|
Gie Film Terbaik Gie menjadi film terbaik dalam Festival Film Indonesia 2005. Film yang bercerita tentang perjalanan hidup Soe Hok Gie, seorang
aktivis mahasiswa, ini meraih tiga dari 12 kategori yang dinilai. Soe
Hok Gie (1942-1969) merupakan figur pemuda yang dalam masa transisi politik
mampu melihat kekurangan Orde Lama tanpa menutup mata
terhadap tindakan rezim Soeharto yang baru mulai berkuasa. Pemuda yang berada
pada zaman di mana pertanyaan â€kamu kiri atau kanan†bisa berhubungan
dengan kelangsungan hidup seseorang ini meninggal dalam pendakian Gunung Semeru
pada usia 27 tahun. Dalam sebuah wawancara, produser Mira Lesmana menjelaskan
alasannya mengangkat tokoh ini dengan perkiraan biaya awalnya mencapai Rp 7
miliar. Situasi politik belakangan ini masih sejajar seperti ketika
Soe Hok Gie masih menjadi aktivis pada tahun 1966. Kita mestinya belajar dari sejarah ya..., kata Mira (Kompas Terpilihnya
Gie, menurut dewan juri, sekaligus menunjukkan bagaimana generasi muda
perfilman Di tengah film-film yang mengangkat tema percintaan remaja,
Gie memang berupaya mengangkat tema politik. Namun,
sebagai catatan Kompas, Gie hanya sebatas mengangkat tema politik sebagai
sebuah latar belakang. Tidak ada pernyataan politik
jelas yang hendak disampaikan lewat Gie. Hal ini
membedakan generasi muda perfilman Tanete mengatakan, dewan juri harus melakukan pemungutan
suara untuk memutuskan Gie sebagai film terbaik. Sebagian juri menganggap film ini sebagai sebuah karya besar yang
berusaha menginterpretasikan realitas sejarah. Namun,
ada juga juri yang mempertanyakan aspek politis dalam film tersebut, seperti
tidak adanya tentara dalam momen-momen yang paling kritis. Masak
Kopassus enggak kelihatan sama sekali, enggak bener
ini..., kata Tanete menirukan salah seorang juri. Berhasilnya Gie menjadi sebuah film terbaik tidak disertai
keunggulan skenario dan penyutradaraan. Ini
juga menjadi sebuah catatan bagi sutradara Riri Riza yang selama ini dianggap
sebagai sutradara papan atas di Indonesia. Tahun lalu
Eliana, Eliana pun tidak berhasil membawakan Citra bagi Riri walau film itu
membuat Riri mendapat predikat Best Young Cinema dalam Festival Film Singapura. Dewan
juri juga menyoroti akan semakin tampilnya bakat baru
dalam penyutradaraan, pemeranan, serta berbagai unsur seni dan teknis kreatif. Hal ini bisa dilihat dari penganugerahan Citra untuk aktor dan
aktris terbaik. Nicholas Saputra, misalnya, dianggap semakin meyakinkan,
baik untuk film Gie maupun Janji Joni. Berhasilnya Hanung
Bramantyo meraih Citra sebagai sutradara terbaik juga menunjukkan kiprah dari
generasi yang lebih muda. Penghargaan Citra relatif tersebar merata. Gie dan Brownies
masing-masing meraih tiga Citra, Janji Joni dan Tentang Dia masing-masing dua
Citra, diikuti Ketika dan Virgin yang masing- masing meraih satu Citra. Perlu diingat, hasil perdebatan juri ini tidak absolut, tapi memang
menjadi patokan, kata Tanete. Dewan
juri FFI 2005 terdiri dari Sarlito Wirawan Sarwono, Sophan Sophiaan, Marselli
Sumarno, Angelina Sondakh, Eros Djarot, JB Kristanto, dan Tanete A Pong. Dewan juri juga memberikan penghargaan khusus kepada pemain cilik
berbakat dan film bertema parodi sosial, yaitu Ketika. http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0512/16/utama/2293010.htm
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
