"Gie" di Puncak Pass
Pernahkah anda melakukan sebuah sentimental journey, menemukan kembali sesuatu yang indah dari masa lalu?
Restoran "Puncak Pass" di kawasan Puncak, Jawa Barat merupakan tempat yang
terkenal dengan penganan kecil Belanda tempo dulu. Nyatanya di tempat singgah
yang dingin tersebut saya tidak hanya menemukan kehangatan poffertjes atau pun
bitterbalen, namun menemukan kehangatan sebuah kesetiaan.
Seorang perempuan setengah baya menyapa saat sarapan pagi. Cantik dengan
wajah indo. Yang menarik ia datang dan makan bersama beberapa orang yang tampak
berdandan sederhana, yang sangat kontras dengan penampilan dirinya.
Si perempuan indo tersebut kemudian agaknya merasa perlu menjelaskan
"kejanggalan" yang dirasakan para tamu. "Mereka adalah keluarga pembantu saya,
orang yang pernah mengisi masa-masa lalu saya yang indah," katanya ketika
bertemu usai sarapan.
Perempuan tersebut mengaku tinggal di Jerman dan tengah pulang berlibur di
Indonesia. Pada masa kanak hingga remaja -bersama orang tua- ia kerap
menghabiskan musim liburan di Puncak Pass. Keduanya kini telah tiada.
"Pada masa liburan dulu, kami selalu membawa para pembantu atau un pegawai
rumah saya. Jadi kalau pun sekarang saya berlibur saya hanya ingin membalas budi
mereka," kata perempuan itu. Namanya tidak perlulah disebutkan di
sini.
Membalas budi. Sekali lagi saya memandang pembantu rumah tangga perempuan tersebut. Dengan usianya yang telah sekitar akhir 30-an, tentunya si pembantu telah memasuki usia paruh abad.
Membalas budi. Sekali lagi saya memandang pembantu rumah tangga perempuan tersebut. Dengan usianya yang telah sekitar akhir 30-an, tentunya si pembantu telah memasuki usia paruh abad.
Di jaman orang mengejar jenjang karir dan materi ini masihkan ada orang
yang berpikir tentang balas budi? Di masa seperti ini masihkan orang berpikir
tentang respek kepada mereka yang lebih tua dan pernah memberi nilai-nilai
baik?
Film "Gie" yang tengah diputar di Jakarta, memberi peluang tentang
munculnya satu bentuk panutan baru. Soe Hok Gie, tokoh demonstran 1960-an
merupakan seorang yang multi dimensi. Demonstran, pejuang sosial, pecinta,
intelektual sekaligus pecinta alam.
Kita berharap saja realitas kamera sosok Gie ditangkap utuh hingga ke
dasarnya. Pada dasarnya Hok Gie adalah seorang sosialis yang sadar perbedaan
kelas tanpa berusaha mempertentangkannya. Semoga saja ia tidak ditangkap
sebagai sekadar seorang "angry young man" yang melulu nyinyir terhadap generasi
tua. Hok Gie membenci ketidakdilan yang biasanya menyertai kemapanan karena
kepada kaum muda yang hanya mengejar jabatan dan "menjilat pantat" pun ia
mengirim bedak dan pupur.
Bila masih hidup -Hok Gie meninggal Desember 1969 dalam usia 27 tahun-, Hok
Gie akan berusia 63 tahun. Seperti apa Hok Gie pada 2005? Bisa jadi ia akan
tetap seperti beberapa rekan-rekannya masa lalu yang terus bertualang atau
menjadi mapan dengan risiko ditentang kaum lebih muda seperti yang kerap dialami
kakaknya, Soe Hok Djin atau Arief Budiman.
Suidah lebih dari 35 tahun sejak kematian Hok Gie di gunung Semeru. Di buku
catatan hariannya (penggambaran di filmnya tidak detail), Hok Gie menuliskan
sulitnya proses perjalanan mendaki gunung, sejak bus yang ngetem di jembatan
Cawang, menumpang truk dengan beaya patungan ke arah Cibodas hingga
menyusuri jalan-jalan pedesaan 1960-an yang gelap. Namun penggambaran
perjalanan yang sulit inilah yang menimbulkan suasana mencekam dan romantik,
seperti saat ia menggambarkan bertemu serombongan orang yang membawa obor di
kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat.
Bila masih hidup dan tetap mendaki gunung-gung di Jawa Barat, Hok Gie akan
merasakan betapa berubahnya kawasan Puncak saat ini dengan kemacetan dan
saratnya bangunan di kedua sisi jalan. Buat seorang seperti Gie, kawasan ini
tenunya bukan lagi sebuah rute menarik untuk sebuah "sentimental journey."
Penulis: A. Tjahjo Sasongko
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Soe_Hok_Gie" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
