Artikel yang menarik Bung Azman...

--- On Sun, 6/29/08, Azman Muammar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Azman Muammar <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [smu mosa] [OOT] apa itu NAMRU
To: [email protected]
Date: Sunday, June 29, 2008, 12:10 PM






Bacaan dari http://www.suara- islam.com di bawah ini mengupas
kaitan NAMRU dengan keislaman dan nasionalisme.
Apa kitannya dengan pembajakan? Itu masih rahasia, sehingga OOT :-)

Maaf buat yang pernah baca.
Rus

dr Jose Rizal Jurnalis: “Kita dikadalin!”

Tiga puluh tahun lebih NAMRU bekerja di Indonesia. Sepanjang waktu itu
tak ada yang mempersoalkannya. Padahal telah banyak 'kekayaan'
Indonesia yang disedot lembaga penelitian militer Amerika Serikat itu.
Tentu banyak pula rahasia Indonesia yang terbongkar melalui kajian dan
penelitiannya.

Sayangnya tidak banyak orang yang tahu bahwa NAMRU sangat berbahaya
bagi keamanan Indonesia. Selama ini orang-orang Amerika dengan cover
diplomatik yang disandangnya bisa dengan leluasa membawa keluar masuk
berbagai spesimen virus, bakteri, protozoa dan sejenisnya dari dan ke
Indonesia. Mereka mengambil banyak manfaat. Sementara Indonesia, hanya
jadi ajang keculasan mereka.

Sejauh mana bahaya aktivitas NAMRU bagi Indonesia, wartawan Suara
Islam, Mujiyanto, mewawancarai Joserizal Jurnalis, seorang dokter
sekaligus aktivis yang aktif bergerak di medan pertempuran. Berikut
petikannya.

Apa sih itu NAMRU?

NAMRU itu kepanjangan Naval Medical Research Unit. Itu adalah sebuah
lembaga riset di bawah Departemen Pertahanan, Amerika Serikat.
Pengelolanya adalah Angkatan Laut AS. Mereka melakukan penelitian
tentang penyakit-penyakit menular. Jadi agak aneh fokusnya. Angkatan
laut, militer, tapi interest terhadap penyakit-penyakit menular. Kalau
kita lihat sepertinya mereka itu membajak WHO. Mereka juga meminta
spesimen-spesimen yang ada di WHO. Lucunya lagi, mereka minta
kekebalan diplomatik. Nah, apa urusannya dengan peneliti? Berarti kan
ini suatu fasilitas yang mereka inginkan untuk membawa masuk dan
keluar segala sesuatu ke negara ini. Yang namanya bag (tas dan bagasi.
red.) diplomatik kan tidak boleh diutak-atik.

Apa kepentingan Indonesia sehingga NAMRU ada di sini?

Jadi memang tidak dipungkiri, mereka membantu itu ada. Tidak mungkin
suatu lembaga tidak memberikan suatu kontribusi positif. Tapi
persoalannya, apakah kontribusi positif ini hanya sebagai cover dari
kegiatan yang sebenarnya. Ini yang jadi masalah. Kalau saya baca Dino
Pati Djalal di koran bilang NAMRU bermanfaat bagi rakyat Indonesia,
manfaat pasti ada. Tentu masalahnya, kita harus bertanya. Lembaga
riset militer di bawah Dephan, lalu bisa mengakses WHO, lalu minta
kekebalan diplomatik, ini apa-apaan? Jadi ada sesuatu yang mereka
kerjakan, yang orang lain tidak boleh tahu. Maka semuanya harus
di-cover dalam bag-bag diplomatic. Jadi mereka menghalangi orang untuk
mengakses kepada diri mereka. Dino sebagai seorang diplomat tentu
mengerti dengan persoalan ini. Tidak mungkin ini lembaga riset murni.
Dan yang menarik lagi, field (bidang) yang mereka kerjakan selalu
penyakit-penyakit menular. Kenapa tidak penyakit degeneratif misalnya,
jantung, kanker, dan sebagainya? Karena untuk senjata biologi, yang
menarik itu penyakit menular. Bukan penyakit degeneratif.

Sepengetahuan Anda, apa yang didapat Indo-nesia selama 30 tahun
keberadaan NAMRU?

Katanya banyak membantu program pemberantasan penyakit malaria,
kemudian pemberantasan penyakit TBC. Jadi mereka itu bekerja di
Direktorat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M),
Depkes. P2M ini, waktu saya di Puskesmas, fokusnya adalah TBC, Jadi
memang ada manfaatnya. Cuma persoalannya, kuman-kuman (bakteri, virus,
dan protozoa) itu diteliti oleh mereka, apakah dibawa keluar dan
disimpan oleh mereka kemudian diapakan? Kita tidak tahu. Dan persoalan
yang paling penting, tidak semua orang punya akses.

Apa kerugian Indonesia?

Kerugiannya jelas, kita dikadalin. Ini ilmu kadal namanya. Kita diberi
sedikit bantuan, yang bantuan program itu tidak esensial sifatnya.
Lipstick aid, sifatnya kosmetik. Tapi dia mendapat untung luar biasa
belajar mengenai penyakit menular ini. Lalu pertanyaannya begini,
penyakit menular ini kan tidak ada di negara mereka? Lalu buat apa
mereka pelajari? Kalau kita mau bicara soal geololitik, banyak riset
dilakukan di negara-negara yang memiliki deposit kekayaan alam yang
luar biasa, dan pasar yang besar seperti Cina. Buat apa mereka
pelajari? Kalau gampang-gampangnya, pasti mereka bikin vaksin lalu
dijual. Itu dari segi ekonomi. Covernya seperti itu. Itu saja sudah
tidak etis. Mereka tidak kena penyakit ini, tapi mereka ambil bahan
orang. Mereka bikin vaksin, kemudian jual sama orang. Tidak etis,
bahkan tidak manusiawi, jual vaksin dari penderitaan orang banyak.

Apakah unit seperti NAMRU ini ada di negara lain?

Ada kan. Pernah di Taiwan, Mesir, Filipina. Tapi sudah ditutup.
Indonesia saja yang sudah kelamaan 30 tahun. Eh mau diperpanjang lagi.

Dari sisi militer, sejauh mana pentingnya penelitian/riset tersebut?

Dari segi militer. Contoh malaria. Kalau mereka bisa merekayasa,
plasmodium makin lama makin ganas. Tentu ini tidak bisa di-handling
dengan obat biasa. Dan mereka bisa bikin vaksin anti malaria. Nah,
kalau mereka menghadapi perang gerilya dengan negara yang tidak suka
dengan dominasinya, mereka nggak perlu turun ke hutan. Cukup sebarkan
saja nyamuk dengan plasmodium falcivarum yang lebih ganas. Lalu
gerilyawan mati karena kena malaria tropikana.

Banyak yang menganggap laboratorium NAMRU sederhana sehingga tidak
mungkin melakukan riset militer yang canggih. Padahal sebenarnya
masalahnya pada keluar masuknya spesimen?

That's right. Yang paling penting itu keluar masuknya spesimen. Karena
bagi mereka yang penting mengambil spesimen, kemudian memeliharanya
sebentar, kemudian mentransfernya ke laboratorium definitif mereka.

Itu ada di Indonesia?

Itu pasti tidak di Indonesia. Itu yang paling krusial di sana,
bagaimana mereka itu memperoleh sesuatu. Makanya mereka minta
kekebalan diplomatik supaya barang-barang yang dikirim oleh mereka itu
tidak dicek (di bandara).

Artinya secara militer vaksin itu penting?

Penting, untuk strategi perang. Karena kalau mereka bisa meng-create
senjata biologi yang negara lain tidak bisa meng-handling, maka
tentaranya bisa dikasih kekebalan dengan vaksin yang mereka punya. Dan
mereka bisa masuk ke daerah yang sudah mereka tebarkan virus atau
bakteri tersebut.

Apa kecurigaan Anda terhadap keberadaan NAMRU di Indonesia?

Sudah jelas, mereka memiliki kepentingan untuk mempelajari
penyakit-penyakit menular yang ganas. Mempelajari itu bagaimana?
Mengambil spesimen. Lalu mereka proses, biakkan, seed (dibenihkan) ,
multiply (perbanyakan) dan sebagainya untuk dibuat vaksin-vaksin.
Mungkin laboratorium di sini itu tidak ada teknologi yang canggih.
Mungkin hanya teknologi penyimpanan saja. Nah teknologi yang canggih
untuk membuat senjata biologi bukan di sini (Indonesia) tempatnya,
tapi di suatu tempat. Lalu mereka memfokuskan lagi untuk teknologi
pengiriman bahan, spesimen. Makanya mereka minta kekebalan diplomatik.
Kalau militer yang melakukan ini pasti itu untuk kepentingan militer.

NAMRU bisa bertahan sedemikian lama. Tentu ada pihak-pihak yang
diuntungkan di Indonesia. Menurut Anda?

Sebenarnya kalau orang itu merasa dia orang Indonesia, tentu dia akan
memahami ini sebagai suatu yang berbahaya, buat dia sendiri maupun
buat keluarganya yang ada di Indonesia. Tapi karena mentalnya mental
antek, dia mendukung ini. Dia tidak tahu betapa berbahayanya senjata
biologi atau laboratorium biologi yang berbahaya. Ini lebih berbahaya
dari nuklir. Kalau misalnya jelas kerja sama pembuatan senjata biologi
antar militer, jelas harus diproteksi. Tidak ada di tengah-tengah
permukiman penduduk. Dan itu harus diawasi PBB.

Pihak-pihak yang ambil untung itu kaki tangan mereka di Indonesia?

Antek.

Apakah senjata biologi ini pernah diterapkan dalam sebuah peperangan?

Kalau saya membaca sejarah, pernah diterapkan Belanda di Aceh. Belanda
pernah memasukkan kuman kolera ke air minum masyarakat Aceh. Akhirnya
jadi wabah, mencret, apalagi saat itu belum ada tetracycline. Kalau
sekarang amanlah.

Departemen pertahanan kita tidak tahu?

Di situlah persoalannya, dia itu bukan tidak tahu. Dia tahu, ini ada
persoalan. Tapi biasalah orang Indonesia, dia belum melihat ada
sesuatu yang membahayakan kalau belum ada kejadian. Kan aman-aman
saja. Karier gue juga naik. Nanti kalau laboratorium itu bocor, atau
seperti sekarang ada flu burung yang penyebarannya juga aneh, dan
kemudian keluarga presiden kena, baru mikir. Oh iya, betul.

Apakah dalam kasus flu burung, model seperti ini bisa berlaku?

Oh bisa. Ada yang dipertanyakan Menkes kita, kenapa spesimen virus
H5N1 kita, dikirim ke WHO di Hongkong, lalu nasibnya tidak jelas. Lalu
tiba-tiba ada perusahaan yang mempunyai vaksinnya. Juga bisa
dipastikan spesimen ada di laboratorium militer Los Alamos Amerika.
Setelah Los Alamos tutup lalu dipindah lagi ke laboratorium di
Washington DC. Contoh lagi, kenapa variola yang berkembang tahun 1972,
lalu WHO meminta tahun 1974 semua negara memusnahkan semua virus
variola. Eh tahun 2005 ada negara yang mempunyai vaksin variola.
Berarti dia kan membuat vaksin dari virus. Berarti dia memelihara
virus. Ini melanggar ketentuan internasional. Ini yang disebut
dominasi ketidakadilan dunia, paradoks dunia. Di satu sisi, mereka
berjuang untuk nilai-nilai peradaban yang baik, di sisi lain mereka
membuat sesuatu yang membayakan peradaban itu sendiri.

Persoalan NAMRU berarti sangat krusial?

Sangat penting dan krusial bagi negara ini. Banyak orang yang tidak
menyadari. Kalangan ilmuwan pun tidak menyadari. Kadang-kadang di
antara mereka merasa happy dimasukkan dalam society mereka sebagai
peneliti tingkat internasional. Inilah repotnya bangsa kita. Lalu
orang-orang yang punya otoritas untuk menghentikan ini lihat-lihat
kiri kanan. Kalau yang lain semangat, baru mereka ikutan semangat. Dia
tahu bahayanya. Tapi untuk maju ke depan sebagai pelopor dia gak punya
keberanian.

Ada yang menuding ada intelijen dalam NAMRU. Pendapat Anda?

Intelijen itu artinya mematai-matai, tujuannya mempelajari penyakit
menular itu, lalu mereka ambil sample dan kemudian mereka kirim ke
laboratorium mereka. Tindakan mereka penelitian juga bisa sambil
mengamati daerah-daerah yang cocok untuk perang kuman. Kan untuk ini
harus dipelajari virusnya, geografinya, anginnya, cuacanya karena
bersangkut paut dengan penyebaran dan cara menghentikan penyebaran.

Mereka berdalih sebagian pekerja NAMRU adalah orang Indonesia?

Ah itu teknis banget. Mereka ngumpulin virus, terus disimpan. Itu kan
pekerjaan teknis banget. Bukan pekerjaan teknologi tingkat tinggi.
Pekerjaan tingkat tingginya dilakukan di laboratoritum mereka yang
mungkin tidak ada di Indonesia.

Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah Indonesia?

Untuk jangka pendek, tutup dulu. Ke depannya, kalau tatanan dunia itu
tidak bisa berubah ke arah yang lebih baik, kita juga harus belajar
mengenai senjata biologi. Ini sebagai bentuk persiapan. Kan dalam
Islam ada i'da'. Kalau tidak bisa dikendalikan, negara besar culas,
Indonesia harus bersiap-siap karena ini menyangkut dominasi suatu
negara terhadap negara lain. Ini berimplikasi kepada masalah ekonomi,
politik, budaya. Intinya power.

Bisa gak sih kita seperti mereka?

Bisa. Bisa.

Nyatanya kita sekarang kok tidak bisa, kendalanya?

Kemauan. Kemauan politik dari seorang leader. Ahli-ahli Indonesia itu
cakap kok. Kita butuh seorang leader yang mempunyai visi yang jelas
dalam memanage negara ini. Kalau leadernya hanya sekadar mengejar 5
tahun berikutnya, mengejar 5 tahun berikutnya, ya susah.

Bagaimana senjata biologi dalam konstelasi perang ke depan?

Yang jelas, negara-negara besar itu mempunyai laboratorium
senjata-senjata biologi. Satu lagi yang tidak boleh dilupakan adalah
senjata kimia, ada nuklir. Itu semuanya mereka punya. Kenapa? Karena
mereka ingin bargaining kekuatan. Implikasinya mereka melakukan
dominasi terhadap dunia baik di bidang politik, ekonomi, keamanan,
kebudayaan dan sebagainya. Menekan suatu negara untuk dieksplorasi. k.
Celakanya negara dunia ketiga tidak boleh melakukan empowering
(penguatan) itu kan. Supaya tetap terjajah. Meskipun secara de jure
merdeka.

Pandangan Anda terhadap sikap pemerintah kita?

Lemah.

Apa alasannya?

Mereka nggak punya nyali jika berhadapan dengan kekuatan besar.

Tidak punya nyali atau sudah dikuasai?

Jadi begini, elit-elit ini eksis secara society maupun secara
kekuasaan, dan kekayaan. Untuk bisa eksis dalam tiga hal ini mereka
butuh jaringan. Mereka tidak percaya dengan bangsa sendiri maupun
dengan negara-negara yang tidak superpower. Mereka mau membangun
jaringan dengan negara superpower dan mau menjadi goyim-nya
(dombanya). Itu intinya.

Apakah aparat keamanan kita juga begitu lemahnya sehingga tak mampu
menolak?

Doktrin pertahanan kita persoalannya. Yang diajarkan di Lemhanas itu
dari dulu hingga sekarang yaitu musuh kita adalah ekstrim kiri dan
ekstrim kanan. Dan itu diperkuat oleh mentor-mentor mereka yang
notabene dari luar negeri. Intelijen dan tentara kita dicekoki terus
dengan doktrin ini. Jadi tentara kita belum ada visi bahwa virus ini
bakal mengancam, spekulan ekonomi bisa mengancam dan meruntuhkan 
negara.

Jadi sulit dong menghadapi hegemoni yang demikian besar?

Karena kendalanya ada di bangsa kita. Bukan rakyat tapi elit. Rakyat
kita ini punya daya tahan yang luar biasa. Tahun 1999, negara kita ini
sudah dianggap tidak ada secara ekonomi, tapi rakyat kita itu
bertahan. Yang ngeri hidup susah itu elit.

Bagaimana caranya meningkatkan nyali?

Kita harus yakin akan pertolongan Allah SWT. Kalau tidak yakin itu,
nggak mungkin nyali itu muncul. Sudah jelas (negara adidaya) itu
senjatanya lebih maju, teknologinya lebih maju. Dalam sejarah
Rasulullah, yang dihadapi itu juga begitu, Kerajaan Persia dan Romawi
yang secara militer jauh lebih maju. Tapi Rasulullah dan para sahabat
yakin dengan kemenangan karena ada pertolongan Allah. Tanpa itu
frustasi kita. Senjata sudah kepret-kepret. Alutsista sudah tua. Para
komandan sudah hidup senang, nggak mau lagi diajak masuk hutan untuk
survival. Jadi ini persoalan mentalitas, yaitu bagaimana kita itu
pede. Nah pede sorang muslim itu akan timbul kalau kita yakin akan
pertolongan Allah.

Artinya kita harus bangkit dan menjadi pengimbang negara adidaya itu?

Jelas. Allah akan membantu kita. Bagaimana Allah membantu kita? Dengan
keridlaan-Nya. Bagaimana supaya Dia ridla? Ya kita harus menyesuaikan
diri dengan apa yang diinginkan oleh Allah. Kalau ada yang bilang,
nggak ada tuh Islam mengatur soal politik. Wah itu sudah kacau. Nggak
ada itu Islam mengatur soal hukum. Itu sudah kacau.

Jangan-jangan cara berpikir seperti ini merupakan hasil penjajahan
negara adidaya itu?

Betul sekali. Karena dia (negara adidaya) tahu Islam itu suatu ajaran
yang komprehensif. Kalau dipraktekkan secara komprehensif, mereka tak
berdaya melawan. Karena mereka tahu itu, mereka rusak pemikiran umat
ini terlebih dahulu.

Kalau kita yakin dengan janji Allah, sebenarnya kita bisa mengalahkan
mereka?

Bisa. Bisa banget. Saya alhamdulillah punya pengalaman berkali-kali
terkepung dalam jumlah sedikit oleh musuh yang jumlahnya lebih banyak,
tapi kemenangan ada di pihak yang lebih sedikit. Kenapa? Karena
pertolongan Allah SWT. Bukan karena kehebatan kita dalam berperang.
Itu saya alami di Maluku, Afganistan, hingga Lebanon. Kalau Allah
ridla, nggak sulit bagi Allah memberikan kemenangan. Masalahnya,
bagaimana agar Allah ridla? Ini perosalannya.

Jadi harus ada upaya menerapkan Islam secara kaffah?
Jelas. Islam yang komprehensif. 

 














      

Kirim email ke