Title: Message
http://www.kompas.com/olahraga/news/0507/14/113331.htm

"Gie" di Puncak Pass
 

Pernahkah anda melakukan sebuah sentimental journey, menemukan kembali sesuatu yang indah dari masa lalu?
 
Restoran "Puncak Pass" di kawasan Puncak, Jawa Barat merupakan tempat yang terkenal dengan penganan kecil Belanda tempo dulu. Nyatanya di tempat singgah yang dingin tersebut saya tidak hanya menemukan kehangatan poffertjes atau pun bitterbalen, namun menemukan kehangatan sebuah kesetiaan.
 
Seorang perempuan setengah baya menyapa saat sarapan pagi. Cantik dengan wajah indo. Yang menarik ia datang dan makan bersama beberapa orang yang tampak berdandan sederhana, yang sangat kontras dengan penampilan dirinya.
 
Si perempuan indo tersebut kemudian agaknya merasa perlu menjelaskan "kejanggalan" yang dirasakan para tamu. "Mereka adalah keluarga pembantu saya, orang yang pernah mengisi masa-masa lalu saya yang indah," katanya ketika bertemu usai sarapan.
 
Perempuan tersebut mengaku tinggal di Jerman dan tengah pulang berlibur di Indonesia. Pada masa kanak hingga remaja -bersama orang tua- ia  kerap menghabiskan musim liburan di Puncak Pass. Keduanya kini telah tiada.
 
"Pada masa liburan dulu, kami selalu membawa para pembantu atau un pegawai rumah saya. Jadi kalau pun sekarang saya berlibur saya hanya ingin membalas budi mereka," kata perempuan itu. Namanya tidak perlulah disebutkan di sini.
 
Membalas budi. Sekali lagi saya memandang pembantu  rumah tangga perempuan tersebut. Dengan usianya yang telah sekitar akhir 30-an, tentunya si pembantu telah memasuki usia paruh abad.
 
Di jaman orang mengejar jenjang karir dan materi ini masihkan ada orang yang berpikir tentang balas budi? Di masa seperti ini masihkan orang berpikir tentang respek kepada mereka yang lebih tua dan pernah memberi nilai-nilai baik?
 
Film "Gie" yang tengah diputar di Jakarta, memberi peluang tentang munculnya satu bentuk panutan baru. Soe Hok Gie, tokoh demonstran 1960-an merupakan seorang yang multi dimensi. Demonstran, pejuang sosial, pecinta, intelektual sekaligus pecinta alam.
 
Kita berharap saja realitas kamera sosok Gie ditangkap utuh hingga ke dasarnya. Pada dasarnya Hok Gie adalah seorang sosialis yang sadar perbedaan kelas tanpa berusaha mempertentangkannya.  Semoga saja ia tidak ditangkap sebagai sekadar seorang "angry young man" yang melulu nyinyir terhadap generasi tua. Hok Gie membenci ketidakdilan yang biasanya menyertai kemapanan karena kepada kaum muda yang hanya mengejar jabatan dan "menjilat pantat" pun ia mengirim bedak dan pupur.
 
Bila masih hidup -Hok Gie meninggal Desember 1969 dalam usia 27 tahun-, Hok Gie akan berusia 63 tahun. Seperti apa Hok Gie pada 2005? Bisa jadi ia akan tetap seperti beberapa rekan-rekannya masa lalu yang terus bertualang atau menjadi mapan dengan risiko ditentang kaum lebih muda seperti yang kerap dialami kakaknya, Soe Hok Djin atau Arief Budiman.
 
Suidah lebih dari 35 tahun sejak kematian Hok Gie di gunung Semeru. Di buku catatan hariannya (penggambaran di filmnya tidak detail), Hok Gie menuliskan sulitnya proses perjalanan mendaki gunung, sejak bus yang ngetem di jembatan Cawang, menumpang truk dengan beaya patungan  ke arah Cibodas hingga menyusuri jalan-jalan pedesaan 1960-an yang gelap.  Namun penggambaran perjalanan yang sulit inilah yang menimbulkan suasana mencekam dan romantik, seperti saat ia menggambarkan bertemu serombongan orang yang membawa obor di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat.
 
Bila masih hidup dan tetap mendaki gunung-gung di Jawa Barat, Hok Gie akan merasakan betapa berubahnya kawasan Puncak saat ini dengan kemacetan dan saratnya bangunan di kedua sisi jalan. Buat seorang seperti Gie, kawasan ini tenunya bukan lagi sebuah rute menarik untuk sebuah "sentimental journey."
 

Penulis:  A. Tjahjo Sasongko
 


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke