turki, sekaligus menyisihkan
hasil karya 92 peserta dari 43 negara.
Bagaimana perjalanan Choirudin dan Anas dari Simongan ke Turki?
Ceritanya, mereka adalah anggota klub biologi di SMA Semesta. Jarak
sekolah berasrama yang terletak di kawasan Gunungjati ini 19 kilometer
dari sungai yang kotor dan bau itu. Karena itu mereka sama sekali tak
tersentuh problem air.
Di bawah bimbingan Kuntoro Budiyanto dalam klub biologi itu, mereka
sering membicarakan problem air bersih di hilir. Akibatnya, dua sahabat
karib itu tertarik meneliti. Kuntoro yang juga menjabat dosen Fakultas
MIPA Universitas Negeri Semarang ini memberikan saran agar Choirudin dan
Indra mencari topik penelitian yang menawarkan solusi. Menurut Kuntoro,
sudah banyak penelitian tentang kondisi air dan upaya membersihkan
sungai, namun sungai di hilir masih saja polutif.
Lalu Kuntoro menawarkan kepada mereka untuk meneliti sejumlah tumbuhan
air yang punya kemampuan menyerap racun, yaitu enceng gondok, kangkung,
dan keladi (talas air). Pilihan akhirnya jatuh pada enceng gondok.
?Sel-sel pada akar, batang, dan daunnya lebih rapat dan responsif
mengisap racun,? demikian alasan Choirudin. ?Selain itu, enceng gondok
juga tidak dikonsumsi manusia, jadi tidak membahayakan meskipun sudah
menyerap racun,? ujarnya.
Rencana penelitian disusun pada Desember lalu. Pada awal Januari, mereka
mulai bergerak. Tugas pertama Choirudin dan Indra adalah menjaring
berbagai referensi penelitian tentang tingkat pencemaran logam berat di
sungai itu. Setelah memetakan data dari berbagai penelitian, mereka
turun ke lapangan mulai Februari.
Duet Choirudin dan Indra mengambil 40 liter air sampel Sungai Terboyo
dari lima titik lokasi. Tanaman enceng gondok di kelima lokasi tersebut
juga diambil. Hal serupa mereka lakukan untuk Sungai Garang, yang salah
satu lokasi sampelnya ada di kawasan tempat tinggal Mulyono. Hasilnya,
meskipun air Sungai Terboyo lebih hitam ketimbang Garang, kandungan
logam beratnya lebih ringan daripada kandung-an di air Kali Garang yang
terlihat lebih jernih.
Setelah mereka teliti, penyebabnya adalah rembesan limbah dari pabrik
baja, farmasi, dan tekstil di sekitar Kelenteng Sam Po Kong, yang
membuat air Garang banyak mengandung logam berat. ?Kami menemukan
banyaknya merkuri (Hg), timbel (Pb), kadmium (Cd) dan unsur kimia
lainnya yang melebihi ambang batas,? ujar Choirudin. Semua zat tersebut
jelas berbahaya, dapat menimbulkan berbagai penyakit termasuk kanker.
Mereka kemudian menyiapkan tiga drum air. Dua drum berisi air dari kedua
sungai itu lalu diberi enceng gondok. Sedangkan satunya berisi air
destilasi (air murni) juga diisi enceng gondok. Perkembangan tanaman air
pada ketiga drum itu diamati. Setelah satu bulan, kondisi enceng gondok
di tiga drum itu berubah. Pada air murni, daunnya lebar, hijau, dan
rimbun. Sedangkan pada dua drum lainnya, batang enceng gondok membesar,
daunnya lebih kecil, dan berwarna agak kecokelatan, serta akarnya
mengkerut.
Namun kondisi air kedua sungai menjadi lebih baik. ?Kandungan logam
berat pada air sungai berkurang hampir 65 persen,? ujar Choirudin.
Penelitian itu membuktikan enceng gondok mampu menjadi biofilter yang
menetralkan kandungan logam berat pada air.
Karena penelitian sukses, sekolah mengirimkan hasilnya untuk ikut
Olimpiade Proyek Lingkungan Internasional di Istanbul, Turki. Hasilnya
medali emas. ?Penelitian sederhana ini sangat aplikatif bagi masyarakat.
Sebuah contoh model pembelajaran yang layak ditiru,? ujar Menteri
Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo ketika menerima Choirudin dan Indra,
Selasa pekan lalu.
Memang, prestasi ini tak bisa dilepaskan dari model pembelajaran di SMA
Semesta. Sekolah yang berdiri pada 1999 ini lebih jeli meneropong minat
dan bakat siswa sejak dua tahun lalu. Sekolah mempersiapkan murid yang
mampu?memiliki IQ tinggi dan siap ikut program belajar padat?agar berani
berkompetisi. Untuk itu, sekolah mendirikan kelas olimpiade. ?Tujuannya,
siswa menjadi lebih siap belajar dan percaya diri. Soal hasil nomor
dua,? kata Kepala Sekolah SMA Semesta, Mohammad Haris.
Program sekolah ini sesuai dengan kebijakan Kurikulum Bebas Kompetensi
2004 dan 2006, yang membebaskan sekolah membuat kurikulum sendiri. SMA
Semesta pun menerapkan cara mendidik dengan mengembangkan proyek
penelitian.
Caranya, setiap proyek penelitian akan dipresentasikan di kelas, tiap
akhir semester dan berlaku di hampir semua mata pelajaran. Syaratnya,
hasil penelitian itu bersifat aplikatif dan bermanfaat bagi masyarakat.
?Tak usah muluk-muluk, misalnya bagaimana membuat mesin penetas telur
atau mengolah sampah,? kata Haris tentang beberapa hasil penelitian
muridnya.
Yang penting, ?Agar siswa peka dengan masalah sekitar dan juga mampu
memberikan solusi,? kata Mohammad Haris. Jika penelitian tentang enceng
gondok benar-benar diterapkan, mungkin keluarga Mulyono dan penduduk di
hilir Sungai Garang dan Terboyo dapat menikmati air yang lebih
berkualitas di kemudian hari.
Widiarsi Agustina dan Sohirin (Semarang)