NICHOLAS 'GIE' SAPUTRA
 
Oleh : Audifax
 
Juni 2005, kurang lebih 40 tahun sejak jaman So Hok
Gie. Kini tokoh fenomenal itu hadir kembali dalam
sebuah film berjudul 'Gie". Bahkan di bulan ini pula
sang pemeran utama bersama sutradara melakukan tour ke
kampus-kampus dengan disponsori salah satu perusahaan
rokok terkemuka di negeri ini. Sejauh pengetahuan
saya; sejak momen kebangkitan film Indonesia (yang
disebut-sebut ditandai dengan suksesnya film "Ada ada
dengan Cinta"); baru kali ini ada film Indonesia
bertema pahlawan. Tokoh yang diambilpun cukup radikal;
yaitu So Hok Gie; tokoh yang mungkin tak sepopuler
pahlawan revolusi, atau pahlawan Kemerdekaan.
 
Namun, sejauh cermatan saya, film 'Gie' yang
menceritakan mengenai So Hok Gie itu tak lebih dari
ikon budaya kontemporer. Tak beda dengan 'Ada apa
dengan Cinta', 'Eliana Eliana', 'Jaelangkung',
'Bangsal 13' dan sejenisnya. Pihak yang memproduksinya
hanya mencari produk atau ikon yang punya
positinioning dan diferensiasi berbeda agar lebih
mudah memasuki pasar film yang agaknya mulai jenuh
dengan tema roman dan horor. Kenapa saya bisa
berpandangan begitu? Setidaknya ada beberapa poin yang
membuat saya melihat bahwa film ini lebih merupakan
budaya kontemporer ketimbang upaya menyampaikan pesan
mengenai perjuangan seorang dari seseorang bernama So
Hok Gie.
 
Pertama, saya mencermati pemilihan Nicholas Saputra
sebagai So Hok Gie. Saya tak yakin ini kesalahan
casting. Tapi kemudian muncul pertanyaan, apa iya sih
enggak ada orang yang wajahnya lebih mirip atau
mendekati wajah So Hok Gie? Saya melihat ada nilai
yang hilang (atau justru dihilangkan?). Nicholas
Saputra sama sekali tidak merepresentasikan wajah
seorang dari etnis Cina, sangat beda dari wajah asli
Gie yang khas etnis Cina. Ini nilai penting yang
hilang. Saya pikir, di jaman ini, di mana tertanam
kebencian terselubung pada etnis Cina karena
pelekatannya pada predikat koruptor, wajah Gie yang
Cina setidaknya akan  memberi suatu pandangan lain
pada etnis itu, bahwa ada orang dari etnis Cina yang
juga mau berjuang untuk bangsa ini. Saya justru
melihat bahwa film 'Gie' ini juga mengandung
pengaburan identitas Gie untuk tujuan komersial.
 
Secara semiotis, ini bisa dijelaskan sebagai
bertemunya penanda (signifier) dan petanda
(signified). Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa
dalam tanda selalu terkandung dua elemen, yatitu
penanda dan petanda. konsep tanda sebagai entitas dua
sisi (dyad). Sisi pertama disebutnya penanda
(signifier), yaitu aspek material dari sebuah tanda.
Sisi kedua disebut petanda (signified), yang
menjelaskan mengenai konsep mental.1 Signified berasal
dari konsep sedangkan signifier berasal dari gambaran
akustik. Pemilihan penanda Nicholas Saputra sebagai So
Hok Gie; jelas lebih menjual ketimbang menghadirkan
pemeran yang mirip dengan wajah Gie. Bahkan orang
seolah sudah diajarkan untk tidak kritis lagi ketika
mendengar nama Cina "So Hok Gie" lalu melihat pemilik
namanya berwajah seperti Nicholas Saputra.
 
Poin kedua, Situasi pengaburan identitas Gie ini,
diperparah dengan terbitnya 'Buku harian So Hok Gie"
yang cover depannya wajah Nicholas Saputra.  Lama-lama
mungkin orang akan melupakan wajah Cina Gie dan lebih
mengingat wajah ganteng Nicholas Saputra sebagai wajah
Gie. Ini merupakan peralihan suatu petanda (makna)
dari penanda (ikon) satu ke penanda (ikon) lain.
Menarik, dalam kapitalisme dunia perfileman, bahkan
nilai kepahlawananpun sudah menjadi banal dan
kehilangan esensi pentingnya.
 
Fenomema ini sama saja dengan ikon Lara Croft yang
diidentikkan dengan Angelina Jolie, sehingga kemudian
orang lebih mengenali Lara sebagai Jolie dan Jolie
sebagai Lara. Dalam dunia Pop Culture ini wajar, imaji
memang perlu agar suatu produk dapat eksis; hanya
sayang, kenapa justru tokoh sejarah yang semestinya
bernilai yang dijadikan sebatas komoditas. Lebih parah
lagi ketika muncul protes mengenai penempatan wajah
Nicholas pada cover, Lantas Riri Reza beralasan bahwa
karakter Gie memang lebih suka di belakang. Ya,
karakter 'Gie" (yang Cina itu) memang selalu di
belakang. Terlepas dari dia memang suka di belakang
atau tidak, tokoh sepertinya memang selalu [berusaha]
ditempatkan di belakang oleh kekuasaan. Simbolisasi
ini berulang secara jelas pada fenomena cover itu.
Dalam konteks kapitalisme, wajah Nicholas memang lebih
menjual ketimbang wajah Gie, apalagi jika dikaitkan
dengan promo filmnya.
 
Poin ketiga, tour ke kampus-kampus itu. Sepanjang
pengetahuan saya (semoga saya salah, setidaknya data
itu yang saya lihat di Surabaya), selain pemeran dan
produsernya, tak menyertakan tokoh yang signifikan
dengan kiprah So Hok Gie di masanya. Lalu, mereka
mengadakan diskusi dengan mahasiswa. Diskusi yang
seolah dikemas dalam wacana So Hok Gie. Padahal bisa
jadi mereka yang datang lebih mengagumi penampilan
menarik Nicholas Saputra ketimbang kiprah tokoh
bernama So Hok Gie.
 
Ini adalah nilai-nilai kepahlawanan yang dikemas dalam
fetishisme. Sebuah relasi metaforis yang memutuskan
komoditi dari asalnya. Orang (mungkin kebanyakan
perempuan yang terpesona oleh Nicholas) mengagumi Gie
hanya sebatas pada sosok menarik Nicholas dan terputus
dari kiprah Gie. Ini adalah suatu fenomena
terperangkapnya konsumen dalam kode-kode objek yang
dikodifikasi secara sistematis melalui sistem
kapitalisme. Ini adalah hal wajar dalam kapitalisme
karena struktur tanda adalah jantung dari komoditi
yang akan menentukan eksisnya komoditi di arena pasar.
Tokoh 'Gie' yang ada dalam film ini, memiliki apa yang
dijelaskan oleh Pierre Bourdieu sebagai modal simbolik
untuk eksis di 'arena bertarungnya' yaitu kancah
industri film. Modal simbolik itu terletak pada
Nicholas Saputra.
 
Refleksi
 
Fenomena Nicholas 'Gie' Saputra ini adalah fenomena
hiperealitas, di mana penanda satu membawa pada
penanda lain. So Hok Gie berubah menjadi komoditas
ketika dia dilekatkan pada Nicholas Saputra. Bahkan
petanda yang merujuk pada makna herois pun ikut
melekat pada Nicholas Saputra. Pada akhirnya, orang
mungkin lebih mengingat wajah Nicholas Saputra sebagai
sosok yang lekat dengan heroisme Gie. Saya pikir ini
sangat masuk akal karena dalam peran sebagai Rangga,
sosok anak muda SMA yang radikal; Nicholas juga tampak
memerankan dengan baik, sehingga sosok ini juga
menjadi salah satu idealisasi dalam budaya
kontemporer. Dalam analisis saya, ketika memilih orang
untuk memerankan So Hok Gie, sutradara
mempertimbangkan citra radikal yang telah terbangun
pada diri Nicholas melalui sosok Rangga; yang lantas
justru mengorbankan salah satu nilai esensial dari
seorang So Hok Gie.
 
Saya tak mengatakan bahwa film ini sepenuhnya tak
berguna. Ada banyak sisi positif lain, selain
memajukan perfileman Indonesia, film ini juga
meramaikan kembali bioskop dengan film-film negeri
sendiri (apalagi ditunjang dengan sejumlah gimmick
pemasaran), juga setidaknya menyampaikan sekelumit
kisah seorang tokoh bernama So Hok Gie. Setidaknya
tokoh fenomenal itu tak lantas terlupakan. Namun,
tetap saja ada yang mengganjal di hati. Saya jadi
berpikir, kalau memang Gie punya wajah seperti
Nicholas, mungkin dia tak akan jadi aktivis. Aku pikir
wajahnya cukup ganteng untuk bersaing dengan bintang
film di zaman itu, seperti Sophan Sophiaan, Robby
Sugara, Roy Marten, Rano Karno atau bintang film pria
Indonesia di era 1960-1970-an. Dia juga pasti akan
kesulitan menjalankan pidato-pidato perjuangannya
karena akan banyak perempuan yang histeris dan
berusaha meminta tandatangannya.
 
Ada cermatan lain?
 

Best Regards,
 
Jopi Peranginangin
Program Kampanye dan Media - AMAN
The Indigenous Peoples Alliance of the Archipelago
Email : [EMAIL PROTECTED] - website : www.aman.or.id
 
-----------
 
 
cover cetakan baru "catatan harian seorang demonstran" :
 
 
 


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke