On Fri, 15 Jul 2005 10:15:18 +0700
"Meylinda R. Sitinjak" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 
> Cinta Laki-laki Biasa
> 
> Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa
> 
> 
> 
> MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau 
> menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang 
> dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata 
> miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, 
> tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
> 
> "Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
> 
> Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari 
> sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang 
> mata tertuju pada gadis itu.
> 
> Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan 
> lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali 
> beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu.. 
> Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba 
> bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!
> 
> Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan 
> spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di 
> kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang 
> pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli 
> untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena 
> semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang 
> sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
> 
> "Kamu pasti bercanda!"
> 
> Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, 
> disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan 
> Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania 
> bercanda.
> 
> Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang 
> balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
> 
> "Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang 
> melamarnya.
> 
> "Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli 
> berani melamar anak Papa yang paling cantik!"
> 
> Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda 
> baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu 
> berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh 
> selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
> 
> "Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif 
> bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa 
> saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"
> 
> Nania terkesima.
> 
> "Kenapa?"
> 
> Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
> 
> Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.
> 
> Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa 
> Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
> 
> Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu 
> yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki 
> manapun yang kamu mau!
> 
> Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, 
> kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka 
> atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
> 
> "Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di 
> kelopak.
> 
> Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat 
> tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
> 
> "Tapi kenapa?"
> 
> Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan 
> biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat 
> biasa.
> 
> Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
> 
> "Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"
> 
> Cukup!
> 
> Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi 
> parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal 
> hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat 
> pencapaiannya hari ini?
> 
> Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali 
> karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak 
> punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. 
> Nania cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania 
> menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di 
> sampingnya Nania bahagia.
> 
> Mereka akhirnya menikah.
> 
> ***
> 
> Setahun pernikahan.
> 
> Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di 
> belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania 
> masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di 
> mata mereka.
> 
> Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga 
> Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara 
> dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat 
> bahagia.
> 
> "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."
> 
> Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
> 
> Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak 
> percaya.
> 
> "Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"
> 
> "Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"
> 
> "Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"
> 
> Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
> 
> Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan 
> Rafli.
> 
> Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
> 
> Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
> 
> Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
> 
> Rafli juga pintar!
> 
> Tidak sepintarmu, Nania.
> 
> Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
> 
> Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
> 
> Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka 
> beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
> 
> "Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan 
> tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."
> 
> Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.
> 
> Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
> 
> Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal 
> Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu 
> perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka 
> memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari 
> cukup untuk hidup senang.
> 
> "Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu 
> memforsir diri.
> 
> "Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."
> 
> Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.
> 
> Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa 
> menangkap hanya maksud baik.
> 
> "Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"
> 
> Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu 
> sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania 
> cerah.
> 
> Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
> 
> Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan 
> pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat 
> sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
> 
> Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
> 
> Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, 
> uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, 
> dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di 
> puncak!
> 
> Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan 
> bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan 
> kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
> 
> Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
> 
> Cantik ya? dan kaya!
> 
> Tak imbang!
> 
> Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania 
> belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan 
> bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
> 
> Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. 
> Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu 
> itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
> 
> ***
> 
> Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar.
> 
> Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
> 
> "Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera 
> dikeluarkan!"
> 
> Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam 
> rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu 
> merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam 
> hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
> 
> Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya 
> waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan 
> menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua 
> Nania belum satu pun yang datang.
> 
> Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat 
> pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan 
> melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi 
> pembukaan berjalan lambat sekali.
> 
> "Baru pembukaan satu."
> 
> "Belum ada perubahan, Bu."
> 
> "Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian 
> menyemaikan harapan.
> 
> "Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
> 
> Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa 
> memiliki sense of humor yang tinggi.
> 
> Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
> 
> Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia 
> sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan 
> mereka meleset.
> 
> "Masih pembukaan dua, Pak!"
> 
> Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang 
> sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. 
> Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
> 
> "Bang?"
> 
> Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan..
> 
> "Dokter?"
> 
> "Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."
> 
> Mungkin?
> 
> Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana 
> jika terlambat?
> 
> Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena 
> Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia 
> tak suka merasa sendiri lebih awal.
> 
> Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat 
> ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan 
> dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu 
> yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, 
> telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan 
> langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri..
> 
> Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki 
> itu tak berhenti melafalkan zikir.
> 
> Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
> 
> "Pendarahan hebat."
> 
> Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
> 
> Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!
> 
> Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
> 
> Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. 
> Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
> 
> Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
> 
> Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di 
> pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas 
> cepat seperti kanker.
> 
> Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
> 
> ***
> 
> Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari 
> kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga 
> anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu 
> sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai 
> empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
> 
> Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah 
> sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak 
> banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
> 
> Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah 
> sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan 
> tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli 
> terhadap kantor tidak perlu diragukan.
> 
> Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
> 
> Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang 
> terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan 
> menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana 
> itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.
> 
> Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
> 
> "Nania, bangun, Cinta?"
> 
> Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan 
> kening istrinya yang cantik.
> 
> Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir 
> untuk pasrah, Rafli masih berjuang.
> 
> Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam 
> tangan istrinya mesra.
> 
> Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan 
> membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. 
> Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
> 
> "Nania, bangun, Cinta?"
> 
> Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan 
> Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya 
> di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber 
> semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
> 
> Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.
> 
> Anak-anak merindukan ibunya.
> 
> Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak 
> bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
> 
> Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak 
> bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang 
> cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
> 
> Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.
> 
> Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
> 
> Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan 
> mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata 
> yang meleleh.
> 
> Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
> 
> Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki 
> biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. 
> Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per 
> satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah 
> dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania 
> seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
> 
> Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan 
> wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania 
> selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. 
> Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
> 
> Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu 
> meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan 
> paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
> 
> Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. 
> Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, 
> nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti 
> juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu 
> bertahun-tahun.
> 
> Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di 
> sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang 
> berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum 
> hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
> 
> Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di 
> jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya 
> memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua 
> berbisik-bisik.
> 
> "Baik banget suaminya!"
> 
> "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
> 
> "Nania beruntung!"
> 
> "Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
> 
> "Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya 
> memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"
> 
> Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
> 
> Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, 
> merasa tak berani, merasa?
> 
> Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di 
> luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu 
> begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
> 
> Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. 
> Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
> 
> Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak 
> yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih 
> dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski 
> kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir 
> dari tangannya.
> 
> Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa 
> yang tak pernah berubah, untuk Nania.
> 
> 
> 
> Diketik ulang oleh Juli Prasetio Utomo, 28 Juni 2005, dengan pembenahan 
> beberapa ejaan dan tanda baca.
> 
> 
> ---------------------------------
> Start your day with Yahoo! - make it your home page
> 
> [This message contained attachments]
> 
> 
> 
> ________________________________________________________________________
> ________________________________________________________________________





========================================================================
Sambilan-Tujuah : Milis Alumni SMUN 3 Bukittinggi angkatan 97,
                  http://groups.yahoo.com/group/smun3bkt-97
========================================================================
"If you go in for argument, take care of your temper. Your logic, if 
you have any, will take care of itself." 

-Joseph Farrell
======================================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/smun3bkt-97/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke