Pegawai Negeri Makan Sate
Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=355
Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife
Ada seorang pegawai negeri yang saleh pulang
kerja lembur pada akhir bulan. Sementara
pulang, dalam keadaan perut lapar sehabis
lembur, dia berpikir alangkah enaknya kalau
sampai di rumah nanti makan nasi panas dengan
lauknya yang dibuat isteri tercintanya.
Setelah sampai rumah dia disambut isterinya
lalu cuci tangan dan minta disediakan makan.
Isterinya menyampaikan bahwa makanan yang ada
tinggal nasi dan hanya sedikit sayur bayam
tanpa lauk. Sebagai orang yang saleh si
pegawai negeri bersyukur karena menyadari
bahwa setiap akhir bulan uang pasti sudah
habis sehingga bisa makanpun sudah syukur.
Tiba-tiba dia punya ide alangkah nikmatnya
kalau sore itu makan dengan sate ayam yang
ada di dekat rumahnya karena sehabis lembur
dia dapat uang transport yang bisa dipakai
jajan sate ayam. Namun dia berpikir alangkah
egoisnya kalau dia makan sate sendirian dan
isterinya tidak. Dan besok mereka harus makan
apa kalau uangnya dipakai jajan sate. Makan
sate berdua dengan uang transport yang
didapat barusan tidak cukup.
Sebagai orang yang saleh dia memutuskan untuk
memberikan uangnya kepada isterinya untuk
membeli lauk pauk untuk besoknya. Tapi sore
ini lauknya tidak ada. Maka pikirnya mungkin
nikmat juga kalau dia makan nasi panas di
dekat penjual sate sebab jika bisa mencium
baunya saja rasanya sudah seperti makan sate
sungguhan. Maka berangkatlah dia sambil bawa
nasi sendiri ke dekat tukang sate. Tentu dia
cari posisi duduk dimana angin bertiup. Maka
makanlah si pegawai negeri itu dengan lahap
sambil tersenyum, rupanya nikmat juga
walaupun hanya mencium bau sate.
Lalu selesailah sudah makannya dan perut
sudah kenyang tetapi alangkah terkejutnya
ketika mau pulang dia ditagih penjual sate
untuk membayarnya. Dia berdalih bahwa dia
tidak makan satenya. Jawab tukang sate ngotot
bahwa kalau tidak ada bau sate yang dia bikin
tentu tidak bisa makan dengan lahap.
Lanjutnya bahwa dia duduk dekat tempat
jualan sate memang dengan sengaja mau mencium
aroma sate sebagai lauk makannya. Tukang sate
tetap menuntut bayaran atas aroma sate itu.
Bingunglah si pegawai negeri ini atas
tuntutan si penjual sate karena tidak punya
uang sama sekali. Ketika tanya berapa harus
bayar maka tukang sate menjawab kalau nasi
sate 5 ribu rupiah maka untuk mencium dengan
sengaja aroma sate cukup seribu saja. Cukup
fair juga tukang sate itu.
Sementara berdebat kebetulan datanglah ketua
RT setempat, seorang tua yang dikenal
bijaksana, ketempat itu untuk membeli sate.
Maka mengadulah mereka masing-masing dengan
argumentasinya kepada orang tua bijaksana
ini. Mereka berjanji apa saja yang diputus
kan orang tua ini akan mereka turuti karena
mereka tahu pasti akan ada jalan keluar.
Pikir tukang sate pastilah dia akan dibayar,
tetapi pikir si pegawai negeri pastilah tidak
akan disuruh membayar karena memang tidak
pernah merasakan sate kecuali aromanya saja.
Terjadilah suasana hening menunggu keputusan.
Lalu orang tua itu berkata bahwa si pegawai
negeri memang harus membayar karena dengan
sengaja telah mencium aroma sate dengan
tujuan sebagai lauknya meskipun hanya dalam
bayangannya. Maka terkejutlah si pegawai
negeri dan tersenyumlah si tukang sate atas
keputusan itu. Si pegawai negeri terhenyak
berpikir bagaimana dia harus membayarnya
karena tidak punya uang.
Mendadak orang tua bijaksana itu merogoh
kantongnya dan mengeluarkan uang recehan
seratusan dan dua ratusan dari kantong
celananya dan mulai menghitung seratus, dua
ratus, lima ratus, cring.., cring... cring...
sampai genap seribu rupiah. Semua mata
memperhatikan tangan orang tua ketika
menghitung uangnya.
Lalu katanya kepada penjual sate, "Apakah
anda melihat uang yang saya hitung jumlahnya
seribu ?".
Jawab tukang sate, "Benar".
Orang tua itu juga bertanya, "Apakah anda
juga mendengar gemerincing uang yang saya
hitung?"
Jawab tukan sate pula, "Benar".
"Baiklah kalau begitu", kata orang tua bijak
sana kepada kedua orang yang bersengketa,
"Persoalan ini telah selesai".
Terkejutlah si tukang sate bagaimana akhirnya
bisa begini. Orang tua itu menjelaskan, "Yang
satu dituntut membayar karena telah mencium
aroma sate dan yang lain tentu juga harus
puas telah dibayar setelah melihat dan
mendengar gemericingnya uang seribu rupiah,
karena yang satu hanya dapat "makan sate"
dalam bayangannya maka cukuplah adil yang
lainya juga dibayar dengan "melihat dan
mendengar" uangnya saja ..."
Pesan moralnya bahwa ada banyak pesan agama
yang sangat berguna yang telah didengar,
dilihat bahkan dirasakan, tetapi ternyata
hanya sampai di pikiran atau menjadi
pengetahuan saja, namun tidak benar-benar
dialami atau dilakukan.
Banyak ajaran melalui Aa' Gym, dan para Da'i
juga para pendeta kristen maupun Hindu, Budha
yang telah didengar, dipahami, bahkan dapat
dirasakan kebenarannya, tetapi apakah ini
hanya semacam "bau sate" saja, tetapi tidak
pernah dialami atau dilakukan ? Meskipun
ketika mendengar sangatlah tersentuh dengan
kepala manggut-manggut bahkan sampai
menagis.............
Semoga memberi inspirasi.
Terima kasih
MYusuf.or.id
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
...Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku,
maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku,
dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.
- [Thaahaa: 123] -
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]