Sebuah cerita yang mengharukan yang saya
                dapat dari internet.

                Sejak kematian Bapak, saya selalu
                menyempatkan diri ke rumah Ibu. Saya tahu ini
                akan susah dilakukan. Karena selain
                kesibukan, saya sudah mempunyai keluarga
                sendiri yang juga perlu diperhatikan. Apalagi
                rumah saya yang jauh dari rumah Ibu, yakni
                pinggiran kota.

                Meski begitu saya memaksakan diri untuk
                bertemu minimal sekali seminggu. Biasanya
                saya lakukan waktu shalat Jumat. Kalau sudah
                waktunya shalat Jumat, saya pergi ke rumah
                Ibu langsung dari kantor. Tidak jauh sekitar
                15 menit. Kemudian shalat jumat di sekitar
                rumah. Setelah itu makan siang yang sudah
                disiapkan oleh Ibu. Tentu saja makanan sedap
                favorit saya. Meski sederhana, rasanya
                nikmat. Karena saya sudah biasa dengan rasa
                seperti itu.

                Setelah ngobrol-ngobrol saya kembali ke
                kantor. Saya tahu ini tidak lama sekitar
                beberapa jam. Dan mungkin tidak berarti. Tapi
                saya berniat dan berusaha untuk tetap
                berkontak, berkomunikasi dan bercengkerama
                langsung. Tidak sekedar telpon atau malah sms-
                an saja.

                Ini saya tunjukkan sebagai rasa terima kasih
                dan bakti saya ke orang tua. Karena tidak
                hanya materi tapi yang lebih penting
                kunjungan. Jadinya saya bersyukur telah
                mengambil keputusan untuk tetap bertahan di
                Surabaya, meski saya terpaksa harus
                mengundurkan diri dari perusahaan besar yang
                keren dan terkenal di seluruh Indonesia.
                Suatu keputusan yang berat. Karena di saat
                krisis moneter itu, banyak perusahaan jatuh
                dan penganguran tinggi, tapi saya menutuskan
                untuk menganggur. Karena hanya ingin tidak
                jauh dari Ibu.

                Karena hanya dengan bercengkerama saya bisa
                sedikit untuk menunjukkan bakti dan terima
                kasih ke orang tua khususnya Ibu.

                ======================

                Oh Anak...

                Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
                
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=348
                Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
                http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife


                Satu per satu anakku, setelah menikah, pergi
                meninggalkanku. Sementara aku, sejak suamiku
                meninggal tiga bulan lalu, tetap tinggal di
                rumah besar kami di Tebet bersama dua orang
                perempuan yang sudah 22 tahun bekerja padaku,
                seorang sopir sekaligus tukang kebun, serta
                seorang keponakan suamiku yang kedua
                orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan
                pesawat terbang.

                Suamiku sudah menyiapkan rumah untuk anak-
                anak kami, yang disewakannya kepada orang-
                orang. Setelah mereka menikah barulah ia
                memberikan kunci rumah-rumah itu. Ia
                membelinya saat memiliki jabatan tinggi di
                sebuah departemen dan memperoleh 'uang lain-
                lain' dari orang-orang yang mengharapkan
                langkahnya tidak terhalang sebutir
                kerikilpun. Ia melakukannya karena ingin anak-
                anaknya mengenang dia sebagai ayah yang
                bertanggung jawab.

                Suamiku meninggal akibat gagal jantung
                setelah 12 tahun pensiun. Sehari sebelumnya
                ia sempat berbicara kepadaku, telah merasa
                lengkap menjadi ayah karena melihat semua
                kejadian terhadap anak-anaknya: lahir, besar,
                bersekolah, menyelesaikan pendidikan hingga
                perguruan tinggi, bekerja, menikah, tinggal
                di rumah-rumah yang diberikannya, dan
                memiliki anak. Ia dimakamkan di sebuah
                pemakaman luas sesuai yang pernah ia
                pesankan.

                Hingga kini aku merasa ia masih ada di dalam
                rumah kami. Menjelang jam tujuh pagi, lima
                sore, sembilan malam, aku masih selalu pergi
                ke dapur, membuatkan secangkir teh manis
                untuknya. Anakku yang nomor satu rupanya
                mendapat cerita ini dari keponakan suamiku
                yang tinggal bersamaku. Maka tadi sore ia
                datang dan meminta aku tinggal di rumah
                besarnya di Ciputat.

                Berkali-kali aku menolak, tentu karena aku
                merasa kasihan pada mendiang suamiku, tapi ia
                tetap berkeras seperti ayahnya. Ia mengatakan
                akan lebih mudah baginya untuk memantau dan
                mengurusku jika aku tinggal bersamanya. "Di
                kamar besar yang lain Mama bisa meletakkan
                semua buku milik Mama. Kalau tetap di sini
                Mama akan terus bersedih. Biarlah rumah ini
                Suci yang menjaga dan mengurusnya bersama
                Mbak Tar, Mbak Mi dan Bang Ali." Akhirnya aku
                menyetujui saja.

                Malam hari aku sering menangis mengingat
                suamiku. Sementara anak-anakku, selama dua
                bulan aku di sini, tidak pernah ada yang
                datang. Dan anakku yang nomor satu jarang
                sekali bertemu denganku. Ia pergi pagi ketika
                aku masih mengaji di kamar, dan pulang begitu
                malam ketika aku sudah tertidur. Dalam
                seminggu mungkin aku hanya bertemu dengannya
                dua atau tiga kali. Bahkan bisa tidak sama
                sekali.

                Aku sering mengingat masa ketika mereka
                kecil. Waktu itu setiap hari aku bisa bertemu
                mereka. Lalu ketika mereka masuk perguruan
                tinggi dan bekerja, aku pun mulai jarang
                bertemu. Lalu ketika mereka menikah dan
                tinggal di rumah-rumah yang diberikan
                suamiku, memiliki anak dan sibuk dengan istri
                atau suaminya, aku sudah tidak banyak
                berharap mereka akan mudah kutemui.

                Sekarang apa yang aku dapat? Sebuah senyuman
                dan sapaan setiap pagi hari pun tidak.
                Terlebih kata terima kasih atas jerih-payahku
                melahirkan, mendidik, membesarkan, dan
                menyenangkan mereka. Aku tidak bermaksud
                meminta balasan. Tetapi bagaimanapun
                menurutku mereka seharusnya tahu diri dan
                tahu berterimakasih. Padahal sejak mereka
                kecil aku dan suamiku selalu mengajarkan
                untuk tidak melupakan kebaikan seseorang.

                Anakku yang nomor satu, hari ini memutuskan
                mengirimku ke sebuah panti jompo, setelah
                istri dan ketiga anaknya sering mengeluhkan
                aku yang selalu menangis tengah malam ketika
                aku teringat suamiku, karena katanya
                mengganggu tidur mereka. Dua minggu lalu ia
                mengundang adik-adiknya datang. Ketika semua
                berkumpul, kecuali anakku yang nomor empat
                yang tinggal di Australia, ia memberitahukan
                keinginannya. "Lagipula Mama tidak mungkin
                kita biarkan kembali ke Tebet. Terlalu banyak
                kenangan tentang Papa di sana yang bisa
                membuat Mama sedih." Dua bulan lagi umurku 68
                tahun.

                Setelah satu tahun aku di tinggal sini, hanya
                Lebaran lalu saja anak-anakku datang.
                Sementara si Tar, si Mi, si Ali, serta
                keponakan suamiku yang pernah delapan tahun
                tinggal bersamaku, hampir setiap akhir pekan
                menjengukku.

                Hari itu semua anakku datang bersama suami,
                istri, dan anak-anak mereka. Hanya yang nomor
                empat tidak datang, karena katanya uang
                jutaan rupiah untuk membeli tiket pesawat
                bagi tiga orang ke Jakarta lebih baik
                disimpannya di bank. Ia hanya mengirim kartu
                Lebaran disertai tulisan dan tanda tangannya.

                Sedangkan cucu pertamaku memilih pergi ke
                rumah kekasihnya. Katanya karena ia segan.
                Ingat, segan. Segan bertemu neneknya. Padahal
                dahulu aku yang sering membersihkan
                kotorannya dan mengganti popok bila ia datang
                ke rumahku bersama orangtuanya. Lalu hingga
                kini tidak pernah lagi mereka datang.

                Hanya anakku yang nomor satu yang selalu
                mengirim ini dan itu kepadaku, biasanya
                berupa buku-buku terbaru psikologi, filsafat,
                sejarah, sastra, agama, sosial, seni, budaya,
                tentu saja, melalui sopirnya.

                Setiap pukul 04.30 aku bangun, mandi dengan
                air hangat yang keluar dari pancuran di bath-
                tub, sholat subuh, dan mengaji. Di sini kami
                seperti di rumah sendiri. Bangun jam berapa
                saja kami berkeinginan. Sarapan dan makan pun
                bebas memilih. Anak-anak telah membayar
                sangat tinggi untuk menitipkanku di sini. Aku
                jadi teringat masa ketika indekos ketika aku
                belajar psikologi. Hanya kini aku tidak
                tinggal bersama gadis-gadis cantik dan tidak
                untuk menuntut ilmu apa-apa. Hanya menunggu
                ajal.

                Tepat pukul 06.00 kami yang sudah bangun
                dianjurkan berkumpul di halaman depan untuk
                berolahraga. Cukup tiga puluh menit sekadar
                untuk meregangkan otot-otot tua kami. Setelah
                itu kami diminta untuk membersihkan diri,
                mandi pagi lagi kalau mau. Pukul 08.00
                biasanya kami akan berkumpul di ruang makan
                untuk sarapan. Mereka yang bangun terlambat
                dan tidak ingin berolahraga dan tidak ingin
                sarapan di ruang makan, bisa meminta petugas
                mengantarkan sarapannya ke kamar.

                Setelah itu hingga pukul 16.00 kami
                dipersilakan melakukan kegiatan apa saja
                sesuai keinginan: merajut, melukis, menulis
                surat untuk anak-anak kami, bermain catur,
                berkebun, membaca, menonton TV, mendengar
                radio, berbincang-bincang dengan teman-teman
                lain, atau tidur siang. Dan setiap pukul
                16.30 kami biasanya akan duduk-duduk di teras
                panti sambil menikmati secangkir teh manis
                dan kue-kue kecil.

                Setelah itu kami diminta untuk mandi sore.
                Pukul 19.00 kami kembali berkumpul di ruang
                makan. Malam ini aku menikmati segelas air
                teh manis hangat, nasi putih, perkedel
                kentang, dan semur ikan bandeng dengan kuah
                kental kesukaanku. Hari ini tepat tiga tahun
                aku masuk panti.

                Aku, karena sejak muda mempunyai kegemaran
                membaca, setiap hari selalu hanya membaca.
                Apa saja aku baca. Majalah berita, koran
                pagi, tabloid perempuan, dan majalah
                perempuan yang dilanggani panti, tidak pernah
                kulewatkan, juga buku-buku di perpustakaan.
                Selama lima tahun di sini, aku sudah membaca
                semua buku yang ada di sana, dan tentu saja
                puluhan lainnya kiriman anakku yang nomor
                satu.

                Hari ini aku membaca sebuah buku filsafat.
                Sudah dua hari aku membacanya, dan tampaknya
                hari ini pun belum akan selesai. Padahal
                ketika muda dahulu satu buku tebal kubaca
                hanya dalam waktu satu hari, dan buku sedang
                cukup setengah hari saja. Setelah tua aku
                menjadi mudah letih dan mengantuk. Kemarin
                aku sulit sekali meneruskan buku itu. Aku
                tiba-tiba saja kembali memikirkan suamiku dan
                juga umurku yang sudah semakin tua. Aku tahu
                aku tidak akan lama lagi di sini. Teman-teman
                sebayaku semasa di perguruan tinggi, sudah
                banyak yang tiada.

                Dulu aku memiliki ratusan buku yang kubeli
                sejak umurku belasan tahun. Sebelum tinggal
                di sini, aku ingat jumlahnya sekitar 524
                buah. Tersimpan rapi di perpustakaan pribadi
                di rumahku. Aku percaya anakku yang nomor
                tujuh akan menjaga buku-buku itu. Kebetulan
                ia mempunyai kegemaran yang sama denganku,
                meski sebenarnya keenam anakku yang lain,
                serta suamiku, juga memiliki kegemaran yang
                sama. Hanya saja karena ia yang paling banyak
                menghabiskan waktu bersamaku maka aku percaya
                ia akan menjaganya. Ketika masih tinggal
                bersamaku hampir setiap awal bulan ia
                menemaniku pergi ke toko buku, membeli buku-
                buku kegemaranku. Kebetulan aku paling
                menyukai buku psikologi, karena ilmu itulah
                yang mampu membuatku tertarik masuk ke sebuah
                fakultas hingga menyelesaikannya.

                Tetapi sudah sepuluh tahun ini aku tidak
                melakukannya. Meski berkeinginan, namun
                semuanya kini hanya ada di dalam angan-angan
                dan kenangan-kenanganku. Untunglah anakku
                yang nomor satu selalu mengirimkan buku-buku
                kegemaranku terbaru. Jadi aku tidak terlalu
                mengharapkan buku-buku di perpustakaan panti
                yang hanya beberapa puluh saja. Ketika minggu
                kedua tinggal di sini pernah kutanyakan
                kepada petugas, mereka hanya menjawab, "Uang
                panti tidak cukup, Nyonya."

                "Bukankah anak-anak kami sudah membayar
                sangat tinggi untuk menitipkan kami di sini?
                Jadi bagaimana mungkin tidak cukup?"
                "Saya hanya petugas, Nyonya. Urusan uang
                ketua yayasan yang mengatur. Lagipula Bapak
                pernah mengatakan orang-orang tua di sini
                tidak terlalu suka membaca."
                "Begitu? Bagaimana dia tahu?"
                "Bapak memang jarang datang ke sini, Nyonya.
                Maklumlah usaha Bapak tidak hanya panti ini."
                "Saya punya banyak buku di rumah. Boleh saya
                menyumbangkannya?"
                "Dengan senang hati, Nyonya. Dengan senang
                hati."

                Tetapi ternyata anakku yang nomor tujuh tidak
                memperbolehkannya. Di telepon ia mengatakan
                buku-buku itu terlalu berharga karena ada
                yang sudah berumur puluhan tahun dan sudah
                tidak beredar di pasaran. Ketika kukatakan
                buku-buku itu akan lebih berharga jika dibaca
                orang lain, ia tetap tidak memperbolehkannya.
                Katanya karena ia membaca pula buku-buku itu.
                "Lagipula anggaplah sebagai warisan yang Mama
                berikan untukku." Anak-anakku, mereka tidak
                pernah puas hanya menerima.

                Dua hari lalu umurku 79 tahun. Aku tahu tidak
                akan lama lagi di sini. Hingga malam, ketujuh
                anakku tidak ada satu pun datang atau sekedar
                menelepon. Hanya datang si Tar, si Mi, si
                Ali, serta keponakan suamiku yang pernah
                delapan tahun tinggal bersamaku.

                Baru hari ini anakku yang nomor satu mengirim
                kado berisi selimut tebal dan kartu ucapan
                buatan pabrik. Kado itu diantar seorang
                sopirnya.

                Ingat, sopir. Dia tidak bisa datang, kata
                sopirnya, karena sibuk bekerja. Ingat, sibuk.
                Sekali lagi ingat, sibuk. Padahal dahulu
                ketika masih tinggal bersamaku, aku selalu
                menyiapkan masakan istimewa buatanku di hari
                ulang tahun mereka dan merayakannya bersama-
                sama.

                Bila tahu akan seperti ini, demi Tuhan, aku
                tidak bersedia melahirkan mereka. Dan aku
                tahu, suamiku, pasti menyesal telah
                menghidupi mereka. Ya!

                [kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak
                sepenggal galah... kasih ibu
                sepanjang masa, kasih anak sepenggal masa...]


                Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)



   Terima kasih
   MYusuf.or.id
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Alangkah indahnya mahkota, tetapi lebih indah jika ada di kepala 
seorang raja.
   Alangkah indahnya mutiara (perhiasan), tetapi lebih indah jika ia 
menghias leher si gadis.
   Alangkah indahnya nasihat dan pelajaran,
   tetapi lebih indah bila disampaikan oleh seorang alim yang saleh 
dan bertakwa.
   - [Ulama] -
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke