Dear all,...
Sudah hampir 3 minggu, saya tidak mengirim artikel Enerlife.
Di samping adanya tambahan kesibukan (termasuk adanya baby :-)),
saya barusan mengalami kecelakaan. Lumayan. U
ntunglah tidak sampai fatal.
Cerita kecelakaan ini ada di:
http://www.myusuf.or.id/v20/blog/index.php?act=detail&p_id=127
~~~
Kali ini saya mengirim tulisan tentang makan siang.
Sejak makan siang dibentukkan uang, bukan disediakan kantor,
saya hampir mengalami kejadian seperti artikel di bawah.
Sampai kemudian saya ketemu tetangga, yang selalu bawa makan siang
sendiri dari rumah.
Ketika saya tanyakan, kenapa ? Dia bilang uang makan siang
digunakan untuk kebutuhan tambahan si kecil (anak), misal beli
majalah, buku dan lain-lain.
Toh setiap pagi istrinya memasak, dan dia sering klebingungan
mau makan apa pas jam makan siang.
Karena makan siang dari rumah adalah solusi untuk semua.
Sejak itu, saya juga bawa makan siang dari rumah.
Solusi mudah, murah dan menyenangkan untuk keluarga
===============================
Tempe Bacem
oleh Lisa Nuryanti
Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=128
Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife
Sejak naik gaji, Susi menikmati kenaikan
gajinya dengan mengubah gaya hidupnya. Dulu,
dia selalu membawa makanan dari rumahnya.
Kadang-kadang nasi dengan telor dadar, atau
nasi dengan sisa lauk kemarin yang sudah
dihangatkan. Susi paling suka tempe bacem,
yang warnanya sampai gelap dan rasanya
semakin enak. Nasi dan tempe bacem memang
makanan favoritnya.
Sudah dua bulan ini dia naik gaji karena
jabatannya lebih tinggi. Tentu saja tugas dan
tanggung jawabnya semakin tinggi. Sekarang
dia merasa malu kalau membawa makanan dari
rumah. Kini setiap siang dia makan di luar.
Dulu, banyak teman yang sering titip uang
supaya dibawakan tempe bacem kesukaannya yang
ternyata disukai juga oleh mereka. Sekarang
mereka sering mengeluh karena Susi tidak mau
lagi membawakan tempe bacem kesukaan mereka.
"Ah, malas bawa makanan dari rumah lagi,"
katanya setiap kali mereka menanyakan tempe
bacemnya.
Susi menikmati gaya hidupnya yang berubah.
Sekarang dia bisa makan ayam goreng keremes
lengkap dengan es campur hampir tiap hari.
Kadang-kadang nasi rames lengkap dengan
sambal goreng ati, perkedel dan daging
rendang serta telor dadar pedas serta jus
buah. Enak juga sih. Rasanya mewah. Kini Susi
tidak pernah lagi makan bersama teman-temanya
di ruang makan. Dia selalu memilih makan
siang di luar. Kalau sedang sangat sibuk,
baru dia minta dibelikan makanan dan akan
makan di ruangannya sendiri.
Tanpa disangka tiga hari yang lalu terjadi
sesuatu yang membuat Susi terheran-heran. Pak
Jono, presiden direktur, memanggil Susi untuk
meminta laporan mingguan yang belum diterima.
Kebetulan waktu itu sudah hampir jam makan
siang. Susi datang ke ruangan beliau sambil
membawa laporan yang diminta. Susi juga
menjelaskan bahwa dia sudah menyerahkan
laporan tersebut ke pak Jono. Pak Jono juga
mengakui hal itu, tapi laporan itu terselip
entah di mana, jadi pak Jono minta lagi.
Setelah berdiskusi sebentar, Pak Jono
mengeluarkan kotak plastik berisi makanan.
Beliau bertanya, "Susi sudah makan." "Belum,
pak," jawab Susi. "Ya sudah, Susi makan dulu
saja. Saya juga sudah lapar nih. Nanti kita
lanjutkan lagi setelah makan siang." Susi
kemudian minta diri untuk keluar makan siang.
Sambil mempersilahkan Susi keluar, pak Jono
membuka kotak makan siangnya. Tanpa sengaja,
Susi melihat isi kotak itu. Isinya nasi, orak-
arik telor campur buncis dan tempe bacem.
Hanya itu.
Tanpa sadar Susi bertanya, "Pak, kok Bapak
bawa makanan dari rumah sih?" "Memangnya
kenapa," tanya pak Jono. "Ya... malu kan Pak?
Masa presiden direktur bawa makanan dari
rumah," begitu jawab Susi.
Pak Jono hanya tersenyum ramah dan menjawab,
"Mengapa harus malu? Makanan ini penuh gizi,
harga lebih murah, yang masak isteri saya,
dan saya tidak perlu repot cari makanan lagi.
Lagipula ini makanan kesukaan saya. Mau
coba." Sambil tersenyum malu, Susi
mengucapkan terima kasih.
Kejadian itu membuat Susi terheran. Kok Pak
Jono tidak malu membawa makanan dari rumah
ya? Tapi, memang setelah dipikir, mengapa
harus malu? Kan banyak keuntungannya? Lebih
murah, rasanya lebih sesuai selera sendiri,
tidak perlu berpanas-panas keluar kantor
mencari makanan, dan bisa memilih makanan
kesukaan. Tiba-tiba, dia kangen lagi dengan
tempe bacem buatan ibunya. Tempe bacem
kesukaannya. Tempe bacem yang juga disukai
teman-temannya.
Dua hari yang lalu, Susi membawa lagi makanan
dari rumah. Dia membawa banyak tempe bacem
dan membagikannya pada teman-temannya di
ruang makan. Semua temannya sangat senang
bisa makan tempe bacem lagi. Rasanya sudah
bertahun-tahun mereka tidak makan tempe
bacem. Padahal baru dua bulan. Susi terharu
melihatnya.
Kini dia baru bisa mensyukuri keadaannya.
Tidak perlu malu membawa makanan dari rumah.
Pak Jono saja setiap hari selalu membawa
makanan dari rumah. Padahal gaji dan
kedudukan beliau kan lebih tinggi dari Susi?
Untuk apa memboroskan uang gaji untuk makan
mewah setiap hari? Sepertinya dia
mengorbankan uangnya untuk membeli makanan
yang lebih mahal hanya untuk kenikmatan
sesaat dan untuk menuruti perasaan sombong
akibat naik gaji dan naik jabatan.
Hari ini Susi membawa tempe bacem lagi karena
kemarin banyak yang titip minta dibawakan.
Malah mereka ingin membayar tempe bacem yang
dibawanya. Susi tersenyum saja. Dia telah
menemukan kenikmatan makan siangnya kembali.
Tadi siang ketika rapat, Pak Jono bertanya
pada Susi, "Makan di mana tadi." Sambil
tersenyum malu Susi menjawab, "Di ruang makan
pak. Saya bawa dari rumah kok." Pak Jono
berhenti sebentar memandangnya lalu tersenyum
sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Senyum Pak Jono mengandung banyak arti.
Sepertinya beliau tahu mengapa Susi berubah.
Tapi Susi senang. Dia ingat, If you have more
money, do not change your life style! You
will be rich!
~~~
Sumber:
Tempe Bacem oleh Lisa Nuryanti,
Director Expands Consulting & Training
Specialist
Terima kasih
MYusuf.or.id
---------------------------------------------------------------------------------
Apa aku sudah menjadi orang yang berguna bagi orang lain ?
- James Francis Ryan, Saving Private Ryan -
---------------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]