Ada sebuah kisah yang cukup menarik,
Memberikan makna arti sebuah penghambaan diri kepada ALLAH SWT, yakinlah bahwa 
apapun yang sedang menimpa kita saat ini, selama kita masih percaya dengan-NYA, 
insyAllah DIA tidak akan menyia2kan kita.


salam,
AM 
====================================================
   
       Cerpen Islami 
 Sumber : http://www.nurulyaq in.org
 Penulis : Ust. Arsil Ibrahim MA 
 
 ALLAH MASIH SAYANG ...
 
 Hujan kian deras mengguyur bumi. Sesekali aku harus memeluk Dafa yang masih 
bayi ketika suara guruh menggedor-gedor pintu langit dengan kerasnya. Aku 
memandang sayu ke arah anak-anakku yang tertidur di atas tikar pandan. Duhai.. 
alangkah indah dan sucinya wajah mereka. Kutatapi wajah mereka satu persatu 
dengan nikmatnya. Demikiankah wajah bidadari kecil dari syurga Allah? 
 
 Sejenak aku terlupa betapa seperempat jam yang lalu ketiga bidadariku itu 
menangis karena lapar yang tidak tertahankan. Zakia yang paling besar menangis 
dengan keras sekali sambil menghentak-hentakka n kaki.
 
 "Zakia lapar, Umi. Lapaar..mana nasinya?" Sementara Yamin yang masih tiga 
tahun hanya bisa merengek-rengek panjang dengan kosa kata yang terbatas, "Umi, 
mo mamam, Umi."
 
 Kutatapi segenggam beras yang masih tersisa. Subhanallah. .teringat aku kepada 
Mas Darman, Abinya anak-anak. Tadi pagi ia berangkat tanpa sarapan apapun 
kecuali segelas air sumur yang kumasak dengan kayu api. Bagaimana kalau hari 
ini Abi tidak berhasil membawa seliter beraspun seperti kemarin. 
 
 Abi cuma kuli upahan yang membawa cangkul ke mana-mana. Syukur sekali jika ada 
truk yang menawarkan kerjaan menurunkan pasir atau mengisi tanah merah. Dari 
kerja ikut truk biasanya Abi bisa dapat uang delapan ribu rupiah. Alhamdulillah 
cukup untuk beli beras dua tiga liter. 
 
 Kemarin Abi juga hanya sarapan segelas air sumur. Kuselipkan di saku celananya 
yang lusuh uang seribu rupiah. Malam harinya Abi pulang dengan seulas senyum 
kepasrahan.
 
 "Dapat kerjaan tadi, Bi?"
 
 "Alhamdulillah, belum, Mi."
 
 "Tadi siang sempat makan, nggak?"
 
 "Umi kan  ngasih uang seribu rupiah. Abi belikan roti tujuh ratus rupiah. Nih 
sisanya masih tiga ratus."
 
 "Memang masih ada roti harga tujuh ratus?"
 
 " Ada , tapi kayaknya harga aslinya seribuan deh. Mungkin Mas Budi ngasih 
diskon ke Abi.".
 
 Abi tersenyum manis kepadaku sambil menyerahkan sisa uang tiga ratus ke 
tanganku. Laa hawla walaa quwwata illa billaah[1]. Berarti hari ini Abi cuma 
makan sepotong roti tujuh ratusan. Dan itu juga berarti besok tidak bisa beli 
beras. Kuamati sisa beras yang cuma tinggal dua genggam lagi dan tiga keping 
uang logam seratusan di telapak tanganku yang diam membisu.
 
 ********
 
 Pagi itu aku tidak tega membiarkan Abi memanggul cangkulnya dengan perut 
berisi air sumur. Kutanak beras segenggam dengan air yang agak banjir dan 
kucampur dengan beberapa sendok tepung gandum. Rasanya? Aduh..jangan tanya deh. 
Yang penting ada kalori yang mengisi badan suamiku. Kasihan..sudah dua hari 
perutnya tidak diisi apa-apa.
 
 "Umi, biar saja nasi itu buat anak-anak kita." Kata suamiku.
 
 Aku tersenyum manis kepadanya dengan meredam seluruh kesedihan dan kecemasanku 
di hari itu. 
 
 "Nggak, yang ini untuk Abi. Nanti buat anak-anak Umi siapkan pisang rebus". 
Dalam hati aku bergumam, pisang rebus dari mana? Pisang mentah yang dibawah Mas 
Darman kemarin sudah habis dimakan anak-anak. Namun setidaknya bujukanku 
berhasil. Mas Darman mau memakan sarapan nasi campur tepung gandum itu.
 
 Pagi itu aku tidak memberikan sarapan kepada anak. Kurebus saja air campur 
sedikit gula jawa yang masih tersisa. Kuberikan semuanya kepada mereka. Aku 
cuma membasahi tenggorokan dengan seteguk air. Tetapi jam sepuluh pagi 
anak-anakku yang sedang dalam masa pertumbuhan itu mulai merengek-rengek minta 
makan. Mereka bahkan secara dramatis menguji kesabaranku dengan menunjuk-nunjuk 
tukang bubur dan ketupat tahu yang lewat di depan rumah petak kami. Padahal 
tidak pernah sekalipun aku menyuapi mereka dengan makanan semewah itu. Ya Allah 
..mungkin rasa lapar yang mendesak mereka bersikap secara natural seperti itu.
 
 Kubujuk mereka dengan kepandaianku bercerita. Mereka suka mendengar ceritaku 
sehingga tersenyum-senyum gembira. Untuk beberapa saat rasa lapar dapat kami 
lupakan.. Namun setelah sholat Zuhur mereka kembali menyuarakan pesan yang 
dihembuskan dari lambung-lambung yang kosong. Kutatap segenggam beras terakhir 
yang menjadi tapal batas pertahanan terakhirku. Kumasak segenggam beras menjadi 
bubur yang sangat cair. Kububuhkan sedikit garam ke dalamnya Anak-anakku makan 
dengan lahap sekali. Nafas mereka mendengus-dengus saking lahapnya. Sayang 
mereka harus menggigit jari saat meminta tambahan. Bubur itu sudah habis. 
Kubawa panci itu kebelakang dan kusapu sisa bubur itu dengan jari-jariku. 
Kemudian akupun kembali mengisi kekosongan perut dengan air sumur yang dingin.
 
 Anak-anakku tertidur pulas. Melihat wajah mereka saat tidur merupakan salah 
satu hiburan yang mewah bagi jiwaku yang sedang kalut dan cemas. Mudah-mudahan 
Mas Darman cepat pulang dan membawa sedikit beras untuk makanan mereka.
 
 ***********
 
 Awal menikah dengan Mas Darman yang sekarang menjadi ayah anak-anakku, masalah 
ini tidak pernah terjadi. Dulu semua orang termasuk diriku sendiri heran bin 
ajaib, mengapa anak seorang tentara seperti aku kok jatuh cinta dengan Darman 
yang cuma tukang bakso. Dilihat dari tampang memang tidak ada seorangpun yang 
dapat menafikan kegantengannya. Tapi suer ..aku naksir dia bukan karena 
kegantengannya.
 
 "Melangkah ke jenjang rumah tangga itu tidak cukup hanya dengan berbekal 
cinta." Papa menegurku dengan bahasa yang klise. 
 
 "Pokoknya Mama cuma mau kamu nikah sama Gunawan yang calon dokter itu. Lain 
orang Mama tidak setuju". Mama menyebut-nyebut lagi nama Mas Gunawan. Padahal 
semua orang tahu dia sudah punya pacar. Apa belum ada yang bilang ke Mama.
 
 Berhari-hari mereka membujukku dengan berbagai cara. Akhirnya mereka meminta 
kak Mita, kakakku yang sudah menikah untuk membujukku. Hmm..Kak Mita sangat 
sayang padaku dan pasti akan senantiasa membelaku. Kesempatan itu justru akan 
kugunakan untuk balik membujuk kak Mita.
 
 "Yuli sayang..bagaimana sih ceritanya kok kamu bisa kecantol sama Mas Darman?"
 
 "Hmm..Tepatnya aku sendiri tidak tahu, kak. Tapi aku merasa terpesona dengan 
keindahan suaranya ketika mengumandangkan azan Subuh. Tentang ini Papa juga 
setuju lho sama aku".
 
 "Terus.."
 
 "Suatu hari aku memberhentikan gerobak baksonya. Aku beli semangkok bakso 
sambil mengucapkan terima kasih karena telah membangunkanku setiap Subuh."
 
 "Terus.."
 
 "Dia cuma menjawab, Ya sambil terus menundukkan pandangan. Semua pertanyaanku 
dijawabnya singkat tanpa berani menatap mataku. Melihat sikapnya yang sopan itu 
hatiku jadi berbunga-bunga. Kayaknya di situlah hatiku mulai tersangkut, kak 
Mitaku sayang."
 
 "Terus.."
 
 "Ya..sejak hari itu akupun bergerilya untuk menawan hatinya. Alhamdulillah, 
dia akhirnya mengirim sepucuk  surat kepadaku."
 
 "Tapi Ya Allah, Yuli..dia kan  cuma tukang bakso. Gerobak aja masih belum 
punya sendiri. Asal-usulnya dari Brebes juga nggak jelas." Kak Mita berdiri 
menghindari pelukanku. Panas juga kupingku mendengar kak Mita merendahkan Mas 
Darman. Nampaknya usahaku untuk menjadikan Kak Mita pendukung cintaku tidak 
berhasil.
 
 "Dia bukan cuma tukang bakso, kak. Dia tukang bakso yang soleh."
 
 "Adikku yang manis .. dengar sini baik-baik, ya. Pikirkan dulu dong 
masak-masak. Kamu yakin si Darman itu bisa membahagiakan kamu dan mencukupi 
keperluan kamu?"
 
 "Kalau membahagiakan Yes, aku yakin. Tapi kalau mencukupi keperluan, bukankah 
keperluan kita selama ini Allah yang memberi, kak?"
 
 "Yuli, menjalani kehidupan rumah tangga itu sangat sulit. Tidak bisa kita 
terus hidup hanya dengan setumpuk cinta di dada. Emangnya makanan pokok kamu 
cinta, apa?"
 
 "Cinta memang tidak bisa dimakan, kak. Yang bisa dimakan itu nasi. Tapi makan 
nasi di depan orang yang tidak kita cintai juga pasti tidak enak  kan kak."
 
 Kak Mita benar-benar tidak mengerti lagi bagaimana menghadapiku. Dia bilang 
sejak aku sering liqo'[2] pemikiranku jadi aneh dan tidak karuan. Aku bilang 
justru sekarang aku merasa bahagia karena akibat liqo' kini aku bersikap, 
berpikir dan bertindak hanya menurut kehendak Allah saja.
 
 Keluargaku menyadari kekerasan hatiku dalam masalah pilihan hidup. Mereka 
merasa tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Papa takut juga ketika kuancam 
bahwa dosa cinta kami akan Papa tanggung jika kami dihalangi menikah. Padahal, 
aku cuma nakut-nakuti doang. Tapi 'gerilyaku' berikut ancaman itu membuahkan 
hasil. Papa akhirnya setuju untuk menerima kedatangan keluarga Mas Darman ke 
rumah kami. 
 
 Mas Darman memberanikan diri ke rumah ditemani Ibunya yang baru datang dari 
kampung. Papa hanya menahan nafas melihat buah tangan yang dibawa keluarga Mas 
Darman; sekarung bawang merah dari Brebes. Sementara Mama tidak memperlihatkan 
mukanya sampai Mas Darman dan ibunya pulang.
 
 Dua bulan kemudian kami pun resmi menikah. Pernikahan kami berlangsung secara 
sederhana sekali. Mas Darman cuma bisa ngasih satu setengah juta rupiah. Maka 
setelah Ijab Kabul[3], kami cuma mengadakan doa selamat dengan mengundang 
tetangga dan keluarga terdekat saja 
 
 Seusai acara Papa mengajakku berbicara empat mata.
 
 "Yuli, sekarang kamu telah menetapkan kehidupan kamu sendiri. Berbaktilah 
kepada suamimu dengan sepenuh hati. Tanggung jawab menafkahimu kini beralih 
kepada suamimu. Papa tidak boleh terlalu mencampuri urusan keluargamu. Tapi 
nak, ini ada uang tiga puluh juta. Memang dari dulu Papa sengaja nabung untuk 
keperluan kamu setelah menikah. Gunakanlah uang ini sebaik-baiknya. "
 
 Aku terharu menyadari betapa sayangnya Papa padaku. Aku menerima uang itu 
dengan tangan bergetar. Uang dari papa itu kami gunakan untuk membeli sebuah 
rumah petak kecil di kawasan perkampungan. Sisanya dipakai Mas Darman untuk 
modal jualan bakso. 
 
 Berkat ketekunannya usaha Bakso Mas Darman cukup maju. Mulai dari berjualan 
bakso dengan gerobak dorong Mas Darman menapak selangkah demi selangkah sampai 
akhirnya mampu menyewa sebuah tempat untuk warung bakso. Kami menamakannya 
warung bakso 'Tawakal', sesuai dengan prinsip hidup Mas Darman. 
 
 Pelanggan warung bakso Tawakal bertambah hari demi hari. Disamping bakso 
Tawakal enak dan ngegres[4], Mas Darman juga sangat ramah kepada pelanggan. 
Ketika usaha bakso itulah kami dianugerahi Allah tiga orang anak-anak yang 
lucu. Rasanya sempurna sudah kebahagiaan yang kurasakan bersama Mas Darman.
 
 Namun benar kata Nabi Muhammad saw; jika Allah sayang kepada seseorang maka 
Dia akan mengujinya. Ujian yang kami terima di tengah sepoi angin kebahagiaan 
itu tidak tanggung-tanggung. Warung Bakso Tawakal dituduh telah mencampuri 
baksonya dengan daging tikus! Ya Allah .Ya Gusti. Alangkah jahatnya fitnah itu. 
Aku sendiri sempat membaca selebaran fitnah itu yang katanya juga disebarkan 
melalui milis internet. Di situ tertulis pengalaman seorang bekas pelanggan 
bakso Tawakal yang mengaku melihat sendiri kepala-kepala tikus saat kebetulan 
numpang pipis ke belakang. MasyaAllah! Keji betul fitnah itu. Mana mungkin Mas 
Darman yang setiap pagi azan Subuh di masjid mencampuri daging baksonya dengan 
daging tikus! 
 
 Dampak fitnah yang keji itu sungguh luar biasa. Warung Bakso Tawakal yang 
tadinya bisa menjual minimal tiga puluh mangkok sehari turun drastis. Untuk 
dapat lima  mangkok sehari saja susahnya bukan main. Sampai akhirnya Mas Darman 
mengover kreditkan sewa warung ke orang lain. Usaha warung bakso kami resmi 
gulung tikar.
 
 Seperti biasanya Mas Darman tetap senyum dan optimistis. Sisa uang yang ada 
dibelikan gerobak dan mulailah ia kembali mendorong baksonya keliling kampung. 
 Sayang ternyata citra buruk itu tidak hanya melekat ke warung bakso Tawakal 
yang sekarang sudah 'almarhum'. Bagaikan bayang-bayang badan, fitnah itu tetap 
menyertai Mas Darman ke manapun ia pergi. Alih-alih mendapat untung, gerobak 
bakso yang didorong Mas Darman keliling kampung malah menjadikan mulut orang 
gatal. Fitnah itu kian kuat tersebar. Bahkan pernah ada seseorang yang dulunya 
penggemar Bakso Mas Darman meludah jijik di depan gerobak. Saat itulah hati Mas 
Darman benar-benar pedih. Hari itu juga ia memutuskan untuk berhenti jualan 
bakso dan menjual gerobak dorongnya ke orang lain.
 
 Mulailah kami menghitung hari dengan sisa uang yang ada. Keran pengeluaran 
kuperketat habis-habisan. Pengeluaran hanya untuk makan dan tidak ada 
pengeluaran untuk yang lain. Meskipun tetap mengumbar senyum manisnya kepadaku, 
Mas Darman sering juga tertekan memikirkan pekerjaan apa yang dapat 
dilakukannya untuk tetap menghidupkan dapur keluarga. Aku sering menemaninya 
berdiskusi tentang mata pencaharian baru.
 
 "Pekerjaan yang Abi tahu dari dulu Cuma jualan bakso, Umi."
 
 "Abi kan  bisa jualan lain, seperti gorengan misalnya, atau ketoprak?", kataku.
 
 "Umi benar. Tetapi untuk jualan makanan rasanya masyarakat sudah tidak bisa 
lagi mempercayai Abi. Biarlah Abi coba cara lain."
 
 "Cara lain seperti apa?", tanyaku.
 
 "Begini, dulu di Brebes Abi sering bantuin petani bawang merah di kebun. Jadi 
Abi cobalah membawa cangkul kita ini untuk mencari nafkah. Kebetulan di ujung 
jalan depan suka ada truk yang berhenti mencari kuli cangkul."
 
 "Kuli cangkul? Apa nggak ada pekerjaan lain, Abi?"
 
 "Ya, buat saat ini rasanya hanya itu yang rasional. Persediaan beras kita juga 
sudah semakin tipis, kan ?"
 
 Ucapan Mas Darman bahwa sewaktu di Brebes dia biasa nyangkul, tidak sepenuhnya 
bisa kupercaya. Setahuku dia itu anak sekolahan yang drop out karena kekurangan 
biaya dan akhirnya memberanikan diri merantau ke  Jakarta . Aku tidak yakin 
badannya tahan dipakai untuk nyangkul.
 
 Ternyata kecurigaanku benar. Sore harinya Mas Darman pulang dengan badan 
keletihan dan telapak tangan mengelupas. Aku hanya bisa menangis sambil 
memijiti tubuhnya dan melumuri tangannya yang melepuh dengan tumbukan daun 
keladi dicampur putih telur.
 
 Dalam kepedihan itu, Mas Darman masih mengajakku untuk beryukur kepada Allah. 
Memang Allah telah menebarkan dalam dirinya kekayaan hati. Justru ketabahan dan 
kepasrahan Mas Darman sering menjadikan tangisku berhenti. 
 
 *******
 
 "Umi, mana makannya. Zakia lapar.". Suara Zakia tidak lagi sekeras tadi. 
Matanya yang kuyu memandangiku dengan setengah keyakinan. Justru adik-adiknya 
yang kini malah menangis tak henti-hentinya. Yamin kelaparan dan Dafa menangis 
karena tidak mendapatkan apa-apa pada puting susuku. Kugagahkan langkah menuju 
dapur. Tidak ada apa-apa lagi di  sana kecuali beberapa sendok tepung gandum. 
Kutatapi gandum putih yang saat ini nilainya sama dengan nyawa anak-anakku. Ya 
Allah.. berat benar bahasa cinta-Mu kepada kami. Jadikanlah kami orang-orang 
yang memahami embun-embun cinta yang Kau nyatakan dalam bahasa lapar ini.
 
 Sebenarnya tiga sendok gandum itu kusediakan untuk Mas Darman. Entah mengapa 
aku tidak yakin hari ini ia berhasil dapat kerjaan. Tapi keluhan anak-anakku 
benar-benar hampir memutuskan tali jantungku. Maka kurebuslah tiga sendok 
gandum itu dengan air sumur dan sedikit garam dapur.
 
 Hanya bubur gandum yang cair itu saja yang dapat kuhidangkan untuk mereka. 
Tanganku menyuapi mereka dengan setengah gemetar menahan lapar. Mulut mereka 
menerimanya dengan lemah dan mata yang kuyu. Belum sampai ke suapan terakhir 
ketiga-tiganya telah berbaring keletihan dan tertidur.
 
 Kuseret langkah ke kamar mandi. Kubasahi wajah dengan air wudhuk. Aku tidak 
sabar untuk merintihkan semua luka ini kepada Yang Maha Pencipta. Akupun 
terbenam khusyuk dalam sujud-sujud yang panjang. Setelah salam, kuangkat tangan 
tinggi-tinggi dan kurintihkan sederet doa agar Allah segera meringankan kami 
sekeluarga dari penderitaan ini. Semoga doaku tidak terhalang oleh bunyi hujan 
yang masih turun dengan derasnya. Keletihan membuat badanku terkulai dan 
tertidur di atas sajadah.
 
 *********
 
 Aku tersentak bangun. Rupanya hujan sudah lama berhenti. Kutatapi jarum jam 
tua yang hampir mendekati angka sebelas. Mengapa Mas Darman belum pulang juga? 
Hatiku bertambah risau dan cemas. Apa yang menimpanya hari ini? Oh.. ya Allah 
aku jadi sangat merinduinya. Detik-detik terasa kian menyiksa dalam menanti 
kepulangannya.
 
 Alhamdulillah tidak berapa lama kemudian kudengar suaranya mengetuk pintu.
 
 "Umi, Umi..buka pintu sayang." Akupun bergegas membuka pintu. Mas Darman 
berdiri di pintu dengan senyuman yang manis. Hah.. Subhanallah ada bau masakan 
yang sangat menggoda perut laparku dalam bungkusan yang dibawanya.
 
 "Nah Umi pasti belum makan, kan ? Ayo sekalian bangunkan anak-anak. Ini Abi 
bawakan dua bungkus sate  padang dan dua bungkus serabi manis. Pas seperti 
Manna dan Salwa[5] hidangan Allah untuk mereka yang soleh."
 
 "Subhanallah, dari mana Abi dapat uang membelinya?"
 
 "Makan dulu sayangku. Nanti Abi ceritakan. InsyaAllah yang ini Halalan 
Toyyiban[6]. "
 
 Maka anak-anakpun aku bangunkan. Mereka juga rindu dengan Abinya. Mas Darman 
memeluk mereka dalam canda yang ceria. Setiap pulang Mas Darman membawa 
kebahagiaan dalam hati anak-anak kami. Kami pun menikmati makanan itu dengan 
lahapnya. Aku bahagia sekali melihat mata anak-anakku berbinar-binar menikmati 
kue serabi yang manis.
 
 "Enak ya, Umi. Terima kasih ya Abi sudah belikan Zakia serabi." Zakia 
berbicara dengan mulut penuh dengan makanan.
 
 "Ya sayang. Zakia harus rajin berdoa ya agar Allah terus menerus memberi kita 
rezeki seperti ini."
 
 "Baik Abi. Umi juga sudah ngajarin Zakia cara berdoanya."
 
 ************ *
 
 Malam itu aku berbaring di atas lengan Mas Darman. Kucubiti perutnya supaya 
dia menceritakan kepadaku asal usul makanan itu. Sebab dari tadi dia cuma 
bilang dari Allah..dari Allah.
 
 "Tentu saja semuanya dari Allah, Abi. Tapi tentu ada sebabnya?" kataku.
 
 "Ya, ya..baik ndoro puteri. Begini ceritanya ..Dari pagi tadi Abi sudah 
setengah putus asa menunggu truk-truk pasir itu.  Ada beberapa yang lewat tapi 
tidak mau mengambil Abi. Alasannya sekarang mereka sudah punya pekerja tetap di 
pool pasir. Akhirnya menjelang sore Abi bawa kaki melangkah ke mana saja ia 
ingin melangkah. Menjelang sholat Ashar Abi menyahut panggilan azan dari sebuah 
masjid dalam kompleks perumahan. Abi kenyangkan perut dengan air keran supaya 
jangan ingat makanan ketika sholat. Duh..segar benar rasanya. Kemudian Abi pun 
ikut sholat berjamaah. Setelah sholat ada seorang jamaah masjid yang bertanya. 
 
 "Mas bawa-bawa cangkul mau kemana?"
 
 "Saya mau cari kerjaan, Pak. Apa saja."
 
 "Bisa membersihkan dan merapikan taman?"
 
 "InsyaAllah bisa, Pak."
 
 Maka Abipun ikut bapak itu ke rumahnya untuk membersihkan taman. Menjelang 
Maghrib pekerjaan itu selesai. Bapak itu memberikan uang cukup banyak, Mi. Lima 
puluh ribu! Nah, sebelum pergi, Abi melihat bapak itu meringis memegangi 
punggungnya. Rupanya bapak itu mengalami sakit punggung. Abi tawarkan kepadanya 
untuk diurut."
 
 "Memangnya Abi bisa ngurut?" Aku menyela dengan sebuah pertanyaan.
 
 "Ya itulah salah satu kemahiran Abi yang agak ajaib. Sebenarnya Abi tidak 
pernah belajar mengurut. Tapi Ibu bilang urutan Abi enak dan menyehatkan. Maka 
banyak juga dikampung orang yang minta diurut sama Abi. Nah, Umi rupanya urutan 
Abi juga mengena ke urat bapak ini. Dia merasa enak dan lega setelah diurut 
sama Abi. Umi tahu apa yang terjadi? Subhanallah, dia mengeluarkan lagi uang  
lima puluh ribu!"
 
 Aku memandang mata Mas Darman dengan penuh haru. Kulihat ada secercah harapan 
pada bola matanya. Kami berdua berpelukan bahagia sambil terus menggumamkan 
pujian kepada Allah. 
 
 "Ya Allah betapa besar syukur kami kepadaMu. Engkau bawa kami ke puncak 
cobaan, agar dapat lebih mensyukuri sedikit rezki yang Engkau teteskan hari 
ini. Kami sangat memahami ya Allah, bahwa Engkau masih tetap sayang kepada 
kami." 
 
 Semoga rintihan doa kami berdua dapat terus mi'raj menembus langit menuju 
pangkuan Ilahi, dan tidak lagi terbenam dalam deru hujan yang kembali turun 
dengan derasnya.
 
 Cikarang, 25 Juli 2007.
 
 Sebait cinta untuk isteriku.
 
 ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
 
 [1] Artinya: Tiada daya dan upaya melainkan dengan kekuatan Allah.
 
 [2] Liqo' : pengajian agama. (mama sering mengejekku dan menyebutnya wingko.)
 
 [3] Ijab Kabul: Sebuah prosesi dalam pernikahan Islam di mana pengantin pria 
mendengar keputusan orang tua untuk menikahkan anak perempuannya dan kemudian 
pengantin pria menyatakan kesediaan (penerimaannya) atas nikah tersebut dengan 
mas kawin tertentu.
 
 [4] Ngegres: bahasa remaja Jakarta , artinya sedap dan enak dikunyah.
 
 [5] Manna dan Salwa: hidangan Allah yang diturunkan kepada umat Nabi Musa. 
Salah satunya asin dan yang lainnya manis.
 
 [6] Halalalan Toyyiban: Halal dan baik.
   
  
  
  













       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke