Yang memforward tulisan ini kayaknya orang yang saya kenal saat yang 
bersangkutan masih kecil. Yang saya tahu beliau dulu pintar menggambar. Tidak 
disangka setelah beranjak dewasa suka membaca karya satra yang cukup menyentuh 
hati nurani. 
  Punya bakat seni, minat membaca karya sastra dan kuliah dibidang arsitektur 
(?). Kombinasi yang unik.

   
  Salut,
  Faur
  
rahmat sidik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              

[forward][Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"]

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk 
maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan 
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia 
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. 

  ----------
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi 
hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap 
ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. 

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di 
sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci 
ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di 
depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri 
uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah 
tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau 
begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu 
tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku 
yang melakukannya!" 

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu 
marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. 
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu 
sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan 
kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu 
pencuri tidak tahu malu!" 

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan 
luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam 
itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan 
tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya 
sudah terjadi." 

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk 
maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan 
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia 
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. 

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA 
di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah 
universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok 
tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak 
kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu 
mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana 
mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" 

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya 
tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah 
mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai 
jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di 
jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. 
Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, 
dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak 
ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, 
telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. 

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah 
dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. 
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas 
bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari 
kerja dan mengirimu uang." 

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air 
mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 
20. 

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku 
hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku 
akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang 
belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada 
seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" 

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat 
adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku 
menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah 
adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan 
mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan 
menertawakanmu?" 

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari 
adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli 
omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku 
bagaimana pun penampilanmu..." 

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia 
memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota 
memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat 
menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan 
menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. 

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah 
diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari 
seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu 
banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, 
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu 
melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru 
itu.." 

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus 
jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut 
lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, 
ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku 
setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat 
itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir 
deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. 

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang 
orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah 
mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus 
mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu 
aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." 

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan 
pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak 
tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. 

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika 
ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi 
menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu 
menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang 
berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa 
kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?" 

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan 
kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. 
Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan 
dikirimkan?" 

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang 
sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa 
membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 
dan aku 29. 

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun 
itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, 
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, 
"Kakakku." 

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat 
kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. 
Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan 
pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku 
memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan 
sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca 
yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, 
saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik 
kepadanya." 

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya 
kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, 
orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang 
paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran 
turun dari wajahku seperti sungai. 

[Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"]


  

                           

       

Kirim email ke