*******************
 
 Tiga bulan sudah saya tak mengunjungi Ayah, walau dua hari sekali
 masih sering telepon langsung untuk mendengar suaranya atau sekadar
 SMS menanyakan kabar kesehatannya. Rindu, itu kata yang paling
 mewakili untuk menggambarkan perasaan saya padanya, mungkin juga yang
 dirasa Ayah disana. Diri ini selalu percaya, rindu yang tak pernah
 lekang dimakan waktu, yang tak pernah sirna dihempas angin, yang tak
 mungkin pupus diterik matahari adalah rindu orang tua terhadap
 anaknya. Rasa rindu yang belum pasti dimiliki anak terhadap orang
 tuanya.
 
 Benarlah, sepuluh menit setelah bercengkerama dengan cucu-cucunya,
 Ayah menghampiri saya dan menanyakan kabar apa pun tentang saya,
 keluarga, pekerjaan, aktivitas sosial yang biasa saya geluti, sampai
 soal selokan di depan rumah yang kerap tergenang. Dan tak lama
 setelah saya menceritakan semua yang diingintahuinya itu, ganti ia
 yang bercerita tentang dirinya, kegiatan jalan paginya, HP baru
 hadiah dari abang saya yang baru pulang dari luar negeri, acara reuni
 dengan sahabat-sahabatnya semasa aktif di kantor dulu, hingga nyaris
 tak ada lagi yang bisa diceritakan. Ia, seolah tengah menemukan
 telinga selebar lautan yang siap menampung semua kisahnya, dan itu
 adalah telinga saya.
 
 Tak terasa tiga jam lebih kami berbicara, pembicaraan yang begitu
 dekat, antara sesama hati yang merindu. Tapi dari semua yang
 diceritakannya, ada satu yang teramat menarik bagi saya, sepenggal
 kisah tentang masa kecilnya bersama Ayahnya. Bercerita Ayah tentang
 Ayahnya, saya memanggilnya Babah. Suatu sore, ia tengah bermain
 kelereng ketika Babah hendak memintanya membeli minyak tanah. Tahu
 anaknya tengah bermain, ia mengurungkan niatnya dan membiarkan
 anaknya terus bermain. Kemudian Babah hanya berpesan kepada salah
 seorang keponakannya, "bilangin si mbing kalau mainnya sudah selesai,
 Babah mau suruh dia beli minyak tanah".
 
 Mpok Mul, begitu Ayah memanggil kakak sepupunya itu pun menghampiri
 adiknya, "Mbing Babah bilang kalau mainnya sudah selesai tolong
 beliin minyak tanah". Si anak pun bergegas menyudahi permainannya
 setelah meminta izin kepada teman-temannya.
 
**
 
 Ayah menegaskan kalimat "kalau mainnya sudah selesai" dan itu berkali-
 kali diucapkannya dengan tegas untuk saya perhatikan. Menurutnya,
 Babah mengatakan itu ada maknanya, Ayahnya hanya ingin menyuruhnya
 membeli minyak tanah setelah ia memenuhi hak anak untuk bermain.
 Sebagai seorang Ayah, ia tak ingin mengganggu hak bermain anaknya,
 meski sebagian orang tua merasa berhak untuk meminta anaknya
 melakukan apa pun perintahnya tanpa boleh membantah.
 
 Babah, kata Ayah, meski hanya lelaki lulusan sekolah rakyat kelas
 tiga -setingkat kelas tiga SD- sangat mengerti psikologi mendidik
 anak. Orang tua yang ingin dihormati haknya oleh anak semestinya juga
 menghormati hak anak, salah satunya adalah hak untuk bermain, karena
 bermain merupakan cara anak-anak untuk belajar bersosialisasi. Tugas
 orang tua hanya memberi tahu batas-batas dalam bermain, misalnya soal
 waktu, dan juga pekerjaan utama di rumah yang semestinya didahulukan
 sebelum bermain.
 
 Ayah pun bertanya kepada saya, "bagaimana perasaan kamu kalau lagi
 main, dan kondisi kamu sedang kalah. Lalu Ayah memanggil
 kamu?" "Tidak ikhlas," jawab saya. Ya, Babah tidak mau anaknya
 menjalankan perintahnya secara tidak ikhlas, dengan hati yang
 menggerutu, dengan dada yang disesaki rasa kesal. Sebaliknya, jika
 si anak sedang menang dan Ayahnya memanggil, siapa yang kesal?
 pastilah teman-teman anaknya, "Bapak lu brengsek, tahu anaknya lagi
 menang dipanggil". Sudah pasti ada dua orang yang dirugikan, Ayah dan
 anaknya. Ayahnya dibilang 'brengsek', anaknya mungkin akan dikucilkan
 dalam permainan berikutnya.
 
 Hmm, tiga jam tak kan pernah sia-sia untuk berbicara dengan Ayah. Ada
 banyak pelajaran baru yang bisa saya ambil dari kisah-kisahnya. Dan
 sudah pasti saya akan selalu merindui perjumpaan dengannya, sampai
 kapan pun. Terima kasih Ayah.
 
 Disadur dr milist DT.
Rio Albert
IT Dept. Bank Bukopin, PT
MT Haryono Street Kav. 50-51 Jakarta
telp. 021.7988266 ext sekarang 1240
fax.  021.7983381
mailto : [EMAIL PROTECTED]


========================================================================
Sambilan-Tujuah : Milis Alumni SMUN 3 Bukittinggi angkatan 97,
                  http://groups.yahoo.com/group/smun3bkt-97
========================================================================
"There is no better time than right now to be happy. Happiness is a
journey, not a destination. So, work like you don't need money, Love
like you've never been hurt,And dance like no one's watching."
========================================================================




Yahoo! Groups Links

**********************************************
This e-mail has been scanned by Interscan MSS
**********************************************

Kirim email ke