PENTING YA? KALO MAJALAH BEGINIAN ADA DI INDONESIA???
YAH, MAKIN BANYAK LAGI ORANG-ORANG KITA YANG
'MASTURBASI' MIMPI2
OOH...
WASSALAM,
BUKAN MORALIS
Note: forwarded message attached.
___________________________________________________________
Yahoo! Messenger - NEW crystal clear PC to PC calling worldwide with voicemail
http://uk.messenger.yahoo.com
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--- Begin Message ---
Note: forwarded message attached.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--- Begin Message ---
Bang Akmal ama Firman kemarin kayaknya ngobrolin Playboy edisi Indonesia ya
? wah, sepertinya sudah mulai seru nih beritanya. Hebat juga, buat naikin
rating persepsi konsumen, bikin heboh dulu lewat berita kontroversial (cara
pemasaran yang cerdik), nanti begitu beneran beredar, langsung habis diserbu
deh ... :))
Temen temen sendiri reaksinya tentang majalah ini bagaimana ? Majalah ini
kena peraturan pemerintah untuk penggunaan bahasa Indonesia dalam mdia massa
gak ya ? Dan kira kira apa kekhawatiran yang ada dalam artikel artikel di
bawah ini memang beralasan ?
salam,
Ari Condro
----- Original Message -----
Pengamat: Ada Kepentingan Ideologi di Balik Penerbitan Playboy
Nurfajri Budi Nugroho - detikcom
Jakarta - Belum juga resmi dirilis, rencana penerbitan majalah Playboy edisi
Indonesia sudah mendapat respon. Pengamat Komunikasi UI Effendi Ghazali
menilai ada kepentingan modal dan ideologi yang bermain.
"Jelas ada kepentingan pasar. Modal pasti bermain dibelakangnya. Ini bisa
juga dibaca ke arah upaya penghancuran moral. Tanpa sadar kita sudah masuk
kedalam iklim neo liberalisme yang tidak ada pertanyaan moral didalamnya.
Omong kosong kalau ada alasan lain. Saya selalu katakan itu soal neolib,"
ujar Effendi saat dihubungi detikcom, Jumat (13/1/2006).
Kalaupun Playboy edisi Indonesia tersebut tetap akan diterbitkan, Effendi
berharap, majalah tersebut seharusnya menyesuaikan diri dengan peraturan
perundang-undangan. Penerbitan itu juga harus sesuai dengan norma yang
berlaku dalam kultur masyarakat Indonesia.
"Itu standarnya. Selain itu penjualannya harus diperhatikan. Tidak boleh
didisplay di tempat umum. Juga tidak boleh dibaca di tempat umum," imbuh
Effendi.
Hal lain yang juga patut dipertimbangkan, tambah Effendi, adalah soal
kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap penerbitan semacam itu. "Harus ada
survey yang valid apakah masyarakat butuh hal-hal semacam itu. Tapi saya
yakin hasilnya pasti masyarakat belum butuh," ucapnya.
Effendi menilai, media massa semacam Playboy selalu mengandung semangat
eksploitasi terhadap wanita. Namun seringkali wanita merasa tidak ada
eksploitasi atas dirinya.
"Saya suka mengatakan wanita yang mau dieksploitasi adalah pelengkap
penderita yang berbahagia. Eksploitasi itu pasti ada," tegas Effendi.(ary)
MMI Cemas Bila Playboy Versi Indonesia Terbit
Arfi bambani Amri - detikcom
Jakarta - Kabar Majalah Playboy versi Indonesia akan terbit pada bulan Maret
mendatang membuat cemas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Alasannya, MMI
khawatir keberadaan majalah tersebut akan menambah rusak moral bangsa.
"Kekhawatiran kami, media baru ini akan lebih menjerumuskan bangsa kita dari
krisis moral, karena dengan mudah menampilkan aurat wanita kepada khalayak
umum, termasuk anak-anak di bawah umur," kata juru bicara MMI Fauzan Al
Anshari saat dihubungi detikcom, Kamis (12/1/2006).
Dikatakannya, meski media baru ini dititikberatkan pada sistem berlangganan,
Fauzan mensinyalir hal itu tidak akan menjamin munculnya penyimpangan. "Itu
sama saja seperti melokalisasi yang tidak menyelesaikan masalah
kemaksiatan," ujarnya lagi.
Fauzan menyatakan, jika Majalah Playboy ini tetap terbit pada bulan Maret
nanti, maka mereka akan melakukan somasi beserta pengaduan kepada kepolisian
dengan tuduhan menampilkan pornografi dan pornoaksi.
Sebelumnya MMI juga telah melakukan somasi terhadap beberapa media lain,
berkaitan dengan masalah pornografi, namun tidak ditindaklanjuti oleh
kepolisian.
Mekanisme yang ada adalah somasi. Kemudian dari somasi tersebut muncul hak
jawab. Namun respons dari kepolisian tidak begitu baik atas laporan MMI
tersebut. "Padahal mereka-lah yang memiliki otoritas. Oleh karena itu, kami
pernah meminta otoritas untuk menertibkan media-media seperti itu," katanya.
Ketika ditanyakan mengenai apa yang dimaksud mengenai pornografi dan
pornoaksi, Fauzan menjelaskan, segala tindakan yang memperlihatkan aurat
kepada umum seperti yang ditentukan oleh Islam. "Seharusnya itulah batasan
sesuatu tindakan disebut pornografi, karena mayoritas masyarakat kita adalah
penganut Islam," katanya.
Foto:
Playboy edisi perdana (wikipedia.com)
Playboy Indonesia Terbit
Hasyim: Itu Bikin Bencana Saja
Nurvita Indarini - detikcom
Jakarta - Citra yang terbentuk selama ini, Playboy adalah majalah syurr.
Meski saingannya kini bejibun -- bahkan banyak yang lebih berani -- namun
image Playboy tidak tergoyahkan. Wajar jika kemudian penerbitan Playboy
edisi Indonesia mengundang pro dan kontra, tidak seperti majalah sejenis
lainnya.
Kelompok yang kontra pada Playboy Indonesia salah satunya adalah Hasyim
Muzadi. "Itu bikin bencana saja," kata ketua umum PBNU ini pada detikcom,
Kamis (12/1/2006).
Hasyim menyatakan hal itu usai acara tahlilan untuk korban bencana Jember
dan Banjarnegara di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. "Lebih
baik tidak usah," imbuh pengasuh Ponpes Al Hikmah, Malang, ini.
Seperti diberitakan, Playboy yang berpusat di AS mengizinkan pengusaha media
Indonesia untuk menerbitkan edisi lokal dalam bentuk franchise. Majalah ini
akan terbit dua bulan lagi. Saat ini, Playboy Indonesia tengah mengadakan
audisi untuk cover majalah tersebut atau disebut Playmate.(nrl)
DPR Minta Desain Playboy Indonesia Tidak Seperti di AS
Muhammad Nur Hayid - detikcom
Jakarta - Rencana menerbitkan Playboy versi Indonesia mendapat tanggapan
beragam. Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat, terutama Komisi VIII berharap
agar desain majalah tersebut nantinya tidak seperti Playboy yang beredar di
AS.
"Jika desain Plaboy di Indonesia seperti yang ada di Amerika Serikat, saya
tidak setuju. Dan saya akan menggalang protes bersama dengan kawan-kawan,"
kata anggota DPR Komisi VIII Yoyoh Yusroh saat dihubungi detikcom, Kamis
(12/1/2006).
Yoyoh tidak mempermasalahkan rencana penerbitan majalah bergambar syur
tersebut, asalkan pihak perusahaan ikut memperhatikan nilai budaya bangsa
dan adat ketimuran sebelum menerbitkan Playboy.
Ia berharap jangan sampai majalah tersebut menimbulkan protes di masyarakat.
Menurut Yoyoh, jika menerbitkan majalah menimbulkan reaksi keras dari
masyarakat, maka DPR akan turun bersama dengan Dewan Pers dan Komisi
Penyiaran Indonesia (KPI).
"Kita akan turun kalau penerbitan majalah tersebut tidak sesuai dengan
budaya bangsa dan adat ketimuran," katanya.
Anggota Fraksi PKS ini berharap agar pihak pengusaha jangan hanya
mengakomodir kepentingan pengusaha yang ingin meraup untung, tetapi merusak
generasi muda bangsa. Yoyoh mengingatkan agar pengusaha betul-betul
memperhatikan dampak penerbitan itu, jangan sampai menuai kritik tajam.
Saat ini, DPR sedang merampungkan RUU Pornografi dan Pornoaksi yang
diharapkan bisa segera selesai. Batasan pornografi, menurut Yoyoh, seluruh
tampilan mengenai tubuh manusia yang digunakan untuk komersial masuk
kategori pornografi yang rencananya dilarang UU.
"UU memperbolehkan telanjang kalau itu sesuai budaya bangsa, seperti koteka
untuk pria dan telanjang dada untuk perempuan di Papua, serta kemben di Jawa
Tengah," katanya.
(jon)
Indonesia Negara Kedua di Asia Tempat Jualan Playboy
Nurul Hidayati - detikcom
Jakarta - Majalah Playboy yang selama ini hanya bisa dinikmati lewat kiriman
teman di luar negeri, dua bulan lagi sudah bisa dinikmati dengan bebas di
Tanah Air.
Anda bisa berlangganan atau pun membelinya di toko buku terkemuka. Playboy
versi Indonesia telah lahir.
Di Asia, selama ini hanya Jepang yang dipercaya manajemen Playboy yang
berpusat di AS sana untuk menerbitkan Playboy. Dengan dirilisnya Playboy
Indonesia, maka Indonesia adalah negeri kedua di Asia yang "mendapat
kehormatan" menerbitkan majalah yang dipenuhi pose syur kaum Hawa ini.
Ini tentu cukup mengagetkan juga, mengingat Indonesia sebelumnya adalah
salah satu negara di Asia yang melarang peredaran majalah ini.
Sebelum Indonesia, Playboy telah diproduksi di 20 negara dengan pola
waralaba. Dua puluh negara itu adalah Argentina, Brasil, Bulgaria, Kroasia,
Republik Ceko, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Jepang, Meksiko, Belanda,
Rumania, Serbia, Slovenia, Slovakia, Spanyol dan Ukraina. Dan Indonesia
memperpanjang daftar itu.
Manajemen Playboy pusat mengklaim, pembaca Playboy di seluruh dunia total
jenderal ada 15 juta. Jumlah yang cukup fantastis! Playboy juga mengklaim
sebagai majalah kaum pria paling laris di dunia.
Yang paling menonjol dari Playboy adalah logonya yang sangat terkenal.
Kelinci bertuksedo menjadi maskot yang tidak tergantikan sejak majalah itu
memasuki edisi keduanya pada 1953.
Menurut logoresource.com, logo kelinci majalah Playboy didesain oleh Art
Paul, orang pertama yang menjadi art director majalah tersebut. Menurut Hugh
Hefner, sang kreator dan pemilik Playboy, pemilihan kelinci sebagai logo
majalah Playboy adalah karena simbol kelinci memiliki konotasi humor seksual
yang tinggi, berkesan periang dan suka bermain-main.
Selain itu logo kelinci tersebut sengaja didesain dengan mengenakan pakaian
tuksedo, dengan tujuan untuk memberikan kesan eksklusif. Kebanyakan orang
menggambarkan kesan macho dan maskulin dengan bentuk tubuh yang kekar
berotot, tetapi tidak demikian halnya dengan Hugh Hefner, dia lebih memilih
kelinci sebagai simbolnya dengan pemikiran lain daripada yang lain.
Selain kesan maskulin, pemakaian tuksedo tersebut juga memberikan kesan
charming.
Kesuksesan majalah Playboy dengan kelinci sebagai logonya, membuat ilmuwan
memberikan penghargaan kepada Hugh Hefner dengan menggunakan namanya sebagai
nama spesies kelinci yang baru ditemukan, yakni "Sylvilagus Palustris
Hefneri".
Menurut kamus Wikipedia, Playboy paling laris adalah terbitan November 1972
yang terjual 7.161.561 kopi. Cover kala itu adalah Lena Soderberg yang
didesain oleh Jack Niland.
Terkait:
'Playboy' Indonesia Beredar Maret(nrl)
Playboy Indonesia Terbit
Marilyn Monroe Hingga Tiara
Nurul Hidayati - detikcom
Jakarta - Ingin lihat wanita cantik, seksi dan berpose menantang? Belilah
Playboy. Begitu image yang muncul selama ini. Playboy memang tak bisa
dipisahkan dari perempuan aduhai.
Hebatnya lagi, perempuan yang sering nongol di majalah yang terbit perdana
1953 itu adalah para perempuan top. Di jajaran bintang film, seperti
dilansir kamus Wikipedia, misalnya, pernah muncul Drew Barrymore (Januari
1995), Charlize Theron (Mei 1999), Carre Otis (Juni 2000), Kristy Swanson
(November 2002), Tia Carrere (Januari 2003), Alison Eastwood (Februari
2003), Daryl Hannah (November 2003), Denise Richards (Desember 2004), Teri
Polo (Februari 2005), Bai Ling (Juni 2005), dan Karina Lombard (Juli 2005).
Di bidang musik, ada LaToya Jackson (Maret 1989 dan November 1991), Nancy
Sinatra (Mei 1995), Linda Brava (April 1998), Geri Halliwell (Mei 1998),
Belinda Carlisle (Agustus 2001), Tiffany (April 2002), Lutricia McNeal
(Oktober 2003 Edisi Jerman), dan Debbie Gibson (Maret 2005).
Artis televisi juga banyak, misalnya Farrah Fawcett (Desember 1995 dan Juli
1997), para bintang perempuan Baywatch (June 1998) , Brooke Burke (May 2001
dan November 2004), Shannen Doherty (Desember 2003), dan Peta Wilson (Juli
2004).
Bintang sport juga melimpah, seperti Katarina Witt (Desember 1998), Tanja
Szewczenko (April 1999 Edisi Jerman), Mia St John (November 1999), Joanie
Laurer (November 2000 dan Januari 2002), Gabrielle Reece (Januari 2001),
Kiana Tom (Mei 2002), Torrie Wilson (Maret 2003 dan Mei 2004), Amy Acuff
(September 2004), Christy Hemme (April 2005), dan Lisa Guerrero (Januari
2006).
Edisi perdana Playboy terbit pada Desember 1953, tanpa tanggal. Pemilik
Playboy, Hugh Hefner, kala itu juga tidak yakin apakah akan bisa menerbitkan
edisi keduanya.
Sampul Playboy perdana bergambar Marilyn Monroe. Foto itu cukup sederhana,
dan sebelumnya telah digunakan sebagai gambar untuk kalender.
Di luar dugaan, edisi perdana yang dicetak 53.991 eksemplar itu laris manis
dan terjual ludes dalam beberapa minggu. Harganya cuma 50 sen. Tapi tahun
2002, edisi pertama itu dihargai lebih 5.000 dolar AS!
Indonesia bukannya steril dari Playboy. Meski tidak beredar bebas di sini,
namun ada juga wanita Indonesia yang mengikuti jejak Marilyn Monroe menjadi
sampul majalah bermaskot kelinci bertuksedo itu. Dia adalah Tiara Lestari.
Gadis 23 tahun ini tampil di Playboy edisi Spanyol edisi Agustus 2005.
Menurut obrolan di internet, sebelum Tiara, sudah ada orang Indonesia yang
tampil di Playboy. Dia adalah Victoria Sianipar. Dia tampil di Playboy edisi
Rusia pada Juni 1999.
Dengan terbitnya Playboy edisi Indonesia akhir Maret nanti, akan makin
banyak wanita Indonesia yang mejeng di majalah itu. Tunggu saja!
--- End Message ---
--- End Message ---