Rasanya
Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita
menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia.
Rasanya baru
kemarin
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari
para jurkam PDI saja.
Rasanya
Baru kemarin.
Padahal sudah enam puluh
tahun lamanya.
Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak
yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau
berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun
tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi Petinggi
negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang
jadi menteri dan didemonstrasi.
Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah
lebih setengah abad lamanya.
Petinggi-petinggi yang dulu suka
korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi.
Tanpa merasa
risi
Rasanya baru kemarin
Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah
semakin pintar mendaulat
Pejabat yang tak kunjung merakyat
pun terus
dihujat dan dilaknat
Rasanya baru kemarin
Padahal sudah enam puluh
tahun lamanya
Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal
pembangunan badan
yang kemarin dibangga-banggakan
sudah mulai
runtuh
Kemajuan semu masih terus menyeret dan mengurai
pelukan kasih
banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana
kemakmuran duniawi
Masih terus menutup mata
banyak saudara terhadap
saudaranya
Daging yang selama ini terus dimanjakan
kini sudah mulai
kalap mengerikan
Ruh dan jiwa
sudah semakin tak ada
harganya
Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan
para penguasa
berlaku sewenang-wenang
kini sudah pandai menirukan
Tanda-tanda gambar
sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar
pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan
sendiri dan golongan
sudah semakin melecehkan
kebersamaan
Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad
kita merdeka.
Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran
Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangraja
Sudah dikalahkan oleh Sin
Chan, Satria Baja Hitam,
dan Kura-kura Ninja
Banyak orang pandai sudah
semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang
kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin
kecurangan
Rasanya
Baru kemarin
Tokoh-tokoh angkatan
empatlima
sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam
sudah
banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya
sudah
banyak yang tak jelas maunya
Rasanya
Baru kemarin
(Hari ini
ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah
kalian
Benar-benar merdeka?)
Rasanya
Baru kemarin
Negeri
zamrud katulistiwaku yang manis
Sudah terbakar nyaris habis
Dilalap
krisis dan anarkis
Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
Sudah
banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
Mereka yang kemarin mencuri
kekayaan negeri
Sudah meninggalkan utang
dan lari mencari selamat
sendiri
Mereka yang kemarin
sudah terbiasa mendapat
kemudahan
Banyak yang tak rela sendiri kesulitan
Mereka yang kemarin
mengecam pelecehan hukum
Kini sudah banyak yang pintar melecehkan
hukum
Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita
merdeka
Mahasiswa-mahasiswa yang penjaga nurani
Sudah dikaburkan oleh
massa demo yang tak murni
Para oportunis pun mulai bertampilan
Berebut
menjadi pahlawan
Pensiunan-pensiunan politisi
Sudah bangkit
kembali
Partai-partai politik sudah bermunculan
Dalam
reinkarnasi
Rasanya
Baru kemarin
Para seniman sudah banyak yang
senang berpolitik
Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik
Para
wartawan sudah banyak yang pintar bikin
trik-trik
Rasanya
Baru
kemarin
Tokoh-tokoh orde lama
sudah banyak yang mulai
menjelma
Tokoh-tokoh orde baru
sudah banyak yang mulai
menyaru
Rasanya
Baru kemarin
Pak Harto yang kemarin kita
tuhankan
Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan
Bayang-bayangnya sudah
berani pergi sendiri
Atau lenyap seperti disembunyikan bumi
Tapi ajaran
liciknya sudah mulai dipraktekkan
Oleh tokoh-tokoh yang merasa
tertekan
Rasanya baru kemarin
Habibie dan Gus Dur sudah mencoba
sebentar
Menduduki kursi kekuasaan yang terlantar
Megawati yang mendapat
giliran dan sudah berusaha
Sekuat tenaga gagal memperpanjang kuasa
SBY
yang menggantikan kekuasaan
Terus dicoba cobaan demi cobaan
Jusuf Kalla
sudah menggantikan Hamzah Haz di istana
Sambil menggantikan Akbar Tanjung di
Golongan Karya
Saifullah Yusuf dan Alwi Syihab sudah menjadi
menteri
Meski berbuntut pertikaia n dalam partai sendiri
Tokoh-tokoh KPU
yang dituding sering memperlihatkan arogansi
Malah banyak yang menjadi
terdakwa kasus korupsi
Mantan-mantan calon dalam pilpres dan
pilkada
Banyak yang masih tak bisa menerima kenyataan yang ada
Banyak yang
demam pesta demokrasi
Ternyata belum bisa menghayati demokrasi
Rasanya
baru kemarin
Partai-partai politik sudah menjadi rebutan
Para
pemimpinnya sendiri yang melihat kesempatan
Tanpa peduli warga mereka yang
rentan
Ormas-ormas pun banyak yang seperti tak tahan
Melihat iming-iming
kekuasaan
Rasanya baru kemarin
Wakil-wakil rakyat yang kemarin
hanya tidur
Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur
Bahkan rakyat
tak perlu lagi berkelahi dan memperkaya diri
Karena wakil-wakil mereka sudah
mewakili dengan baik sekali
Insan-insan pers yang kemarin seperti burung
onta
Kini sudah pandai menembakkan kata-kata
(Hari ini ingin
rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Bagaimana rasanya
Merdeka?)
Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah enam puluh tahun kita
Merdeka.
Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili
Para
reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali
Mereka yang kemarin
dijarah
Sudah mulai pandai meniru menjarah
Mereka yang perlu
direformasi
Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
Mereka yang kemarin
dipaksa-paksa
Sudah mulai berani mencoba memaksa
Mereka yang selama
ini tiarap ketakutan
Sudah banyak yang muncul ke permukaan
Mereka yang
kemarin dipojokkan
Sudah mulai belajar memojokkan
Mereka yang kemarin
terbelenggu
Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu
Mereka yang
kemarin giat mengingatkan yang lupa
Sudah mulai banyak yang
lupa
Rasanya baru kemarin
Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka
semua
Tentang makna merdeka
Rasanya baru kemarin
Pakar-pakar
dan petualang-petualang negeri
Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib
bangsa
Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri
Hanya dengan meludahkan
kata-kata
Rasanya baru kemarin
Dakwah mengajak kebaikan
Sudah
digantikan jihad menumpas kiri-kanan
Dialog dan diskusi
Sudah digantikan
peluru dan amunisi
Rasanya baru kemarin
MUI yang didirikan untuk
mendukung rezim lama
Kini sudah mencoba menjelma orsospol
ulama
Pendukung-pendukung Islam
Sudah semakin berani mencemari
Islam
Masyarakat Indonesia yang berketuhanan
Sudah banyak yang
kesetanan
Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan
Sudah mulai
dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian
Aceh semakin merana
Ambon dan
Papua terus terlena
Bangsaku yang sejak dulu dipuja-puja
Kini selalu
dihina-hina
Rasanya baru kemarin
Orangtuaku sudah lama pergi
bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku dan beberapa kawanku
sudah berhenti menjadi politikus
Aku sendiri masih tetap menjadi
tikus
(Hari ini
setelah enam puluh tahun kita merdeka
ingin rasanya
aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih
dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu
tirani
diri sendiri bagi merahmati sesama)
Rasanya baru
kemarin
Ternyata sudah enam puluh tujuh tahun kita
Merdeka
(Ingin
rasanya
aku sekali menguak angkasa
dengan pekik yang lebih
perkasa:
Merdeka!....)
Rembang, 17 Agustus 2005
KH Mustofa
Bisri
| Corporate culture | Business culture of china | Corporate culture training |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Soe_Hok_Gie" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
