INTEGRASI & THE MELTING POT
Oleh : Kenken

Pramoedya Ananta Toer, penerima 17 penghargaan termasuk Ramon
Magsaysay Award dan nominator Nobel Prize for Literature, dalam
artikel pendek "Rasialisme Anti-Tionghoa dan Percobaan Menjawabnya"
(1999) menyarankan: "giatkan penyebaran informasi yang menumbuhkan
saling pengertian antara dua belah pihak. Antaranya menyerbarluaskan
karya Siauw Giok Tjhan dan lain-lain, dan terutama karya Siauw."

Kajian sejarah seputar Siauw dan karya-karyanya mungkin akan
bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Herman Menville
bahwa "Jangan sekali-kali memandang ke belakang…Masa lampau adalah
buku pelajaran para penguasa lalim, Masa Depan adalah Kitab Suci
Orang Bebas". Tetapi tanpa sejarah, golongan Tionghoa hanya akan
menjadi dahan tanpa akar sehingga dengan mudah tercerabut oleh
tangan-tangan kekuasaan rasialis. Pemahaman akan sejarah amat
ditekankan oleh Presiden Soekarno dengan slogan `JASMERAH' yang
berarti `Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah'. Dan sejarah
perjuangan menentang rasialisme anti-tionghoa, sebuah sentiment yang
menempatkan golongan Tionghoa sebagai "hantu etnis" yang duduk
bagaikan seseorang yang selalu membawa suasana muram di pesta, tidak
dapat dipisahkan dari nama SIAUW GIOK TJHAN.

Siauw terpengaruh secara langsung oleh tokoh-tokoh pendahulu seperti
Liem Koen Hian dan Tan Ling Djie di samping juga banyak mendapat
pelajaran dari tokoh-tokoh nasional seperti Bung Karno dan Dr.
Tjipto Mangunkusumo. Pengalaman langsung dalam arus revolusi dan
penghayatannya terhadap prinsip-prinsip humanisme serta pemahaman
mendetail tentang permasalahan kebangsaan dan Tionghoa menyebabkan
Siauw sampai pada konsepsi INTEGRASI wajar sebagai landasan
perjuangan menentang rasialisme anti-tionghoa.

INTEGRASI wajar, saat ini diidentifikasi sebagai paham
MULTIKULTURALISME, adalah landasan konsepsi perjuangan dalam rangka
membangun Indonesia yang bersih dari praktek-praktek diskriminasi
rasial serta sepenuhnya mendukung kesamaan hak dan kewajiban warga-
negara tanpa mempermasalahkan asal-usul dan identitas etnis.
Pemahaman Multikultural yang terkandung dalam konsepsi INTEGRASI
mensinergikan perbedaan landasan etnisitas dan hakekat Kebangsaan
Indonesia. Sehingga seseorang dengan latar-belakang etnis apa pun
dapat menjadi warga-negara dan bangsa Indonesia yang baik tanpa
perlu menanggalkan identitas primoridal etnisitas yang dimilikinya.

Konsepsi INTEGRASI wajar ini bertolak-belakang dengan konsepsi
Peleburan Total yang pertama kali dikenal lewat sebuah pementasan
drama di kota Washington berjudul "The Melting Pot" (Panci
Peleburan) karya Israel Zangwill di tahun 1908 yang mengekspresikan
orientasi untuk menenggelamkan kesatuan-kesatuan etnis tersendiri ke
dalam ras Amerika vana baru. Setelah mendapat respond antusias dari
Presiden Theodore Roosevelt, The Melting Pot dipentaskan di depan
sidang-sidang penonton yang kagum di seluruh negara bagian Amerika
Serikat. Jane Addams dari Hull-House di Chicago memberi komentar,
bahwa Zangwill telah menjalankan "suatu pelayanan yang besar bagi
Amerika dengan mengingatkan kita tentang harapan-harapan luhur dari
pendiri-pendiri Republik."

Pecahnya perang pada tahun 1914 menyebabkan proses "Amerikanisasi"
(asimilasi a la Amerika) dijalankan secara paksa. Bahkan presiden
Theodore Roosevelt dan Woodrow Wilson yang sebelumnya cukup ramah
terhadap kaum imigran pun merasa cemas bahwa dalam suatu kemelut
para pendatang itu akan lebih setia kepada negara asalnya daripada
kepada Amerika. "Kita tidak dapat menerima kesetiaan `fifty-fifty'
di negara ini" kata Theodore Roosevelt. Maka E Pluribus Unum menjadi
motto nasional dengan interpretasi tunggal dari pemerintah dan teori
The Melting Pot menjadi alat pemaksa terlepas dari ketidak-
tepatannya baik sebagai fakta maupun sebagai suatu cita-cita.

Di tahun 1915, Horace Kallen (seorang ahli filsafat Yahudi Amerika)
menulis sebuah esai berjudul "Democracy Versus the Melting-Pot".
Esai ini membenturkan pola `peleburan total' yang tidak bersesuaian
dengan prinsip demokrasi. Kallen terkesan dengan bertahannya
kelompok-kelompok etnis dan tradisi-tradisi mereka yang
berbeda. "Tidak seperti afiliasi yang dipilih secara bebas",
katanya, "ikatan etnis tidak sukarela dan tidak dapat diubah". Lebih
jauh, Kallen mengatakan bahwa "Orang-orang dapat mengganti
pakaiannya, politiknya, istrinya, agamanya, pandangan falsafahnya:
mereka tidak dapat mengganti kakek-kakek mereka. Orang Yahudi atau
orang Polandia atau orang Anglo-Saxon, agar berhenti menjadi orang
Yahudi atau Polandia atau Anglo-Saxon".

Saat ini, lama setelah perang usai, "The Melting Pot" disesali oleh
beberapa kalangan keturunan Anglo-Saxon sebagai penyebab hilangnya
variasi-variasi asing yang menarik demi kesamaan Anglosentris yang
hambar. INTEGRASI wajar atau paham MULTIKULTURALISME mendapat tempat
dan dihargai sebagai paham yang sepenuhnya berlandaskan pada prinsip
humanisme, hak-hak asazi manusia dan demokrasi. Bahkan di tahun
1943, Presiden Franklin D. Roosevelt berkata "Azas atas mana negera
ini dibangun dan selalu diperintahi…adalah bahwa Amerikanisme
merupakan persoalan jiwa dan hati; Amerikanisme bukanlah persoalan
ras dan keturunan, dan tidak pernah begitu. Seorang Amerika yang
baik adalah setia kepada negaranya dan kepada pernyataan kepercayaan
kita tentang kebebasan dan demokrasi". Pernyataan ini lebih
terdengar sebagai pengakuan kelemahan konsep The Melting Pot yang
dapat dipakai sebagai alasan filosofis bagi intervensi negara atau
segelintir elite pemerintahan untuk melakukan persekusi terhadap
golongan etnik tertentu.

Sejak tahun 70-an, MULTIKULTURALISME diadobsi oleh beberapa negara
seperti Kanada, Australia dan Inggris. Di Kanada, formalisasi
MULTIKULTURALISME dimulai tahun 1971 setelah dibentuknya `Royal
Commission on Bilingualism dan Biculturalism', sebuah badan yang
merespon tuntutan kelompok minoritas berbahasa Perancis di Kanada.
Laporan dari komisi ini mendorong pemerintah untuk mengakui Kanada
sebagai negara bilingual dan bicultural serta memberlakukan
peraturan-peraturan untuk mempertahankan karakter tersebut. Pada
tanggal 8 Oktober, pemerintah Pierre Trudeau
mengeluarkan "Announcement of Implementation of Policy of
Multiculturalisme within Bilingual Framework" yang merupakan cikal-
bakal "Canadian Multiculturalism Act of 1988" yang dikeluarkan di
tahun 1988. Perangkat perundang-undangan ini menetapkan bahwa Kanada
adalah sebuah negara multikultural.

Perubahan paradigma global ini turut mempengaruhi dinamika sosial-
politik Indonesia. Tumbuhnya kesadaran MULTIKULTURALISME mewarnai
dan memicu gerakan perjuangan hak-hak azasi dengan orientasi yang
lebih luas. Dan apabila kita sejenak membalik halaman sejarah, kita
akan menemukan lembaran perjuangan Siauw dengan kerangka konsep
INTEGRASI sebagai prototipe perjuangan MULTIKULTURALISME dewasa ini.

Konsepsi INTEGRASI yang didukung oleh Siauw memandang Indonesia
sebagai sebuah federasi atau persemakmuran kebudayaan-kebudayaan,
suatu keserbaragaman dalam suatu kesatuan, sebuah orkestrasi umat
manusia. Tampaknya, tidak berlebihan apabila seorang Pramoerdya
Ananta Toer, seorang pengarang yang pernah dipenjara selama 1 tahun
oleh pihak militer tanpa proses peradilan karena menentang
dikeluarkannya PP-10 dengan tuduhan `menjual Indonesia kepada
Tiongkok dengan buku Hoakkiau di Indonesia', menyarankan " …dan
terutama karya Siauw".






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke