Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message --- Mengenang Ayatrohaedi :
Harus Percaya Hasil Penelitian Kita Sendiri
Suara Pembaruan, 20 Februari 2006


AYATROHAEDI tersenyum. Kami sedang membicarakan kontroversi Naskah Wangsakarta yang melibatkan dirinya. Guru besar Arkeologi Universitas Indonesia itu bersama arkeolog Atja, ahli pembaca naskah kuno, dan Prof Edi S Ekadjati, sejak awal 1980-an telah menyatakan bahwa Naskah Wangsakarta merupakan sumber sejarah yang bisa dipercaya.

Hasil kajian ketiga orang itu ditentang keras sejumlah pakar sejarah dan arkeolog. Selain mempermasalahkan usia kertas yang dijadikan catatan Naskah Wangsakerta, para penentang Ayatrohaedi dan kawan-kawannya itu mengatakan, Naskah Wangsakerta terlalu lengkap dan sempurna. Singkat kata, menurut penentang teori Ayatrohaedi dan kawan-kawannya, sebagian isi Naskah Wangsakerta merupakan tiruan dari hasil kajian yang pernah dilakukan peneliti asing sebelumnya.

"Kita ini susah. Rasa rendah diri kita terlalu besar. Jika ada penelitian yang baik tapi penelitian itu bertolak belakang dengan hasil kerja orang asing sebelumnya, kita cenderung mencari-cari kesalahan peneliti kita. Padahal harusnya, kita percaya pada hasil penelitian kita sendiri," tambah tokoh arkeologi dan linguistik Indonesia itu.

Begitulah Ayatrohaedi yang akrab dipanggil Mang Ayat. Pendapatnya tahun 1980-an itu mendapat kritik dan perhatian harian Pikiran Rakyat, Suara Pembaruan, dan Majalah Tempo. Polemik terjadi di media-media tersebut. Dari sisi perkembangan dunia ilmu pengetahuan, perdebatan di media cetak itu sangat positif, karena para ilmuwan dan masyarakat bisa mengetahui hasil-hasil kajian terbaru itu.

Salah satu masalah yang merisaukan Ayatrohaedi ialah adanya pernyataan keras dari rekan sejawatnya yang menyatakan, sampai kapan pun juga, Naskah Wangsakerta tidak bisa dan tidak akan pernah boleh dijadikan rujukan sejarah. "Lho, naskah itu kan belum semuanya selesai diteliti. Mengapa belum apa-apa sudah muncul pernyataan seperti itu. Aneh," kenangnya.

Kenangan itu yang muncul saat mendengar berita meninggalnya Ayatrohaedi, Sabtu (18/2) siang. Ayat yang dilahirkan di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 5 Desember 1939 meninggal dunia di Sukabumi, karena sejumlah penyakit. Sebelumnya ia sempat dirawat di Rumah Sakit PGI Cikini Jakarta. Jenazah pria yang menyenangkan untuk diajak diskusi itu dimakamkan di Depok, Jawa Barat, setelah sebelumnya keluar dari RS PGI Cikini dan "tetirah" di Sukabumi. "Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan ingin berobat di Sukabumi,'' kata seorang sahabatnya.

Ayatrohedi sejak lama dikenal mempunyai banyak kegemaran. Ia suka naik gunung. Jangan kaget jika lelaki yang bisanya mengenakan sepatu sandal itu tercatat sebagai anggota kehormatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia (UI). Dia memang salah satu pendiri kelompok mahasiswa pencinta alam itu. Soal sepatu sendal itu, pernah membuatnya susah, karena harus mengenakan sepatu dan kaus kaki serta jas lengkap dengan dasinya, ketika dia harus menjadi pembimbing anak asuhnya yang ingin meraih gelar dokor di UI. Lantaran sudah lama tak pakai jas lengkap, dia terpaksa meminta bantuan mahasiswanya untuk men-dry clean jasnya dan sekaligus meminta untuk ditisik beberapa bagian yang sudah lapuk.

Tokoh yang dikenal dekat dengan mahasiswa dan kaum ilmuwan itu, memang selalu sederhana. Ia lulus sebagai sarjana Arkeologi di UI pada 1964, kemudian meraih gelar doktor linguistik (1978), sebelum menjadi guru besar pada 1992 di UI. Ia dikenal pula sebagai penulis cerita pendek, puisi, dan buku, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Belakangan ia menulis rubrik bahasa di Harian Kompas atas "provokasi" rekan diskusinya, Salomo Simanungkalit. "Eta provokatorna (itu provokatornya-Red)," ungkap adik kandung budayawan Ajip Rosidi itu dalam bahasa Sunda ketika menerangkan bahwa tulisannya itu diminta oleh Salomo. Salomo pula, menurut Ayatrohaedi yang memberinya julukan munsyi (ahli bahasa).

Pria sederhana dan kawan diskusi itu sekarang telah pergi. Masih banyak keinginannya yang belum terlaksana. Beberapa di antaranya, membantu Ajip dan kawan-kawannya menerbitkan edisi tambahan Eksiklopedi Budaya Sunda dan menerbitkan kumpulan tulisannya mengenai Si Kabayan, cerita rakyat rakyat Pasundan.

Mang Ayat yang selalu berbincang dengan suara cadel khasnya itu kini telah pergi. Namun pasti tak dilupakan banyak orang yang pernah berdekatan dengannya, baik secara fisik maupun lewat tulisan-tulisannya yang cerdas dan bernas isinya. Termasuk puluhan mahasiswa yang mengikuti jejaknya sebagai penulis dan wartawan, karena terinspirasi oleh caranya mengajar mata kuliah Penulisan Ilmiah Populer di Fakultas Sastra UI. Mereka yang mengikuti anjuran Mang Ayat, agar dalam menulis tidak asal mengetik atau menggoreskan pena saja. Tetapi berpikir sebelum menulis, dan menyampaikan tulisannya agar tidak membuat orang yang membacanya menjadi berkerut keningnya, melainkan agar yang membacanya dapat segera mengerti isinya. "Jangan bikin orang susah ketika membaca tulisanmu," ujarnya berulang kali. (A-14/B-8)


[Non-text portions of this message have been removed]


--- End Message ---

Kirim email ke