Telepon

                Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
                
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=342
                Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
                http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife



                Oleh Lisa Nuryanti*

                Nina sudah dua bulan bekerja di kantor
                tersebut. Sebelum ditempatkan di kantor
                cabang sebagai kepala cabang, dia menempati
                salah satu ruangan di kantor pusat. Kantor
                pusat sangat luas. Semua divisi menempati
                lantai yang sama di salah satu gedung
                perkantoran besar. Senang juga sih bekerja di
                situ.

                Hanya saja, setiap kali ada rapat dengan
                kepala cabang yang lain, Nina selalu
                mendengar satu keluhan yang sama dan berulang-
                ulang. "Karyawan kantor pusat judes semua dan
                galak-galak kalau menerima telepon." Memang,
                meskipun ada operator, tapi setiap karyawan
                bisa mengangkat telepon masuk.

                Tapi setelah setiap rapat mendengar keluhan
                yang sama, Nina merasa penasaran. Begitu juga
                dengan Pak Usman, Direktur Utama. Pak Usman
                sudah berusaha menyelidiki siapa yang
                berbicara judes di telepon, tapi tidak pernah
                ada yang mengaku. Iya dong, masa mengaku
                judes sih? Ntar dimarahi! Karena itulah hal
                tersebut masih menjadi masalah.

                Akhirnya Pak Usman mengambil keputusan untuk
                bertindak. Kebetulan Nina tahu mengenai hal
                ini karena ruang kerjanya tak jauh dari ruang
                kerja Pak Usman. Suatu hari, Pak Usman
                berkunjung ke kantor lain yang berlokasi di
                lantai yang lebih atas. Beliau memberikan
                telepon selulernya kepada resepsionis di sana
                dan minta tolong agar menelepon kantornya dan
                mengatakan ingin bicara dengan Pak Usman.

                Resepsionis tersebut menelepon kantor Pak
                Usman. Dia meminta bicara dengan Pak Usman.
                "Oh, Pak Usman sedang tidak ada". "Ke mana
                mbak?", tanyanya. "Wah, mana saya tahu. Dia
                tidak pernah bilang mau ke mana", jawab
                penerima telepon tersebut. "Kira-kira sampai
                jam berapa ya?" "Aduh mbak, saya nggak tahu!
                Ntar telepon aja lagi sore-sore.". Demikian
                jawaban yang diterima dan langsung diputus.

                Pak Usman mendengar semua pembicaraan itu.
                Dia mengenali suara tersebut. Segera beliau
                kembali ke kantor dan langsung mendatangi
                karyawan tersebut serta menegurnya. Tentu
                saja karyawan tadi tidak mengaku. Tapi, Pak
                Usman dengan sabar mengatakan bahwa beliau
                tahu kejadian yang sebenarnya. Malah Pak
                Usman memiliki rekaman pembicaraan tadi,
                sehingga karyawan tersebut tidak bisa berkata
                apa-apa.

                Beberapa hari kemudian, Pak Usman pergi ke
                Blok M. Di sana beliau mendekati seorang
                penjual pisang goreng, membeli beberapa buah,
                lalu menyerahkan telepon selulernya dan minta
                tolong agar bapak penjual tersebut menelepon
                kantornya dan minta bicara dengan Bapak
                Usman.

                Dengan heran bapak tersebut menelepon dan
                minta bicara dengan Pak Usman. "Pak Usman ada
                Mbak?", tanyanya. "Ini dari siapa?" "Saya
                Mamat." "Ada perlu apa?" "Mau bicara dengan
                Pak Usman." "Ini siapa sih, Pak Usman nggak
                ada.", langsung telepon ditutup.

                Sidak

                Pak Usman juga mengenali suara penerima
                telepon tersebut. Pak Usman segera kembali
                dan bicara dengan karyawan tersebut. Rupanya
                beberapa kali terjadi hal seperti ini. Pak
                Usman sering melakukan sidak atau inspeksi
                mendadak dengan meminta bantuan orang lain
                untuk menelepon ke kantor.

                Rupanya lama-kelamaan, cara tersebut cukup
                memberikan hasil. Para karyawan kantor pusat
                tidak berani lagi bersikap judes atau galak
                di telepon. Sekitar dua bulan kemudian, tidak
                ada lagi keluhan mengenai cara menerima
                telepon.

                Yang membuat Nina heran, kok Pak Usman mau-
                maunya melakukan sidak semacam itu. Tapi,
                memang ketika dulu Pak Usman memberi imbauan
                tentang hal ini, tak seorang pun mau mengaku.
                Setelah Pak Usman menggunakan sistemnya, tak
                seorang pun bisa menghindar. Mereka tidak
                bisa berbohong karena Pak Usman merekam semua
                pembicaraan telepon ketika dia melakukan
                sidak. Wah, betul-betul seperti film cerita
                detektif saja.

                Semua kesalahan terungkap. Ternyata bukan
                hanya judes dalam cara berbicara saja, ada
                juga yang judes dalam tindakan. Salah satu
                yang paling sering terjadi adalah, ketika
                orang menelepon ke kantor pusat dan berkata:
                "Bisa bicara dengan Pak Usman?", tiba-tiba
                penerima telepon langsung mentransfernya ke
                telepon lain, tanpa berkata apa-apa. Tiba-
                tiba hanya terdengar bunyi 'tek', bunyi
                telepon diletakkan, lalu langsung terdengar
                nada tunggu tanda telepon sedang ditransfer.
                Betul-betul tidak sopan.

                Sudah begitu, kemudian ada lagi orang lain
                yang mengangkat dan berkata: "Halo?". "Ya
                halo, bisa bicara dengan Pak Usman?", dan
                terulang lagi hal yang tadi, ditransfer tanpa
                bicara apa pun. Aduh. Benar-benar membuat
                orang yang menelepon merasa sakit hati. Pak
                Usman sampai marah dengan kejadian ini.

                Seluruh karyawan kemudian diminta rapat.
                Semua hasil rekaman Pak Usman diputar dalam
                rapat tersebut. Ada yang tertawa
                mendengarnya, ada yang geleng-geleng kepala,
                ada yang tersenyum malu, ada yang merasa
                prihatin, ada yang sedih, ada juga yang
                merasa kesal.

                Akhirnya Pak Usman meminta semua agar
                karyawan saling memperbaiki cara mereka
                menerima telepon. Mereka juga diminta untuk
                saling mengingatkan apabila ada yang masih
                galak ketika bicara di telepon.

                Ketika seminggu kemudian Nina pindah ke
                kantor cabang, dia bisa merasakan hasil dari
                usaha Pak Usman. Tidak ada lagi karyawan
                kantor pusat yang judes atau galak ketika
                menerima telepon. Sekarang semua orang kantor
                pusat ramah-ramah. Tapi ada satu hal yang
                diinginkan Nina. Nina ingin semua karyawan di
                kantor cabangnya juga ramah. Caranya? Dia
                ingin menjadi contoh bagi semua orang. Be
                Nice! Be an
                example!

                * Lisa Nuryanti, Director Expands Consulting
                & Training Specialist


   Terima kasih
   MYusuf.or.id
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Dan jika Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja),
   tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki
   dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
   Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.
   - [An Nahl: 93] -
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke