|
Soe Hok Gie, Demonstran Kiri
Hampir setiap anak muda mengenal sosok Soe Hok Gie. Demonstran yang mati muda ini ternyata memang digandrungi oleh kaum muda perkotaan setidaknya itulah yang tergambar dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Miles Film dan LP3ES yang bertempat di Pesta buku Jakarta 2005. Ratusan anak muda dan remaja berkumpul dn terlihat antusias mempertanyakan segal hal yang berkaitan dengan buku dan film Soe Hok Gie. Dalam acara itu tampil Mira Lesmana sebagai sutradara film "Gie" dan bintang utama dalam film itu, Nicholas Saputra. "Saya amat menyambut baik film dan buku ang mengupas tentang catatan kehidupan Soe Hok Gie. Bagi saya yang tadinya awam tentang sosok seorang Gie kini setidaknya ada yang dapat saya ambil setelah menonton filmnya" ujar salah seorang mahasiswa sospol itu. Sedangkan Nadia yang datang bersama dengan mepat orang temannya dari Bogor sengaja meluangkan waktu untuk dapat bertatap muka dengan pemeran Gie, Nicholas dan untuk mengajukan pertanyaan pada Mira Lesmana. Ke empat abg itu sudah mempersiapkan buku yang mereka beli seharga Rp 40.000 di salah satu stand. "Saya ingin minta tanda-tangan dari Nicholas tetapi dibalik itu saya ingin tahu apa yang sebenarnya ingin di tampilkan oleh Mira dan bagaimana sebenarnya sosok Gie itu. Karena setelah saya memnbaca buku itu masih ada beberapa hal yang tidak saya mengerti," ujar Mia yang juga antri untuk minta tanda tangan Nicholas dan Mira. Acara pemberian tanda tangan itu sedikit ricuh sebab puluhan remaja langsung menyerbu podium tanpa menunggu acara selesai. Dari waktu dua jam yang disediakan oleh panitia pesta buku ternyata tidak mencukupi. Sebab, hingga akhir sesi tanya jawab banyak dari para penanya yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan mereka. Sebasar inikah minat anak muda sekarang dalam mengidolakan sosok "Gie"? jawabannya tentu saja ada pada anak-anak itu. Kenapa mereka kini mengidolakan berbagai sosok kiri ? terutama mereka yang kini aktif dalam berbagai kegiatan yang berbau politik di kampus. Tentunya mereka punya pilihan dan jawaban tersendiri. Namun yang jelas ini adalah sisi positif dalam menggali ke-kritisan anak-anak yang matang setelah era reformasi. "Saya pikir kini ada banyak tokoh yang diidolakan atau dipandang remaja kita. Tetapi kita mengangkat sosok Gie sebab memang ada bnayak pilihan dan kami rasa inilah saat yang tepat untuk menggemakan sosoknya diamta anak-anak muda Indonesia untuk berfikir jauh lebih kritis. Dan kami ingin setelah mereka melihat atau membaca buku tentang Gie maka ada hal positif yang dapat mereka contoh" ujar Mira Lesmana. Acara ini juga ditujukan untuk mengupas dan mempertanyakan bagaimana jejak langkah Gie dalam situasi sekarang. Sosok Gie dikenal sebagai aktivis tahun 66-an. Ia punya pegangan hidup bahwa Lebih baik di asingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Gie juga dikenal sebagai seorang pria yang gemar menulis soal-soal politik dan amat dikenal sebagai pribadi yang lugas, jujur dan pemberani. Ia sudah mulai menulis pandangan dan renungannya dalam catatan harian sejak ia berusia 14 tahun. Ia mengkritik segala bentuk kekerasan dan perlakuan sewenang-wenang. Namun jika berbicara tentang filasat dan cinta ia punya sedikit pandangan yang berbeda. Menurut Gie "Cinta itu tidak adaÂ…cinta murni lebih baik masuk keranjang sampah". Dalam buku berjudul Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran setebal 385 halaman itu tergambarkan bahwa ia adalah seorang pendaki gunung yang tangguh, pribadi yang serius, gemar membaca buku tetapi juga gemar menikmati pesta dansa. Sayangnya ia meninggal pada usia yang relative muda, 27 tahun. Pendakiannya di puncak Gunung Semeru berujung pada ajal, gas beracun mengambil nyawanya di tahun 1969. Buku ini jgua menginspirasikan untuk diangkat menjadi layar lebar. Film ini ingin mengetengahkan bagaimana kamu muda mengidentifikasikan diri dengan sosknya. (aya) YAHOO! GROUPS LINKS
|
