Mandikan Aku Bunda....!

Sebagian wanita menganggap tugas wanita lebih sebagai manajer dirumahnya
tanpa perlu
dipusingkan urusan dapur dan merawat anak yang lebih pantas dilakukan oleh
para
bawahan, alias pembantu ataupun baby-sitter. Peran sosial dan aktualisasi
diri
menjadi lebih utama. Disisi lain, tidak sedikit akhwat yang tetap "teguh"
dan bangga
dengan
kesibukan seputar urusan dapur dan diaper ini. Mereka cukup puas dengan
imbalan
surga untuk jerih payahnya membenamkan muka di asap "sauna" mazola (minyak
goreng)
dan berparfumkan aroma popok bayi.

Saya tidak hendak membahas kekurangan dan kelebihan kedua sisi ini.
Seperti saya
tulis di muka. Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya.

Sebut saja Rani namanya.

Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang
tinggi.
Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik,
baik itu
dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika
Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di University
Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah.
Sementara saya,
lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk
beluk
hukum dan perundangan.

Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara " dengan dirinya,
sama-sama
berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika
Rani baru
saja diangkat sebagai Staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani
meraih
PhD.
Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani
semakin
menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu
negara ke
negara lain makin meninggi.

Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?"
Dengan
sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya."

Everything is ok." Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan
perhatian anaknya
walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan.
Alif
tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu
memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya.

" Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek
Alif,
ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah
memang.
Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang
akademis
dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif
minta adik.
Waktu itu Ia dan suaminya
menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum
memungkinkan
untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "dapat
memahami" orang tuanya.

Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua
orang
tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu
menyambutnya
dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh
keluarga
yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh
penuh
cinta.
Diam-diam hati keci saya menginginkan anak seperti Alif.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak
dimandikan baby-sitternya. " Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya. Karuan
saja Rani
yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar.
Tak urung
suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien,
baby-sitternya.
Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan," Bunda, mandikan Alif?"
begitu setiap
pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa
peralihan ke
masa sekolah jadinya agak minta perhatian.

Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. " Bu dokter,
Alif
deman dan kejang-kejang, Sekarang di Emergency". Setelah terbang saya pun
ngebut ke
UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si
Malaikat kecil
keburu dipanggil
pemiliknya.

Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor
barunya,shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah
memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil
terbaring kaku. " Ini bunda, Lif. Bunda
mandikan Alif." Ucapnya lirih, namun teramat pedih.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri
mematung.
Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata," Ini sudah takdir,
iya kan ?
Aku disebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia
pergi juga kan
? ". Saya diam saja
mendengarkan. " Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi,
tetap tegar
dan kuat.

Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani
tertunduk. " Aku
ibunya !" serunya kemudian, " Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri
kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". Rintihan itu begitu menyayat. Detik
berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah ?..

Sekali lagi, saya tidak ingin membahas perbedaan sudut pandang pembagian
tugas suami
isteri. Hanya saja, sekiranya si kecil kita juga bergelayut : "Mandikan
aku, Bunda
." Akankah kita menolak ? Ataukah menunggu sampai terlambat ?

Semoga bermanfaat, amin.

Kirim email ke