Menunggu
Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=340
Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife
Seperti biasa, Poppy tiba di kantor pukul
sembilan kurang lima menit. Padahal
seharusnya jam kerja dimulai pukul delapan
tiga puluh. Hari ini masih lumayan loh,
biasanya pukul sembilan lebih dia baru tiba
di kantor. Poppy sudah biasa begitu sejak
sebulan yang lalu. Dulu dia selalu datang
lebih pagi, malah paling pagi. Betul-betul
karyawan teladan. Entah mengapa. Mungkin
karena melihat karyawan lain tidak datang
sepagi dia, maka kemudian Poppy mulai datang
siang.
Atasan Poppy, Bapak Hary, sangat rajin.
Beliau sangat sibuk, banyak sekali strategi
yang harus dipikirkannya untuk memajukan
perusahaan. Apalagi sifat beliau memang bukan
orang yang cerewet. Melihat Poppy datang
terlambat, biasanya beliau hanya melirik
sebentar ke arahnya sambil terus melanjutkan
pekerjaannya. Tentu saja Poppy merasa senang.
Rupanya beliau tidak marah melihatnya
terlambat.
Poppy terus menerus datang terlambat ke
kantor. Suatu hari, dia tiba di kantor hampir
pukul setengah sepuluh. Tanpa rasa bersalah,
dia masuk ke kantor dan melihat Pak Hary
sibuk seperti biasa. Tiba-tiba Pak Hary
menoleh kearahnya dan bertanya: "Kok kamu
terlambat lagi?". Merasa terkejut, Poppy
menjawab: "Ada kecelakaan di jalan, pak, jadi
jalanannya macet luar biasa."
"Saya perhatikan akhir-akhir ini kamu selalu
datang siang. Dulu kamu tidak begini. Dulu
kamu selalu bisa datang lebih pagi kan?"
"Iya, pak," jawab Poppy sambil sedikit
tersenyum malu.
"Poppy, kalau saya tidak pernah menegur kamu
karena terlambat, bukan berarti saya setuju
terhadap hal tersebut. Saya bukan tipe orang
yang cerewet. Tapi saya mengharap kalian
semua yang bekerja di sini mampu bersikap
sebagai orang dewasa yang tahu mana sikap dan
perbuatan yang baik, pantas dan benar, serta
mana yang tidak. Saya tidak suka
memperlakukan kalian seperti anak kecil yang
harus ditegur dan dimarahi."
"Waktu dulu kamu masuk kerja di sini, sudah
tahu kan bahwa kantor dimulai pukul delapan
tiga puluh? Saya harap kamu bisa tetap
bekerja sesuai dengan persetujuan pertama
kita. Dulu kamu tidak keberatan kan? Kenapa
sekarang jadi terlambat terus? Jangan
menunggu ditegur atau dimarahi untuk
berubah."
Poppy merasa bersalah dan minta maaf. Dia
berjanji akan datang lebih. Satu hal yang
paling menggugah hatinya adalah perkataan Pak
Hary yang bunyinya: "Jangan menunggu ditegur
atau dimarahi untuk berubah." Poppy sadar,
selama ini memang demikianlah kebiasaannya
berpikir. Bukan hanya masalah terlambat masuk
kantor. Tapi dalam segala hal, dia selalu
begitu.
Misalnya, dia suka mengejek teman kerjanya
dengan sebutan "Doraemon" karena menurut
Poppy, dia sangat mirip Doraemon. Orang
tersebut hanya tersenyum saja kalau dipanggil
Doraemon. Sampai suatu hari, orang itu
berkeluh kesah kepada sahabatnya. Ternyata
dia termasuk orang yang sangat tidak percaya
diri. Setiap kali dipanggil Doraemon, dia
sebenarnya sangat sedih dan terluka. Rasa
percaya dirinya hilang. Waktu sahabatnya
menyuruhnya menyampaikan hal ini kepada
Poppy, dia tidak berani. Takut menyinggung.
Akhirnya seluruh keluh kesahnya disimpannya
dalam hati.
Sahabat inilah yang kemudian mengatakan
kepada Poppy agar berhenti menyebut orang itu
dengan nama panggilan tersebut. Memang yang
bersangkutan tidak pernah marah, tapi sahabat
ini berkata kepada Poppy, "Dia tidak marah
bukan berarti dia suka dipanggil demikian.
Saya tahu hatinya terluka. Sebaiknya jangan
memanggilnya demikian lagi."
Sebenarnya Poppy heran. Menurut dia,
panggilan itu hanya untuk bercanda kok.
Mengapa mesti sakit hati? Bukankah itu lucu?
Tapi kata orang itu, mungkin saja bagi Poppy
lucu, tapi bagi yang bersangkutan hal
tersebut mengurangi rasa percaya dirinya.
Poppy pun menurut. Dia tidak pernah
menggunakan nama panggilan itu lagi.
Selain itu, kalau tidak ditanya oleh
atasannya mengenai perkembangan kerjanya,
Poppy juga menyadari bahwa dia justru senang.
Untung! Tidak ditanya! Sehingga kalau Pak
Hary tidak menanyakan hasil kerjanya, dia
juga tidak melapor apa-apa. Karena Pak Hary
tidak menegurnya atau marah, dia merasa Pak
Hary tidak keberatan. Jadi Poppy tenang-
tenang saja. Baru kalau ditanya dia melapor.
Kalau tidak ditanya, ya... kebetulan. Aman!
Kini merenungkan semua kebiasaannya dalam
bekerja dan bergaul, Poppy merasa malu
sendiri. Selama ini dia selalu bersikap
seperti anak kecil. Menunggu ditegur atau
dimarahi, baru dia mau mengubah sikapnya.
Betapa bodohnya dia. Kurang peka terhadap
perasaan orang lain. Mempunyai atasan seperti
Pak Hary, yang sabar, tidak cerewet dan
jarang marah, seharusnya dia bersyukur. Eh,
dia malah memanfaatkan sikap Pak Hary demi
kepentingannya sendiri.
Poppy kini memutuskan tidak akan menunggu
ditegur atau dimarahi. Dia akan mencoba lebih
peka dan selalu memperbaiki sikapnya. Dia
tidak akan terlambat lagi ke kantor. Dia
tidak akan memanggil Doraemon. Dia akan
mengubah kebiasaannya sebelum ditegur. Banyak
hal yang harus dia perbaiki. Improve
Yourself! Do not wait!
Sumber:
Menunggu oleh oleh Lisa Nuryanti, Director
Expands Consulting & Training Specialist
Terima kasih
MYusuf.or.id
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ali bin Abi Thalib RA berkata,
"Islam ialah serah diri, serah diri adalah keyakinan,
keyakinan adalah pembenaran, pembenaran adalah ikrar,
ikrar (komitmen) adalah pelaksanaan, dan pelaksanaan adalah amal perbuatan."
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]