dapat dari milis nih. mungkin asik buat dibaca.

----- Forwarded Message ----
From: resonansi_2002 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 20, 2007 8:36:03 PM
Subject: [resonansi] Miskin Tapi Bahagia









  


    
            Miskin Tapi Bahagia



"Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai 

apa-apa kecuali uang."

– John D. Rockefeller JR



Dalam rubrik Kilasan Kawat Sedunia, Harian KOMPAS pernah memuat 

ringkasan hasil survei yang menarik perhatian saya. Ia menceritakan 

hubungan antara uang—indikator utama yang sering dipergunakan untuk 

mengukur seberapa kaya atau seberapa miskin seorang anak manusia itu—

dengan kebahagiaan. Survei yang unik dan jarang dilakukan ini—setahu 

saya belum pernah ada survei semacam ini di Indonesia—mungkin dapat 

memberi pelajaran tertentu pada kita. Berikut petikannya: 



Pemeo "uang tak bisa membeli kebahagiaan" ternyata memang benar. 

Sebuah survei di Australia menunjukkan, kaum kelas menengah di 

Sydney masuk kategori warga yang paling menderita di Australia. 

Sebaliknya, tingkat kebahagiaan warga yang hidup di beberapa daerah 

pemukiman paling miskin malah lebih tinggi. 



"Pengaruh uang pada kebahagiaan nyatanya hanya terasa pada golongan 

yang luar biasa kaya," kata Liz Eckerman, peneliti dari Universitas 

Deakin, seperti dikutip kantor berita AFP, Senin (13/2). 



"Uang tak bisa membeli kebahagiaan. Ini jelas terbukti dalam jajak 

pendapat yang kami lakukan pada 23.000 warga yang sudah kami 

wawancarai," kata Eckerman kepada Radio Australia, ABC. 



Temuan-temuan yang disusun sejak tahun 2001 menunjukkan bahwa di 

Australia, negara dimana tak ada kesenjangan kemakmuran yang 

ekstrem, mereka yang hidup paling bahagia ada di lapisan bawah. 

Mereka yang happy juga lebih banyak berada dalam kategori usia 55 

tahun atau lebih, lebih banyak di antara kaum perempuan, dan 

kebanyakan pula ada di antara mereka yang menikah alias yang tak men-

jomblo. 



Survei ditujukan untuk mengungkap kepuasan seseorang terkait dengan 

berbagai hal, seperti standar hidup, kesehatan, pencapaian dalam 

hidup, dan keamanan. Di antara 150 daerah sasaran survei, salah satu 

daerah termiskin di Australia, yakni Wide Bay di pedalaman 

Queensland, penduduknya ternyata termasuk yang paling bahagia di 

negeri kangguru itu.



Terus terang, saya tidak tahu seberapa banyak uang yang harus 

dimiliki seseorang untuk bisa masuk dalam kategori kelas menengah di 

Sydney. Juga tidak terlalu jelas bagi saya berapa jumlah uang yang 

dimiliki oleh rata-rata penduduk Wide bay di pedalaman Queensland, 

sehingga mereka disebut daerah termiskin di negara tersebut. Lalu, 

berapa pula harta yang dimiliki seseorang agar bisa disebut Eckerman 

sebagai "luar biasa kaya"? Datanya tidak disebutkan oleh KOMPAS.



Namun, terlepas dari minimnya data yang bisa kita peroleh, tetaplah 

menarik ketika Eckerman, peneliti itu, membuat kesimpulan bahwa yang 

hidup paling bahagia di Australia adalah penduduk di lapisan bawah 

(miskin); kebanyakan berusia 55 tahun atau lebih; kebanyakan 

perempuan; dan kebanyakan menikah. Mereka inilah yang paling merasa 

puas dengan standar hidup mereka, puas dengan kesehatan mereka, puas 

dengan pencapaian dalam hidup mereka, dan puas dengan keamanan di 

lingkungannya. Mereka inilah orang-orang yang miskin, tetapi kaya. 

Miskin dalam harta benda, tetapi kaya dalam kepuasan hidup. Sungguh 

sebuah realitas yang memesona. 



Ada beberapa pelajaran yang saya pulung dari survei di atas. 

Pertama, saya menduga penelitian tersebut menempatkan rasa puas—atas 

standar hidup; atas kesehatan; atas pencapaian dalam hidup; dan atas 

keamanan di lingkungannya— sebagai indikator utama kebahagiaan. Dan 

jika hal itu kita gunakan untuk bercermin, maka kita bisa mencoba 

menjawab empat pertanyaan berikut: 



1. Apakah saya puas dengan standar hidup kita sejauh ini?

2. Apakah saya puas dengan kesehatan saya sejauh ini? 

3. Apakah saya puas dengan apa yang sudah saya capai dalam hidup 

sejauh ini? 

4. Apakah saya puas dengan keamanan di lingkungan saya sejauh ini? 



Bisakah kita menjawab YA dengan mantap untuk keempat pertanyaan 

sederhana semacam itu? Atau mungkin jawaban kita perlu diberi bobot 

tertentu, katakanlah untuk tiap jawaban menggunakan skala 1-5. Angka 

1 berarti TIDAK PUAS SAMA SEKALI, angka 2 berarti TIDAK PUAS; angka 

3 berarti CUKUP PUAS; angka 4 berarti PUAS; dan angka 5 berarti 

SANGAT PUAS. Sehingga, total nilai 12 berarti CUKUP PUAS dan total 

nilai 20 berarti SANGAT PUAS. Mereka yang bisa mengumpulkan nilai 

mendekati angka 20-lah yang pantas kita anggap bahagia. Nah, dengan 

demikian kita bisa mengukur seberapa bahagia diri kita masing-

masing, setidaknya untuk saat ini. Lalu kita juga bisa menyadari 

pada bagian mana dari keempat hal tersebut yang kita rasa paling 

meresahkan dan mengurangi kebahagiaan hidup kita sejauh ini. Dari 

sini kita kemudian bisa memikirkan cara-cara yang bisa dilakukan 

untuk meningkatkan kebahagiaan kita. 



Pelajaran kedua yang saya petik adalah soal hubungan antara 

uang/kekayaan dengan kebahagiaan. Sudah lama saya mengetahui bahwa 

uang dan kebahagiaan adalah dua hal yang tidak selalu berkaitan. 

Setidaknya saya mengenal sejumlah kawan yang punya uang miliaran 

rupiah dan kadang mengaku bahwa hidupnya tidak bahagia. Sementara 

itu sejumlah kawan lain yang uangnya tidak sampai miliaran tak 

pernah saya dengar mengeluhkan soal apakah dirinya bahagia atau 

tidak. Jadi saya sering bingung jika melihat sebagian kawan berjuang 

mati-matian untuk bisa kaya karena percaya kalau kekayaan bisa 

membuat mereka pasti bahagia. Sementara yang sudah jauh lebih kaya, 

mengaku tidak bahagia. Nah, atas kebingungan inilah survei Eckerman 

tadi bisa memberi sedikit penjelasan. Hanya pada orang atau golongan 

yang "luar biasa kaya", ada hubungan antara uang mereka dengan 

kebahagiaan mereka. Seakan-akan ada semacam ambang batas kekayaan 

yang bisa membuat kekayaan itu berdampak langsung pada kebahagiaan. 

Ambang batas itu tidak disebut, mungkin satu juta dolar Amerika, 

atau jumlah yang lebih besar. 



Pelajaran ketiga, dan buat saya paling mengesankan, adalah 

kesimpulan survei tersebut yang menunjuk sebuah daerah termiskin di 

pedalaman Queensland memiliki penduduk yang paling bahagia. 

Kesimpulan ini sungguh membesarkan hati. Sebab ini membuka 

kemungkinan bahwa kawan-kawan saya di pelosok-pelosok yang sulit 

terjangkau sarana transportasi modern—seperti di Papua, misalnya—

amat boleh jadi adalah orang-orang yang paling bahagia hidupnya. 



Nah, apakah Anda kaya atau Anda bahagia? 



Tabik Mahardika![aha] 



"Tidak ada kemiskinan yang lebih parah selain perasaan disingkirkan 

dan tidak diinginkan."

—Bunda Teresa



Sumber: Miskin Tapi Bahagia oleh Andrias Harefa, Penulis 28 Buku Laris. 



    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial,helvetica,clean,sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial,helvetica,clean,sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;
}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;
}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;
font-family:Verdana;
font-size:77%;
margin:0;
}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;
}
#ygrp-actbar{
clear:both;
margin:25px 0;
white-space:nowrap;
color:#666;
text-align:right;
}
#ygrp-actbar .left{
float:left;
white-space:nowrap;
}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;
font-size:77%;
padding:15px 0;
}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;
font-size:77%;
border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;
}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;
margin-bottom:20px;
padding:2px 0 8px 8px;
}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;
font-family:Verdana;
font-weight:bold;
color:#333;
text-transform:uppercase;
}
#ygrp-vital ul{
padding:0;
margin:2px 0;
}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;
clear:both;
border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;
color:#ff7900;
float:right;
width:2em;
text-align:right;
padding-right:.5em;
}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;
}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;
}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;
}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;
font-size:77%;
}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;
background-color:#e0ecee;
margin-bottom:20px;
}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;
margin:0;
}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;
padding:6px 0;
font-size:77%;
}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;
font-size:130%;
}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;
margin-bottom:20px;
padding:0 8px;
}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;
}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;
font-weight:bold;
color:#628c2a;
font-size:100%;
line-height:122%;
}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;
}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;
}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;
}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;
}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;
}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->



 
Bersahabat dekat dengan seseorang itu membutuhkan banyak pengertian, waktu dan 
rasa percaya. 
Dengan semakin dekatnya masa hidupku yang tidak pasti, 
Teman-temanku adalah hartaku yang paling berharga.

Thank's for your attention
Maaf bila ada kesalahan

   << Riestha >>



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke