Title: Message
Sabtu, 06 Agt 2005
Andai Gie Masih Hidup
Oleh Imam Muhlis *

Film "Gie" yang diperankan aktor ganteng Nicholas Saputra yang diputar serentak di bioskop-bioskop seluruh kota Indonesia pada 14 Juli lalu menyedot perhatian aktivis mahasiswa
 
Tak hanya di kalangan aktivis, anak muda yang selama ini tidak peduli dengan ingar bingar persoalan sosial politik bangsa mulai akrab dengan sosok kontroversial itu.
 
Film tentang aktivis mahasiswa dan penulis kritis di era 1960-an itu memang memancing minat para aktivis. Sebab, mereka tahu Soe Hok Gie dan memahami betul situasi sosial politik menjelang akhir Orde Lama dan dimulainya Orde Baru.
 
Bahkan, sebelum film itu diluncurkan, diskursus tentang Catatan Seorang Demonstran kembali menyemarakkan diskusi-diskusi lesehan di kalangan aktivis kampus. Lembaran-lembaran kisah dalam buku itu di reimagining, suatu pembacaan yang mungkin telah lama ditelaah.
 
Pemikiran Gie, sebagaimana diketahui bersama, memang cukup mewarnai gerakan aktivis kampus sejak era 1974, 1978, dan akhir 1980-an. Dia menjadi salah satu tokoh sentral di kalangan aktivis angkatan 66 selain Nono Anwar Makarim, Sjahrir (ekonom), Fahmi Idris, Mar’ie Muhammad, dan Cosmas Batubara.
 
Di mata para aktivis kampus sekarang pun, sosok Gie merupakan sebuah inspirator. Bahkan, belum lama ini, media nasional Kompas mengangkat ikon Soe Hok Gie dalam visual iklannya untuk menandai perubahan di media tersebut.
 
Gie adalah aktivis kampus yang terlibat secara langsung dalam merespons berbagai gejolak politik pada zamannya. Dia adalah adik kandung Soe Hok Djien, yang lebih dikenal dengan nama Arief Budiman, seorang aktivis dan sosiolog kondang.
 
Saat pemerintahan Soekarno masih berjaya, Gie duduk di bangku SMP. Karena pengetahuan yang luas dan kecerdasan yang cemerlang, dia terus bersikap kritis. Dia tak ragu berdebat dengan gurunya di kelas. Dia senang membaca buku-buku karya penulis besar dunia.
 
Selulus SMA Kanisius, Gie melanjutkan kuliah di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, UI. Perkembangan politik masa itu merambat ke kehidupan kampus. Persaingan ideologi mewarnai aktivitas mahasiswa.
 
Melihat kondisi sosial politik yang carut-marut, Gie semakin bergolak. Kondisi bangsa hampir tercerabut karena sistem demokrasi terpimpin ala Presiden Soekarno.
 
Gie termasuk di antara para aktivis yang lantang menyerukan ketidakadilan. Dia juga menyerukan sebuah demokrasi.
 
Kehadiran sosok Gie di tengah-tengah aktivis prodemokrasi dan pro perubahan memang fenomenal. Sebab, Gie adalah seorang warga keturunan (Tionghoa) yang umumnya lebih banyak berkutat di wilayah bisnis.
 
Keteguhan idealismenya sebagai aktivis yang
memihak dan membela rakyat kecil dari penguasa tirani ditunjukkan ketika menolak ajakan teman sesama keturunan Tionghoa untuk bergabung dengan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).
 
Gie saat itu tidak pernah memunculkan idiom agama maupun sebuah organisasi. Namun, dia tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah lewat tulisan-tulisan yang cukup tajam di selebaran, jurnal, dan harian ternama.
 
Tak hanya berpikir dan mengkritik, Gie terpaksa terjun dalam permainan politik yang dianggapnya kotor. Dia turut serta dalam gerakan mahasiswa pada 1966.
 
Keahliannya dalam menulis tentu tidak lepas dari latar belakang keluarganya, lebih tepatnya talenta sang ayah, Soe Lie Piet (Robby Tumewu), seorang penulis di beberapa surat kabar.
 
Selain namanya semakin melambung, pemikiran dan tulisannya yang tajam membuat Gie kian terasing. Ketika Orde Lama tumbang dan berganti Orde Baru, Gie tetap konsisten mengkritik kebijakan pemerintah yang menurutnya melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Dia pun kecewa melihat rekan-rekannya tak lagi sejalan dalam arah perjuangan.
 
Gie semakin terasing. Hanya satu yang terbuka menerimanya, yakni gunung. Tapi, justru di Gunung Semeru itulah, dia mengembuskan napas terakhir pada 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya ke-27. Sulit agaknya menemukan pemuda seperti dia.
 
Bahkan, di antara sepuluh ribu pemuda saat ini, belum tentu sosok seperti gie ditemukan. Seandainya masih hidup dan melihat kondisi Indonesia saat ini, barangkali dia kecewa berat atau marah besar. Sebab, realitas sosial-politik sekarang masih seperti saat dia dan kawan-kawannya berjuang dan berdemonstrasi menumbangkan kebatilan.
 
Betapa dia tidak marah, wakil rakyat di DPR meminta kenaikan gaji di tengah penderitaan rakyat. Korupsi juga kian telanjang dan makin sistemis.
 
Agaknya, perlu ada lagi orang seperti Soe Hok Gie untuk menegakkan keadilan, nilai-nilai kemanusiaan, serta kebenaran di tengah terpaan arus zaman yang makin bobrok. Bangsa Indonesia saat ini merindukan sosok Gie baru untuk bisa mengingatkan para pemimpin negara yang sering melupakan kepentingan rakyat.
 
Karena itu, kehadiran film Gie itu bukan sekadar untuk ditonton dan diingat sejarah. Lebih dari itu, Gie adalah nama yang bisa menjadi senjata untuk mengadvokasi, mendidik tentang keindonesiaan.
 
* Imam Muhlis, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (e-mail: [EMAIL PROTECTED])
 
 


SPONSORED LINKS
Organizational culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke