Si Landung dan Man Draup*

Alunan seruling itu mendayu. Serupa musik dari nirwana ia dibawa angin padang 
rumput yang diselai ilalang dan pohon-pohon. Ada satu dua pohon mangga, 
beberapa pohon jambu klutuk, dan jejeran pohon turi di pematang yang menjadi 
pagar dan pembatas tegalan. Dedaunan pohon-pohon itu berkibar kian semangat. 
Man Draup belum juga hendak melepaskan bilah seruling bambu itu dari mulutnya. 
Bahkan, sepertinya kian menyatu. Ia seperti tertidur sambil menari. Matanya 
terpejam rapat tapi kepalanya terus bergoyang lembut seiring bibirnya yang 
monyong monyong meniup seruling. Hembus angin menjadikan siang areal pesawahan 
yang mletek dan merekah berbongkah-bongkah akibat kekeringan itu bagai surga. 
Dan, rimbun pohon beringin itu menjadikannya raja yang bebas berleha.

Man Draup cuek saja pada kerbaunya yang sedang mencari makanan sendiri, 
melintasi pematang demi pematang untuk mengaisi rerumputan dengan mulutnya yang 
terus bergerak diselai jilatan-jilatan lidahnya. Suatu kali pernah kerbaunya 
melintasi kebun jagung yang kurus atau padi yang kurus atau pepohonan turi. 
Sesekali itu pula berbuntut marah-marah para pemilik ladang kepada Man Draup. 
Dan, ia hanya tersenyum menanggapi. 

Ada banyak tafsir atas senyum Man Draup ini. Bisa jadi ia merasa hanya orang 
gila yang mengomentari perilaku kerbau, dan ia tidak mau ikut-ikutan menjadi 
gila. 

"Lha wong kerbau koq dikomentari," begitu kira-kira pikir Man Draup. 

Bisa pula ia merasa bahwa hidup ini bagai semur jengkol. Ada perpaduan. Ada 
ciri khas. Ada kedalaman. Ada bebauan yang khas, yang tidak dimiliki oleh 
masakan ataupun semur-semur lain. Ada kesatuan antara alam dan dirinya, yang ia 
hirup dalam-dalam selepas makan semur jengkol. Begitupun angon kerbau, tidak 
akan memiliki kedalaman tanpa bermain seruling. 

"Aku dan angon kerbau dan seruling dan semur jengkol adalah satu kehidupan, tak 
bisa dipisah-pisahkan," mungkin begitu jawab Man Draup kalau ada orang lain 
protes atas tingkahnya. 

Kemungkinan lain, Man Draup sudah malas atau kecapean mengurusi kerbaunya. 
Badan yang besar menjadikan kerbaunya itu selalu berjalan lambat dan tidak bisa 
lari cepat. Ditarik mancal, didorong madal. Alias mandeg, tidak mau jalan, dan 
sering mogok. 

"Daripada berpusing ria, lebih baik bermain seruling, terserah kau mau apa," 
benak Man Draup menyikapi kerbaunya.

Tafsir lainnya atas senyum Man Draup adalah bahwa angon kerbau tanpa meniup 
seruling ibarat memancing ikan tanpa kail. Baginya seruling adalah senjata 
untuk memanggil angin dan mendendangkan kerbau. Untuk angon kerbau diperlukan 
permainan seruling. Bisa jadi Man Draup beranggapan bahwa kerbaunya tidak bisa 
makan dengan tenang, bahkan mungkin tidak mau makan, kalau tidak ditiupi 
seruling. Mirip ular-ular India yang akan berjoget hanya kalau ditiupi 
seruling. Alias, nyanyian serulingnya adalah tembang untuk menjaga kerbaunya 
agar tenang dan tidak liar. Dan, selama ini kerbaunya memang tidak pernah 
mengamuk. Kalaupun makan dedaunan dan sedikit merusak pepohonan di tegalan 
tetangga, itu semata numpang lewat.

"ndung, si landung. ndung, si landung," begitu panggil Man Draup pada 
kerbaunya, "koen mangan sing wareg," terus Man Draup tertawa kecil sendirian, 
"tapi luruh dewek ya. Aku tak nembangi koen bae." 

Namun, sepertinya Man Draup lebih menikmati bermain seruling. Baginya angon 
kerbau hanya sarana untuk menjustifikasi permainan serulingnya. Ibarat kata, 
bermain seruling tanpa menjadi tukang angon ibarat berenang di darat. Untuk 
bermain seruling, harus menjadi tukang angon. 

Memang, bermain seruling adalah jiwanya. Dengan meniup seruling, ia bisa 
meneguk berkendi-kendi anggur di puri raja. Dengan berseruling ia bisa berpesta 
pora bersama para adidaya. Dengan bermain seruling, ia bisa berakrobat 
kesana-kemari mirip Jetli. Dengan berseruling, ia bisa keliling dunia dengan 
alphard paling istimewa. Bahkan, dengan berseruling, ia bisa bercumbu bersama 
bidadari di atas mega. Pokoknya, dengan bermain seruling ia bisa menguasai alam 
mayapada desa. 

Soal si landung, itu urusan belakang. "Toh ia bisa dan sudah terbiasa hidup 
sendiri," yakin Man Draup. 

Si landung amat penting bagi Man Draup. Tanpa si landung ia tak bisa hidup. Ia 
akan kehilangan legitimasi sebagai tukang angon yang mahir, kewes, dan layak 
bermain seruling. Namun begitu, tetap si landung bukan yang utama. Itulah 
mengapa Man Draup amat cuek pada kerbaunya dan lebih asyik berseruling ria 
bersama angin dan pohon beringin.

***

Bocah-bocah bertelanjang dada di pinggir pematang. Setelah bermain bola sore 
hari di lapangan desa mereka berkumpul. Tak seperti biasanya yang langsung 
mandi di kali ramai-ramai sambil berlomba dan lompat indah, kali ini mereka 
duduk melingkar dengan muka-muka serius. Ya, sudah berkali-kali mereka rapat 
untuk memunculkan seorang calon tukang angon pengganti Man Draup. Mereka 
berharap ada tukang angon dari kalangan muda. Kalangan ubanan mereka anggap 
sudah kasep dan ketinggalan zaman. Dianggap terlalu lembek dan tak mampu 
mendidik si landung jadi ketaton. Namun, rapat kali ini berbeda karena salah 
seorang di antara mereka sudah memproklamirkan diri. Bulir-bulir keringat bagai 
permata senja membanjiri kulit-kulit legam, bagai pualam kuburan ditimpa hujan. 

"Aku tidak setuju. Majunya Si Landung justeru hanya akan memperburuk citra grup 
kita. Sekarang belum saatnya. Tunggu rongewu malas, baru pas. Kita baru saja 
dapat kabar menggembirakan kalau Man Draup mau mundur. Kalau Si Landung maju 
sekarang, bisa-bisa Man Draup pun maju lagi," ucap Manan.

"Si Landung itu anteknya si juragan minyak. Dia telah menciderai grup kita. Aku 
tidak setuju kalau dia maju. Sudah cukup penderitaan rakyat. Masa orang muda 
seperti kita tidak mau peduli pada mereka yang kehilangan rumah dan kerjaan. 
Dengan mendukung Si Landung, berarti kita mendukung si juragan minyak," tambah 
Diawi. Suaranya kian tandas, "Mendukung juragan minyak berarti menindas rakyat!"

"Kalau soal antek si juragan minyak, itu tidak cuma Si Landung. Itu Pak RW juga 
anteknya. Semua sudah dibantu oleh si juragan minyak. Semua calon RW kemarin 
dibiayai olehnya. Mereka semua, tidak ada yang berani ngomong soal rawa maut 
itu," sergah Idham.

"Selain Si Landung, adakah yang layak di antara kita? Tanpa bermaksud 
merendahkan, saya rasa kita semua sadar kalau di antara kita belum ada yang 
layak selain Si Landung. Dan, menurutku dia bisa menjadi harapan baru untuk 
angon si landung. Di tangan Si Landung, si landung bisa jadi ketaton," yakin 
Parmin. 

"Aku tak percaya pada Si Landung. Dia memang pintar dan mempunyai cukup buku 
untuk dibolak-balik berargumentasi, tapi track-recordnya amat buruk. Ia lebih 
berbahaya dari siapa pun. Kemarin ia mendukung Pak Lurah menaikkan harga minyak 
goreng. Sekarang ia asyik bertengger dipuja-puji hadiah dan segala rupa tanpa 
empati sedikit pun pada para korban rawa maut. Aku nggak setuju," lawan Hasan. 

"Aku juga nggak setuju. Di tangan Si Landung, si landung memang bisa jadi 
ketaton, tapi ketaton berbahaya. Si landung akan menjadi alat Si Landung untuk 
melegitimasi hasratnya. Ujung-ujungnya, Si Landung tiada beda dengan Man Draup. 
Asyik bermain seruling di bawah pohon beringin, demi memenuhi hasrat egonya," 
tambah Amin.

"Setuju atau tidak, itu hak pribadi masing-masing. Tapi saya kira kita harus 
menghargai hak Si Landung untuk maju dalam bursa calon tukang angon. Soal 
track-record bisa kita diskusikan lebih lanjut. Menurutku, kita belum punya 
pilihan selain Si Landung. Yang jelas, sebagai grup muda, seperti rapat-rapat 
kita sebelumnya, majunya kaum muda adalah harapan besar untuk membangkitkan 
semangat hidup si landung. Si landung harus jadi ketaton. Kita sudah amat malu, 
kebesaran si landung harus segera diwujudkan. Tidak hanya badannya, tapi juga 
tenaga, serudukan sungu, tendangan tapal, kipatan buntut, kentut, dan 
tlepongnya," ucap Parmin.

"Lha terus itu korban rawa maut gimana? Itu lebih parah dari semua-muanya. Si 
Landung itu sudah menjadi alat si juragan minyak. Tidak bisa. Pokoknya harus 
kita lawan!" ucap Diawi sambil beranjak dari kerumunan. Rutuknya tak henti 
sampai rumah.

Kerumunan pun bubar tanpa ujung. Masing-masing pulang ke rumah untuk makan nasi 
berlauk mirong dan urap kangkung. Sembari makan, di kepala mereka berkelebat 
argumentasi demi argumentasi. Pun si pendiam Paijo. Ia terus mengingat-ingat 
petuah kakeknya yang kyai kampung dan sudah meninggal satu tahun lalu,

"Ingat Paijo. Kamu harus berhati-hati pada harta, kuasa, dan wanita. Ketiganya 
bisa menjadikanmu lebih berbahaya dari setan. Jangan gadaikan kecerdasan, hati, 
dan nuranimu pada mereka. Dan ingat, rakyatmu harus dibela. Jauhi dan lawan 
siapa pun yang menindas rakyat. `Isy kariman au mut syahidan. Hidup mulia atau 
mati syahid."

Ada juga beberapa yang sekadar pindah tempat, mereka tidak bubar. Mereka 
menghitung langkah untuk membantu Si Landung, termasuk menelisik cara-cara 
mendelegitimasi  Man Draup.  

***

Seperti biasa, Man Draup bersender berteman seruling di bawah pohon beringin. 
Namun alunan serulingnya terdengar tak biasa. Amat kuat dengan sesekali ada 
lengkingan, seperti gejolak amuk. Nafasnya pun amat memburu dengan tiupan yang 
terpotong-potong, seakan waswas pada keadaan. Sejenak ia hentikan tiupan 
serulingnya dan menghela nafas panjang. Semburat senyum ada di bibirnya yang 
jelas sudah keriput. Terbayang di pelupuk matanya yang juga keriput singgasana 
mewah di pinggir desa buah dari angon si landung dan berakrobat bersama 
seruling. 

"Tak sia-sia aku angon si landung selama ini. Lumayan, ada atsar untuk 
persinggahan," benak Man Draup.

Sejenak ia menengok ke atas, memperhatikan rimbun daun beringin yang 
sebagiannya sudah kekuningan. 

"Alas beringin mau direbut si juragan minyak. Aku harus hati-hati dan bersiap 
mencari pohon asem atau mangga untuk persinggahan angonku. Ia pun hendak 
membiayai bocah urakan itu untuk merebut posisiku. Hmmmh, amat berbahaya kalau 
bocah urakan itu dibiarkan, serat-serat piwulang para tetua bisa disobek-sobek 
tidak karuan. Demi piwulang para tetua, aku harus turun gelanggang lagi!"()

=====
Ditulis oleh Ali Sobirin El Muannatsy, lagi nyepi di Athens, OH.


Kirim email ke