Dear All,
   
  Bahasannya cukup menarik Irfan. Ini baru anak MOSA..:). Pantasnya Irfan ini 
dipanggil Abu Samalanga..:). Saya nggak begitu paham dengan dunia perminyakan. 
Hanya kalau saya melihat kebocoran dana yang cuman beberapa juta dollar itu 
tidak sebanding dengan kerugian memberi konsesi pengelolaan minyak ke 
perusahaan asing. Tentu pendapat ini masih tetap bisa diperdebatkan mengingat 
saya sendiri tidak tahu sejauh mana tingkat effesiensi perusahaan minyak lokal 
dalam mengelola usaha. Saya juga tidak tahu system bagi hasil antara perusahaan 
asing dengan pemerintah kita. 
  Kesimpulan saya lebih merujuk pada kesuksesan sejumlah negara penghasil 
minyak yang berhasil meningkatkan perekonomiannya secara signifikan setelah 
mereka melakukan renogosiasi atau bahkan menasionalilasi perusahaan minyak yang 
beroperasi dinegaranya. Contoh yang paling bagus untuk hal ini tentu Rusia dan 
Venezuella. 
  Rusia yang hampir bangkrut tahun di tahun 1998, setelah dihantam krisis 
keuangan yg lebih buruk dari Indonesia, bisa kembali bangkit sebagai kekuatan 
ekonomi & politik dunia setelah tycoon minyak rusia, Mikhail Khodorkovsky, 
ditangkap dan Gaspron (perusahaan minyak milik negara) menguasai industri 
minyak Rusia. Mata uang Rubbel pun saat ini kembali menjadi mata uang kuat 
dunia. Venezuella juga bisa menjadi kekuatan ekonomi Amerika Latin dan membuat 
USA sakit gigi setelah Chavez menasionalisasi industri minyak. Ini tentu bisa 
jadi perhitungan kita dalam melihat keberadaan perusahaan asing dalam mengelola 
minyak Indonesia.
  Tentu ini bukan berarti kita ingin mengusir perusahaan asing. Karena tidak 
selamanya memberi monopoli ke perusahaan nasional akan meningkatkan 
kesejahteraan. Pengalaman Mexico bisa jadi cerminan bagi kita. Mexico yang 
selalu bangga sebagai negara yang pertama-tama melakukan nasionalisasi industri 
minya sekarang malah dihantui krisis minya. Hal ini terjaddi karena perusahaan 
negara yang dipercaya untuk mengelola minyak nasional tidak beroperasi secara 
baik. Explorasi untuk mencari sumber minyak baru tidak dilakukan secara intense 
dan korrupsi merajalela sehingga membawa pada ekonomi biaya tinggi. 
  Namun demikian sedikit melakukan bargaining dalam melakukan negosiasi bagi 
hasil dengan perusahaan asing tersebut sangat dibutuhkan. Contoh bagus dalam 
hal ini adalah khazakstan. Setelah melakukan complain atas kemungkinan terjadi 
pencemaran minyak dan menekan perusahaan minyak asing yang mengelola minyak di 
negaranya, mereka bisa memperolah bagi hasil yang lebih baik. Kalau saya tidak 
salah, kepemilikannya atas ladang minyak yg dikelola meningkat sampai 11%.
  Lembaga/ perusahaan pengelola minyak negara jelas perlu dibenahi. Namun 
demikian pemberian kuasa atas pengelolaan minyak dan sumber daya alam lainnya 
di Indonesia oleh perusahaan asing juga perlu dikaji ulang. Wallahu'alam...!
   
