Antara Burung, Cacing dan Manusia

                Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
                
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=333
                Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
                http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife


                Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup
                karena himpitan kebutuhan materi, maka
                cobalah kita ingat pada burung dan cacing.
                Kita lihat burung tiap pagi keluar dari
                sarangnya untuk mencari makan. Tidak
                terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia
                harus mencari makanan yang diperlukan.

                Karena itu kadangkala sore hari ia pulang
                dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan
                buat keluarganya, tapi kadang makanan itu
                cuma cukup buat keluarganya, sementara ia
                harus "puasa". Bahkan seringkali ia pulang
                tanpa membawa apa-apa buat keluarganya
                sehingga ia dan keluarganya harus "berpuasa".

                Meskipun burung lebih sering mengalami
                kekurangan makanan karena tidak punya
                "kantor" yang tetap, apalagi setelah lahannya
                banyak yang diserobot manusia, namun yang
                jelas kita tidak pernah melihat ada burung
                yang berusaha untuk bunuh diri.

                Kita tidak pernah melihat ada burung yang
                tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke
                batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada
                burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke
                sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung
                yang memilih meminum racun untuk mengakhiri
                penderitaannya. Kita lihat burung tetap
                optimis akan rejeki yang dijanjikan Allah.

                Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia
                tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya
                burung menyadari benar bahwa demikianlah
                hidup, suatu waktu berada di atas dan di lain
                waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu
                kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu
                waktu kekenyangan dan di lain waktu
                kelaparan.

                Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih
                lemah dari burung, yaitu cacing.

                Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-
                olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk
                survive atau bertahan hidup. Ia tidak
                mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan
                mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan
                telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga
                dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia
                mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka
                ia akan mati.

                Tapi kita lihat, dengan segala
                keterbatasannya, cacing tidak pernah putus
                asa dan frustasi untuk mencari rejeki. Tidak
                pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-
                benturkan kepalanya ke batu.

                Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita
                bandingkan dengan burung atau cacing, maka
                sarana yang dimiliki manusia untuk mencari
                nafkah jauh lebih canggih.

                Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak
                kelebihan ini seringkali kalah dari burung
                atau cacing ? Mengapa manusia banyak yang
                putus asa lalu bunuh diri menghadapi
                kesulitan yang dihadapi ? Padahal rasa-
                rasanya belum pernah kita lihat cacing yang
                berusaha bunuh diri karena putus asa.

   Terima kasih
   MYusuf.or.id
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Janganlah kamu saling iri dan dengki, dan jangan pula mengungkit 
keburukan orang lain.
   Janganlah saling membenci, jangan saling bermusuhan,
   dan jangan saling meninggikan penawaran atas penawaran kawannya.
   - [HR Muslim] -
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke