Ini adalah artikel "Tuhan" yang ditulis oleh DR Soe
Tjen Marching & sudah diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia. Beliau adalah penasehat sekolah Mandala di Surabaya.
Beliau akan mengadakan seminar tentang "Pornografi & anak-anak" di Sekolah
Mandala (Potro Agung II no.6 Surabaya) pada tanggal 15 Juni,
jam 14.00.
Sekolah Mandala
Potro Agung II no.6 Surabaya
--------------------------------------------
TUHAN
> Soe Tjen Marching**
>
> Kalau Tuhan benar-benar ada, maka sudah seharusnya dia
> dimusnahkan,
> kata seorang filsuf Rusia Mikhail Bakunin. Tuhan yang
> menyerang Jemaah
> Ahmadiyah dan Tuhan yang saya pelajari di bangku sekolah
> membuat saya
> mengamini Bakunin. Tuhan, yang harus ditulis dengan huruf
> besar
> sebagai tanda keagungan-Nya. Tuhan yang lelaki, atau paling
> tidak yang
> mempunyai kekuasaan patriarki, dan yang membuat mulut bocah
> saya
> terbungkam ketika hendak melontarkan pertanyaan:
> "Mengapa perempuan
> tidak bisa menjadi pastor?"
>
> Namun, mengapa manusia mempercayai Tuhan yang seperti ini?
> Ketercengangan, kebingungan dan keresahan manusia akan alam
> terkadang
> menuntunnya untuk mencari Yang Maha Kuasa. Karena itulah,
> manusia
> sempat menyembah gunung, matahari atau cahaya apa saja dari
> langit.
> Karena bagi mereka, Tuhan tidak lain dan
> tidak bukan adalah Yang paling ditakuti. Kepercayaan pada
> yang maha
> kuasa memang sering didasarkan pada ke-egoisan.
>
> Karena manusia ingin diselamatkan, diberkahi dan diberi
> rejeki yang
> melimpah dari yang disembah, mereka bahkan mencoba menyogok
> Tuhan
> dengan sesaji. Tidaklah heran bagi manusia seperti ini,
> Tuhan adalah
> diktator yang selalu menuntut.
> Tuhan yang pencemburu, yang begitu murka ketika manusia
> melupakanNya.
> Keberadaan Tuhan seperti ini begitu tergantung pada
> manusia. Dengan
> kata lain, dia serupa dengan manusia yang menyembahNya:
> sebuah
> keberadaan yang menuntut dan tidak mandiri. Yang tak rela
> diduakan. Yang selalu tergantung pada elu-eluan
> penyembahnya. Tuhan dengan krisis identitas.
>
> Dan tidaklah heran, bila Tuhan semacam ini dapat ditemukan
> dalam sosok
> pemerintah otoriter: pada Firaun Mesir yang mengaku sebagai
> utusan
> Tuhan, dalam sosok Kaisar Jepang yang menjadi wakil Yang
> Maha Tinggi,
> atau pada pemerintah Kerajaan Inggris kuno. Bahkan juga
> dalam pejabat tinggi negara kita yang memaksa para warganya
> untuk menulis agama mereka. Dan dalam keroyokan yang
> mengamuk, merusak dan
> menyerang insan-insan yang tak mempercayai Tuhan tertentu.
>
> Tuhan seperti ini menjadi simbol patriarki, yang melahirkan
> dualisme
> tajam: Yang Kuasa dan pengikutNya. Namun, ambisi manusia
> untuk memuja
> terkadang sama besarnya dengan ambisinya untuk dipuja.
> Karena itulah,
> Tuhan dan pengikutnya seringkali menjadi cermin yang
> memantulkan
> persona yang sama. Dan karena itu pula, si pengikut dapat
> berlaku
> seperti Tuhan mereka: penghukum yang tak kenal
> ampun. Bahkan lebih parah, karena dalam si pengikut, apa
> yang abstrak
> dan menjadi metafor, dapat menjadi nyata dalam tindakan
> mereka. Apa
> yang menjadi kata, tiba-tiba menjadi kekejaman yang
> mengakibatkan
> tangis dan membawa mangsa.
>
> Penggambaran Tuhan sebagai Yang Maha Tinggi, Yang Maha Esa,
> seakan
> tidak lain adalah cara manusia untuk menjadi narsis. Karena
> gambaran
> seperti inilah yang
> memberi kesempatan manusia untuk memahkotai diri mereka
> sendiri dengan
> gambaran yang begitu melambung dan dilambungkan.
> Kemarahan para pengeroyok terkadang disebabkan oleh
> kekecewaan narsis
> mereka. Ketika Tuhan mereka digambarkan berbeda, ketika
> kelompok lain
> menawarkan interpretasi yang berlawanan dari ide mereka,
> ketika
> manusia layaknya Musdah Mulia (yang membela LGBT) atau
> Ahmadiyah yang
> mempunyai pandangan baru tentang Tuhan, ego pengeroyok
> inilah yang
> telah tersakiti. Karena pada saat
> itu, para narsis ini tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa
> harapan
> mereka tak akan pernah sampai. Narsis yang tidak siap untuk
> merombak
> keyakinan mereka atau
> paling tidak mendengar keyakinan yang lain. Namun, narsis
> yang marah
> karena kekecewaan. Karena Tuhan mereka tidaklah selalu
> benar, besar,
> dan kekar.
>
> Inilah salah satu alasan yang membuat atheis meninggalkan
> Tuhan. Bagi
> banyak atheis, hanyalah dalam sains-lah kebenaran dapat
> diungkap.
> Dengan bukti dan akal. Namun, sains sendiripun seringkali
> relatif dan
> dapat disanggah: Teori Newton dipatahkan oleh Einstein yang
> menawarkan
> teori relativitas. Teori Einstein ditentang lagi oleh Neils
> Bohr yang
> menyatakan bahwa teori Einstein tidak cukup relative karena
> Einstein
> luput mengindahkan karakter kuantum mekanik
> yang tak pernah konstan, dan yang selalu terpengaruh oleh
> subyektifitas sang peneliti. Neils Bohr-pun disanggah lagi
> oleh
> Everett, dan seterusnya dan
> seterusnya. Memang, dalam pencariannya akan kebenaran,
> manusia tak
> pernah dapat menemukan jawaban akhir yang pasti.
>
> Dan bukankah pencarian akan Tuhan dapat dibandingkan dengan
> pencarian
> dalam sains? Karena keduanya menyiratkan
> pertanyaan-pertanyaan akan
> keberadaan, kehidupan dan asal galaksi kita, dan asal kita
> sebagai
> manusia.
>
> Karena bila kita berani untuk mencari dan mencari lagi akan
> kebenaran,
> kita akan ditarik pada labirin yang berlapis dan tiada
> habisnya. Dalam
> pusaran-pusaran teori, tanya, jawab dan kebimbabangan, yang
> di
> dalamnya selalu ada jurang begitu
> dalam yang belum pernah kita lihat. Yang tak akan dapat
> kita kunjungi.
> Namun, hal inilah yang terkadang membuat saya terus mencari
> dan mencari.
>
> Pada suatu renungannya akan Tuhan, Einstein menyatakan
> bahwa ada suatu
> keindahan yang tiada tara, yang tak pernah dapat kita
> mengerti.
> Sesuatu yang membuat kita tersentuh dan beriman. Dan karena
> ketidak-mengertian inilah, Einstein terus mencari.
> Memang, ketidak sabaran akan jawaban yang serba cepat,
> keinginan untuk
> mengambil jalan pintas dan ambisi akan kekuasaanlah yang
> dapat
> menuntun manusia untuk
> merumuskan Tuhan yang satu, yang kaku. Walaupun di dunia
> ini, terdapat
> bermacam-macam Tuhan. Beberapa teks bahkan sempat menyebut
> lebih dari
> 200 tuhan dalam sejarah dunia.
> Dan di dunia yang serba dinamik, yang terus bergerak dan
> menari dalam
> segala getarannya, bagaimana Tuhan dapat menjadi begitu
> statik:
> berhenti dan terpaku dalam suatu zona tempat dan waktu?
> Dalam sebuah
> dogma yang membuahkan amarah? Tuhan yang dilahirkan oleh
> dogma adalah
> Tuhan yang mati. Tuhan yang dapat dibunuh oleh para atheis.
> Tuhan yang
> telah saya bunuh.
>
> Karena seharusnya, pencarian akan Tuhan selalu membawa kita
> pada
> ketidak-tahuan. Pada pertanyaan. Dan terkadang,
> kebingungan. Karena
> itu, kita harus siap tidak
> saja untuk menemukan keindahan yang tiada tara, namun juga
> kekecewaan.
> Karena pencarian akan Tuhan adalah tidak lain dan tidak
> bukan
> pencarian akan esensi kita, keberadaan kita. Esensi kita
> yang tak
> terlihat namun ada. Esensi
> yang begitu dekat, namun tak dapat dimengerti. Karena
> itulah Chuan Tzu
> berkata: "Kita berkata ˜aku˜, namun tahukah kita
> siapa dan apa artinya
> ˜aku?".
>
> Dan segala kebingungan, segala tanya, di antara yang ada
> dan tanpa,
> saya dapat berkata: Saya tidak percaya akan Tuhan. Namun
> saya percaya
> akan tuhan. tuhan yang tak berkelamin, yang tak
> semena-mena, yang tak
> maha tinggi dan yang tak maha Esa. Dalam tuhan yang seperti
> ini, saya
> dapat bertakwa.
>
>
> (**Soe Tjen Marching, penulis buku The Discrepancy between
> the Public
> and the Private Selves of Indonesian Women diterbitkan oleh
> the Edwin
> Mellen Press).
>
>
>
> Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist.
> Download sekarang juga.
> http://id.toolbar.yahoo.com/
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang
juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/