   
  Tabeq
   
  Fatur
  

Irfan Samalanga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              
Dear Bung Hekal,

Betul sekali seperti yang tertulis di dlm artikel,
memang banyak penghasilan dari migas yang terkuras untuk hal2 yang kurang 
penting seperti main golf, jalan2, makan2, dsb.
akan tetapi perlu dilihat juga bahwa yang main golf, jalan2, makan2 adalah org2 
yang menjadi regulator migas di indonesia (BP MIGAS) istilahnya kaum bos2 
pemerintah juga.
bukan cuma itu banyak hal2 yg enggak penting lain yang menjadikan pendapatan 
migas indonesia terkuras

kuncinya ada di BP MIGAS, 
buat informasi bagi teman2 yang baru dengar BP MIGAS:
BP MIGAS adalah badan pemerintah yang mengatur masalah keuangan pemasukan dan 
pengeluaran negara dari hasil migas, badan ini bertanggung jawab langsung ke 
presiden, badan ini dibentuk sejak tahun 2001 pada masa megawati.

sebenarnya banyak pihak yang menginginkan supaya badan tersebut dibubarkan saja 
karena pendapatan negara hasil migas banyak terkuras buat mereka, apakah itu 
jln2, makan2, main golf, ibarat kata mereka menjadi bos of the bos perminyakan 
di indonesia karena mereka yang pegang uang, perusahaan2 minyak yg beroperasi 
di indonesia tunduk di bawah BP MIGAS apa kata mereka itu yang harus 
dikerjakan..

akan tetapi karena BP MIGAS dibentuk oleh presiden berdasarkan Kepres maka yang 
bisa membubarkannya adalah presiden juga dengan Kepres..banyak pihak yg telah 
membisiki SBY supaya dibubarkan tapi..ya...mungkin bisikan dari BP MIGAS lebih 
kuat akhirnya presiden merasa BP MIGAS tetap harus ada..

kebocoran paling banyak di BP MIGAS..badan pemerintah sendiri..ini yg harus 
dibenah.

btw..pembahasannya berat juuugaaa kall..


Warm Regrads,

Irfan Samalanga


  ----- Original Message ----
From: Haekal Teuku <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, June 13, 2008 4:12:14 PM
Subject: [smu mosa] Claims include Pinocchio DVD, golf clubs, dance class, 
charities

    
  ini ada yang ringan dan menarik pan,
  tentang cost recovery yang selama ini menggerogoti uang rakyat.
  salah satu penyebab naiknya harga BBM, padahal "katanya" indonesia negara 
penghasil minyak.
   
  semoga artikel berikut bermanfaat:
   
    Claims include Pinocchio DVD, golf clubs, dance class, charities  Wed, 
06/11/2008 10:37 AM  |  Business 
   
  It's hard to directly relate oil and gas operations to a DVD of Pinocchio, 
the wooden puppet whose nose grew longer every time he told a lie. 
  But the DVD, along with other expenses for wine, parties, golf clubs, dancing 
courses, charities and even Islamic haj pilgrimages to Saudi Arabia are among 
the costs oil and gas contractors submitted for government rebates in 2005. 
   
  In an audit of the 2005 accounts of several oil and gas concessions belonging 
to Total E&P Indonesie, ExxonMobil Oil Indonesia Inc. and Chevron Indonesia, 
the Supreme Audit Agency (BPK) found around US$16 million in questionable 
claims. 
  The claims were all related to community development, training and education, 
sports and recreational activities and sponsorships. 
  "There are numerous items which should be excluded from the cost recovery 
provision. For example, costs for community development. The firms seem to be 
generous but at the end of the day they pass on the bill to the government," 
said BPK senior auditor Widodo H. Mumpuni. 
   
  In the audit of Total's Mahakam Block operation in Kalimantan, the BPK found 
some $2.62 million and Rp 9.46 billion ($1.02 million) in spending related to 
community development, training and recreation. 
   
  Aside from the Pinocchio DVD, Total filed cost recovery claims for a water 
skiing boat engine, diving, recreation, French film festival sponsorship, HIV 
campaign, dancing teachers and farewell parties. 
  Total spokeswoman Judith J. Navarro-Dipodiputro refused to comment on the 
findings, saying BPMigas was more authorized to respond. 
   
  In the BPK audit report, the firm said the expenses were aimed at employee 
development under its "macro strategy" to improve worker and family welfare.  
The company also said BPMigas had approved some of the spending. 
  "Although the amount is small compared to the billions of dollars the oil and 
gas contractors contribute to the state, there is an issue of appropriateness 
here," said analyst Firdaus Ilyas of Indonesian Corruption Watch (ICW). 
  "For the contractors, costs for the luxuries are just peanuts. But for 
millions of poor Indonesians they mean a lot. Such claims have reduced the 
government share of the oil proceeds, which could be used for building 
schools," he said. 
   
  In its audit, the BPK also found some $217,587 of questionable expenses 
claimed by ExxonMobil's B Block, NSO Block and Pase Block for community 
development, which included funds for workers to play golf, bowling and 
farewell parties. 
   
  ExxonMobil spokeswoman Deva Rachman didn't reply to The Jakarta Post's 
written requests for clarification. However, the company said in the BPK report 
that BPMigas had approved such costs.  Other BPK findings include claims for 
charitable expenses. 
   
  Chevron's operation in East Kalimantan, for example, obtained a rebate for 
$19,650 in charities for the tsunami disaster in Aceh and Nias in 2005, saying 
such claims were possible under its work contract with the government. 
  "Most of the companies brought their flags to Aceh to give away to charities. 
They made their name known, but later they asked the government to pay them 
back. So they were not contributing at all," said Widodo. 
   
  The charities were part of Chevron's $9.55 million in expenses that the BPK 
categorized as nonrecoverable as they were spent for activities not directly 
related to operations, such as for sports, training for expatriate workers and 
accounting services. 
  However, Chevron agreed to exclude from the claims only $492,430 for the 
accounting expense and $44,780 for the training. 
   
  The BPK also highlighted problems of open clauses in the contracts and in the 
regulations for benefit packages and working requirements for expatriates. 
  In 2005, Chevron spent some $1.22 million on expatriates who were no longer 
involved in its Indonesian operations, according to the BPK report. 
  Some expenses were even allocated for workers who never worked here, it said. 
   
  Not until the BPK found such irregularities did Chevron agree to exclude them 
from its cost recovery claims. 
  "If the BPK had not spotted the irregularities, the companies might have 
walked away free," said Widodo. 
  In its written statement to the Post, Chevron said it was subject to the U.S. 
Foreign Corrupt Practices Act, which functions as its internal control. 
   
  In response to all the findings, BPMigas deputy chairman Abdul Muin said the 
BPK should not make a big deal of such spending as the contributions of the oil 
firms to the state were far bigger. 
  "For some cases, I agree the expenses are not appropriate. But the BPK should 
not focus on these kinds of things, which are of course, very unpopular among 
the public. They should go for the big one instead," he said, adding that it 
was not in the interests of big oil and gas contractors to abuse the cost 
recovery mechanism. 
  Chevron also said the "issue should not be looked at in a piecemeal fashion". 
   
  Chevron said it had numerous community development initiatives that were 
funded by its parent company, Chevron Corporation, such as for environmental 
and education programs. 
  Following the 2004 tsunami, for example, Chevron provided assistance through 
the Chevron Aceh Recovery Initiative for the rehabilitation of Nanggroe Aceh 
Darussalam and Nias Island, where funding of $14.7 million was exclusively 
provided by Chevron Corporation, thus not from the government's cost recovery 
fund. 
   
  -- JP/Rendi Akhmad Witular, with additional reporting from Ika Krismantari

     
   
   
  Regards,
   
  Teuku Ahmad HAEKAL
  Mosa Gen 5

   

      
---------------------------------
  From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:smu_ [EMAIL PROTECTED] .com] On Behalf 
Of Irfan Samalanga
Sent: Friday, June 13, 2008 3:47 PM
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: Re: [smu mosa] FW: Di Mana Habib Rizieq dan Abdurrahman Wahid Sebelum 
Kasus Monas


  
    
    
Prends...
pembahasannya jangan brt2 lah..
yang ringan2 ajah..


Warm regrds,

Irfan Samalanga
MOSA Let.5

  ----- Original Message ----
From: Abrar Yusra <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Friday, June 13, 2008 1:33:06 PM
Subject: Re: [smu mosa] FW: Di Mana Habib Rizieq dan Abdurrahman Wahid Sebelum 
Kasus Monas

    
    satu hal yang mungkin kita lupa..
  islam tidak mengajarkan untuk main hakim sendiri..
  semua harus ijin dari pemerintah..
  kalo hukum yang dijalankan pemerintah tidak memperbolehkan. .
  cara kita ya dengan memberikan contoh baik dan nasehat2..
   
  AY Pagan
  angkatan 5


  ----- Original Message ----
From: muka serem <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Thursday, June 12, 2008 8:49:33 PM
Subject: Re: [smu mosa] FW: Di Mana Habib Rizieq dan Abdurrahman Wahid Sebelum 
Kasus Monas

    
  yang pasti, islam adalh agama yang penuh kasih sayang. tapi juga tegas dalam 
menghadapi kemungkaran. apa yang dilakukan FPI yang terkesan identik dengan 
kekerasan tidak lah seperti yang terlihat. seringkali perbuatan tersebut 
terjadi karena efek keridakpedulian, ketidakbecusan, ketidak mampuan aparat 
penegak hukum untuk bertindak mencegah perbuatan-perbuatan maksiat yang jelas2 
melanggar hukum. Karena biasanya FPI berbuat begitu setelah sebelumnya mereka 
mengingatkan aparat untuk bertindak. ketika itu tidak diindahkan maka 
seringkali terjadi seperti yang sering kita lihat.
  gak usah bingung harus ikut ajaran islam yang mana. karena islam cuma satu 
yang berdasarkan Quran dan hadist. kalau ada yang berselisih faham tentangnya 
maka kembali aja kepadanya, karena Quran tidak mungkin bertentangan (4:82).
   
  herdian
  leting 3 mosa

Denny Zulfikar <dennyzulfikar@ yahoo.com> wrote:
      jika demikian, ajaran islam manakah yang haq yang seharusnya kita ta'ati?

--- On Thu, 6/12/08, Haekal Teuku <Teuku.Haekal@ geoservices. com> wrote:
From: Haekal Teuku <Teuku.Haekal@ geoservices. com>
Subject: [smu mosa] FW: Di Mana Habib Rizieq dan Abdurrahman Wahid Sebelum 
Kasus Monas
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Date: Thursday, June 12, 2008, 1:39 PM

Di 
Mana Habib Rizieq dan Abdurrahman Wahid Sebelum Kasus 
Monas 
Minggu, 8 Jun 08 20:01 WIB 
Kirim 
teman 
Apa 
yang dilakukan Habib Rizieq dan Abdurrahman Wahid beberapa hari sebelum 
pecahnya 
bentrokkan di Monas, Ahad, 1 Juni 2008, bisa dijadikan cerminan siapa yang 
berjuang membela agama Allah SWT ini dan mana yang malah berada di sisi musuh 
Allah SWT? Inilah faktanya: 
Habib 
Muhammad Rizieq Syihab 
Sejak 
pertengahan Mei 2008, Habib Rizieq memiliki kesibukan tersendiri dengan 
pengacara Indra Sahnun Lubis, SH, sahabatnya. Keduanya bukan tengah mengurus 
masalah hukum, namun tengah mempersiapkan seorang selebritis yang mau kembali 
ke 
Islam. 
Kepada 
sang artis, Habib berkali-kali menanyakan apakah dirinya memang sungguh-sungguh 
ingin kembali ke Islam, bukan dengan paksaan atau ada motivasi lain selain 
hidayah dari Alah SWT. Sang artis, bernama Steve Emmnauel, berkali-kali pula 
menyatakan keseriusannya dan menegaskan jika keinginannya itu keluar dari hati 
nuraninya sendiri. Bukan paksaan siapa pun. 
Akhirnya, 
pada hari Sabtu, 24 Mei 2008, didampingi oleh Pengacara Indra Sahnun Lubis, 
Steve Emmanuel mengucapkan dua kalimah syahadat di depan Habib Rizieq, puluhan 
anggota FPI, dan para wartawan. Setelah bersyahadat, Steve memilih nama baru 
“Yusuf Iman”. Menurutnya, nama tersebut dipilih Steve alias Yusuf Iman karena 
terinspirasi oleh Cat Steven, seorang penyanyi ternama Inggris yang kembali ke 
Islam dan mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. 
"Alhamdulillah, 
saya senang, bahagia, merasa excited. Sebentar lagi mau bulan puasa, 
mungkin ini jadi awal yang baik untuk saya, " ujar Yusuf Iman usai resmi 
mengucap dua kalimah syahadat. Kini Yusuf Iman mengisi hari demi hari dengan 
mendalami Islam bersama seorang Ustadz yang ditunjuk untuk 
membinanya. 
Abdurrahman 
Wahid 
Awal 
Mei 2008, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika serikat memenuhi undangan Simon 
Wiesenthal Center (SWC), sebuah LSM Zionis garda terdepan di AS. SWC akan 
menganugerahkan Medal of Valor, Medali Keberanian, buat Durahman yang dianggap 
sangat berani membela kepentingan Zionis di sebuah negeri mayoritas Muslim 
terbesar dunia bernama Indonesia . 
Dalam 
konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta , sebelum 
keberangkatannya, Durahman menyatakan bahwa kepergiannya ke AS selain untuk 
menerima penghargaan tersebut juga akan merayakan seklaigus mengucapkan selamat 
atas kemerdekaan negara Israel ke-60. Durahman bukannya tidak 
tahu jika kemerdekaan Israel merupakan awal dimulainya teror, pembunuhan, 
pemerkosaan, pengusiran yang dilakukan teroris Zionis Yahudi terhadap ratusan 
ribu hingga jutaan warga Palestina yang sampai detik ini masih jutaan jumlahnya 
yang menjadi pengungsi di negeri-negeri sekitar tanah airnya. Tapi 
Durahman telah memilih posisi sebagai sekutu Zionis-Israel, bukan 
Palestina. 
Acara 
penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam 
istimewa 
yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis 
Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire 
Blvd., 
Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los 
Angeles. 
Sebagai 
tuan rumah adalah Rabbi Mervin Hier (Pendiri SWC dan Rabbi paling berpengaruh 
di 
AS 2007-2008), yang dengan tangannya sendiri mengalungkan medali tersebut ke 
leher Durahman. Durahman sendiri, sambil terus duduk di kursi rodanya, 
tersenyum 
dan mencium dengan penuh takzim medali tersebut. Inilah seorang manusia yang 
bernama Abdurrahman Wahid, tokoh sentral dalam AKKBB. 
Sudah 
sedemikian jelas sekarang, siapa yang memperjuangkan Islam dan siapa yang 
memilih bersekutu dengan musuh-musuh Allah SWT. Masihkan Anda ragu mengambil 
posisi dalam perjuangan ini? (rz) 


For your security, this message has been scanned for all viruses when leaving 
Geoservices network.

This service does not scan any password protected or encrypted attachments.

This e-mail message and its attachments may contain privileged or confidential 
information 

and is intended only for the use of the individual or entity to which it is 
addressed. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that 
any use, dissemination or copying of this e-mail, its attachments or of any 
information contained therein is strictly prohibited. If you have received this 
e-mail by mistake, please delete it immediately from your system without 
keeping any copy thereof. Thank you.














  ____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 









  


____________ _________ _________ _________ _________ _________ _____
For your security, this message has been scanned for all viruses before arrival 
in Geoservices network.
This service does not scan any password protected or encrypted attachments.

For your security, this message has been scanned for all viruses when leaving 
Geoservices network.
This service does not scan any password protected or encrypted attachments.

This e-mail message and its attachments may contain privileged or confidential 
information 
and is intended only for the use of the individual or entity to which it is 
addressed. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that 
any use, dissemination or copying of this e-mail, its attachments or of any 
information contained therein is strictly prohibited. If you have received this 
e-mail by mistake, please delete it immediately from your system without 
keeping any copy thereof. Thank you.





  

                           

       

Kirim email ke