Gila Bank Kita, Ampun...
                http://www.yusuf.web.id/v20/blog/index.php?act=detail&p_id=453


                Istirahat tadi mampir ke bank. Maksud hati
                ambil uang dari rekening 'duwek lanang he..
                he..' Ini uangnya  untuk service rem depan
                sepeda motor yang sudah aus. Hujan-hujan gini
                perlu perhatikan rem.

                Masuk bilik ATM, aku sempatkan baca
                pengumuman yang ditempel di dinding. He..
                he.. kebetulan tidak ada yang antri, jadi aku
                nggak berdosa kalau lama-lama di bilik ATM.
                (Satpam yang perhatikan aku pasti sewot).

                Ya ampun, gila! (ke-1) Pengumuman itu adalah
                kenaikan biaya administrasi. Biaya ATM yang
                semula 3.500 menjadi 5.000. Administrasi bank
                yang 10.000 menjadi 15.000. Total sebulan
                jadi 15.000.

                Aku ingat-ingat bunga yang kudapat sebulan
                nggak sampai 2.500. Karena aku nulis ini,
                maka aku cek lagi transaction list supaya
                data jadi valid. Ya ampun, gila! (ke-2).
                Tidak dapat bunga sama sekali.

                Awalnya aku cek di internet, tidak ada
                transaksi kiriman bunga. Penasaran, aku ingat
                aku simpan laporan transaksi yang dikirim via
                surat, juga tidak ada transaksi bunga.

                Selama ini aku memang tidak perhatikan
                masalah bunga ini. Karena seingatku kecil
                sekali. (Dan memang aku tidak berniat mencari
                bunga)

                Kembali ke ATM Bank, aku masukkan ATM dan
                tangaku mulai beraksi. Pertama masukkan PIN
                lalu pilih jumlah lain. Nilai yang ada di
                situ terlalu besar, aku hanya butuh 50.000.
                Karena 2 hari lalu hanya kena 48.000 untuk
                hal yang sama di sepeda motor yang lain.
                Lagian uangku memang geblek tidak sebesar
                itu.

                Tanganku sudah stand by di tempat keluar
                uangnya. Tapi uangnya tidak kunjung keluar.
                Yang keluar malah error di monitor: Saldonya
                tidak mencukupi ! Gila, ya ampun (ke-3).

                Seingatku saldonya masih di atas 100.000. Aku
                coba cek lagi, ternyata saldonya masih
                107.502. Kalau diambil 50.000 kan masih ada
                57.502 kan ? Kalau saldo tidak mencukupi,
                lalu minimal saldo berapa ? 50.000 sudah aku
                pikir cukup banyak. Saldo ini kan tidak bisa
                diambil habis.

                Lalu aku cek websitenya. Mutar-mutar, tidak
                aku ketemukan berapa saldo minimum yang harus
                disisakan. Geblek! ini pembuat websitenya.
                Tidak ada FAQ, tidak ada help,.. Kontaknya
                disuruh telpon.

                Gila benar bank ini (gila ke-4), sampai tidak
                mau menyediakan orang untuk menjawab
                pertanyaan dari internet.
                Kalau nggak mau nyediaikan, kenapa nggak
                dibuat help atau FAQ. Pusing,...

                Kanvas rem belum diganti, sudah tambah
                pusingnya. Karena pusingnya tidak ada
                jawabannya, makanya aku mau curhat di sini
                saja. Biar pusingnya juga di share di sini.

                Aku tidak mau telpon, karena keluar lagi
                pulsa. Keluar lagi duit. Sudah biayanya
                mahal, tidak pakai bunga, harus keluar biaya
                lagi. Gila, ampun (yang ke-5).

                Lalu aku jadi ingat, artikel internet yang
                kubaca 2 hari lalu, yang menanyakan peran
                bank sebagai agen pembangunan. Uang sudah
                dikumpulkan bank tapi hanya sedikit yang
                dikembalikan ke masyarakat sebagai modal
                pembangunan. Itupun dengan bunga tinggi.
                Padahal bunga yang diberikan ke penabung
                kecil (untuk aku malah tidak ada).

                Aku juga ingat seorang teman, yang teriak-
                teriak dan mengutuk-ngutuk bank. Katanya,
                bank mencekik-cekik kita dengan penampilan
                mereka yang parlente. Dia memang benar-benar
                tercekik tagihan 6 kartu kredit yang menggila
                (ke-6). Kelak aku juga kaget dengar curhat
                kakak, yang anaknya terlilit hutang kartu
                kredit 20 juta! Gila beneer (ke-7). Padahal
                masih muda, bujang dan belum lama kerjanya.
                Jadi yang pusing orang tuanya dan kerabatnya
                (saya dan istri he.. he..).

                Dan kesopanan bank yang gila (ke-8). Bukankah
                baik Suf ? Memang kesopanan bank baik bahkan
                sangat baik. Mulai dari masuk ke halaman bank
                sampai keluar lagi, akan disambut dengan
                keramahan dan kesopanan di atas rata-rata.
                Tapi ternyata parlente, wangi, dan sopannya
                ini harus aku bayar. Ihik-ihik,..

                Jadi aku mikir dengan pegawainya.
                Bagaimanakah dengan nasib uang yang mereka
                terima ? Tegakah mereka makan dari hal ini
                semua ? (di luar masalah bank itu riba atau
                nggak ya. Kalau riba jelas uangnya jadi
                haram. Aku hanya menanyakan tegakah)

                Apes,... Apa aku harus menabung lagi di bawah
                bantal saja. Masak kembali ke jaman batu ?
                Kalau jawaban bank, "Ya kamu sendiri yang
                ngotot nabungkan ke sini, suka-suka aku kan
                ?"

                Gila-gila (entah yang keberapa nih,...)

                ~~~




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke