BTW........ini tulisan lo dapet dari sapa seeh???lo tulis sendiri ato dari temen lo???gue nggak suka ada orang nulis sembarangn dan menyamaratakan semua orang atau komunitas.............bilangin ama temen lo yg nulis ini........pakai metode survey apa di sehingga berani nulis ini........kasi tau dia tidak semua orang-orang ato anak-anak muda yg mendaki gunung sekarang cuma mencari kesenangan belaka,soalnya setau gue masih banyak pendaki gunung yg sangat IDEALIS dan MENGGURATkan sesuatu untuk arah nperjalanan BANGSA ini!!!!!!!!!!!!bilangin ke temen lo yg nulis ini,kalo dia temen lo,KALO ENGGAK TOLONG KASI TAU GUE KEMANA GUE BISA MENGHUBUNGI DIA,TULISANNYA INI SUDAH sembarangan MEMBUAT opini DAN CENDERUNG menghakimi SEBUAH KOMUNITAS yg kemungkinan besar ia sendiri TIDAK PAHAMI(BTW nyang nulis ini suka naek gunung ga yah???naek gunung yukss cui......biar lo tau apa sebenarnya yg kita cari dengan naek gunung.......hehehe)ato lo cuma pinter nulis dan sedikit jadi AKTIFIS KAMPUS mungkin sehingga bisa dengan gampang menghakimi orang lewat tulisan lo........sorry....gue sebenernya tidak suka berPOLEMIK kecuali kalo ada yg pelu dilurusin,nah tulisan lo ini menurut gue harus DILURUSIN.........ato lo emang punya rasa TIDAK SENANG pada para PENDAKI GUNUNG yg ada sekarang karena lo sebenarnya pengen seperti mereka tapi ga bisa(sorry....becanda....heheheh)
--- eskubikgirl <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > KETIKA TURUN GUNUNG, IA HILANG DI KAKI LANGIT > Oleh : OSTAF Al MUSTAFA > > Tidak ada kerangka tahun pasti, yang menyebutkan > sejak kapan manusia > mulai memandang sesuatu yang lebih tinggi daripada > tengkorak kepalanya > sendiri. Manusia memang secara kodrati , tercipta > sebagai makhluk yang > punya kecenderungan iblisi untuk memandang makhluk > lainnya sebagai > sesuatu yang lebih rendah dari dirinya ( ketika > manusia tak lagi > menyelenggarakan pelaksanaan prinsip kemanusiaannya, > ia memang > merupakan iblis yang berdaging, bertulang, dan > berdarah. Manusia, > bagaimana pun juga merupakan suatu makhluk yang > diciptakan paling > disempuranakan sebab selain ia berbahasa, manusia > juga merupakan > sebuah kosakata yang paling terbagus untuk > dikalimatkan pada arti > tertinggi. Jadi apakah ada yang paling tinggi > derajatnya daripada > manusia pada peradaban ? mungkin tidak , bila > manusia berpihak pada > jawaban negative. Pasti ya, bila manusia berada pada > sisi jawaban positif. > Manusia mulai mengalami pembelajaran untuk memandang > sesuatu yang > lebih tinggi (derajatnya?) dari dirinya ketika > ketakutan menjadi > suatu rasa baru yang sangat mengganggu. Bayi yang > ketakutan akan > menangis untuk memanggil perlindungan ibunya. Sosok > ibu, lebih tinggi > derajatnya daripada bayi. Ketika kita menjadi > kanak-kanak ia juga > melibatkan bapaknya sebagai tameng untuk semua > ketakutan. Ketika > menjadi anak muda dan dewasa, ketakutan juga semakin > meraksasa. Di > sini, perlindungan diri, menjadi sesuatu yang > mengambang. Kedewasaan > adalah usia perlindungan yang gamang. Lalu apa yang > terjadi, ketika > justru para orangtua yang dibawahi ketakutan ? "Pada > mulanya , > ketakutanlah yang menciptakan dewa-dewi di dunia " > demikianlah pepatah > yunani memberikan jawaban. Orang-orang tua (tetua) > kemudian memohon > pertolongan para dewa yang bersemayam di batu dan > pohon besar untuk > meminimalkan setiap serangan ketakutan.tapi lama > kelamaan, manusia > kurang puas terhadap perlindungan para dewa dewi, > bagaimana pun juga, > manusia sanggup memanjat pohon besar atau menaiki > batu sebesar > apapun. Jika tempat tinggal dewa telah berhasil > dirambah tentu dewa > tersebut, tidaklah lebih tinggi derajatnya daripada > manusia. Disinilah > manusia kemudian menengadah ke tempat yang lebih > tinggi dari alamat > dewa yang selama ini menjadi " KOTAK SUARA BERDOA" > pilihannya adalah > gunung. Tentu para dewa dan dewi sana memiliki > kemampuan, setinggi > tempat mereka bersemayam. > Menurut Gilbert Muray, pemikiran spiritual awal > bermula di yunani. > Pertama kali manusia berada pada zaman primitive > atau EUTHEIA . Sebuah > zaman ketidak tahuan yaitu ketika dewa Zeus belum > datang menggoncang > pikiran vertikal manusia (menurut para antropolog > dan peneliti > lainnya, keadaan ini juga ditemukan hampir di > seluruh dunia).pada > zaman itu, ketakutan seperti penyakit tanpa sebuah > resep obat yang > memungkinkan sebagai jalan penyembuh. Namun sisi > positifnya, ketakutan > ini menjadi bahan mentah potensial untuk > menghasilkan produk agama. > Zaman ketidaktahuan berlalu ketika warga yunani yang > umumnya hidup > didaerah perbukitan mulai berpikir bahwa setiap kali > mereka berada di > tanah tinggi perbukitan selalu saja ada keterpakuan > pada sebuah > tempat yang lebih dari semua tempat yang mereka > pijak. Tempat itu > adalah gunung Olympus. Dalam pandangan mereka tak > ada lagi yang lebih > tinggi daripadanya. Bahkan awan pun hanya sesekali > melewati puncaknya. > Kemudian muncullah proses selanjutnya yang oleh > muray disebut sebagai > "Menaklukkan Olympia". Istilah ini tidak menunjuk > pada suatu pendakian > fisik yang sekedar hendak menaklukkan Olympus. Namun > sebenarnya > merupakan pendakian spiritual untuk menaklukkan diri > sendiri dan > megatasi bahaya laten ketakutan, yang selalu membuat > depresi dan > stress. Dari Olympus inilah dewa zeus, menemui dan > menganugerahkan > kepada mereka pengetahuan transedental. Pendakian > yang meletihkan > fisik dan mental tak berlalu sia-sia. > Dari penjelasan antropolog Gilbert Muray dapat > dikemukakan tentang > misi suci manusia ketika pertama kali mendaki > gunung. Mereka ternyata > mendaki untuk menaklukkan diri sendiri dan juga > untuk mengetahui ada > kebenaran apa di atas sana. Mereka mendaki untuk > kelanggengan > moralitas, kelangsungan Etika Kemanusiaan yang lebih > besar . Demi > ide-ide intelek abadi dari idealisme dan sekaligus > mempertanyakan > peradaban kepada Sang Yang Maha Tinggi. > Setelah sekian banyak abad berlalu, pendakian versi > Olympia, nyaris > sudah tak ada lagi. Di Indonesia, bahkan hanya > seorang anak muda yang > ternyata pernah melakukannya. Anak muda yang pendaki > gunung (pencinta > alam) itu, bagai menyertakan intelektualitas seorang > pemikir kritis > dan radikal maupun idealisme seorang filsuf dalam > setiap perlangkahan > jejak kakinya. Karena ia mendaki gunung demi > menjawab sendiri > pertanyaan-pertanyaan krusial tentang kondisi > social, politik dan > budaya Indonesia saat itu (era enam puluhan) > jawaban-jawaban yang > didapatkannya akhirnya harus ditukar dengan selembar > catatan nyawanya > . kematiannya juga merupakan kematian ala yunani. > Persis seperti > mereka yang mati muda ketika mendaki gunung Olympus. > Kematian dalam > meniti deretan tangga nirwana menuju terminal > terakhir. Anak muda itu > "SOE HOK GIE" menyelesaikan halaman terakhir riwayat > hidupnya dalam > usia singkat. Namun ia tetap merupakan anak muda > yang melegenda > karena pemikiran kritisnya terus dikembangkan oleh > mereka yang telah > mendapat pencerahan bermula. > Lalu terhadap anak muda yang sekarang ini, ramai > mendaki gunung. Apa > sebenarnya yang mereka cari? Mereka yang mendaki > gunung itu, lebih > banyak didominasi oleh anak-anak muda yang tak punya > daya kritis > intelektual, hampa dari jawaban moralitas dan nihil > dari peradaban > idealisme bahkan jauh dari pertanggungjwaban > spiritual. Mereka lebih > banyak berhias dengan asesoris etnik, kerombengan > berpakaian dan > keacuhan dengan sikap peduli yang minim. Ketika > mendaki gunung, tak > ada sedikit pun masa lalu yang mereka tuliskan di > peradaban > kemahasiswaan (jika mereka mahasiswa), tak ada > sejarah masa muda yang > mereka guratkan pada hari yang berlalu bahkan tak > ada satu pun > huruf-huruf yang menorehkan tentang jati diri > mereka. Mereka adalah > anak-anak muda yang kosong dan dengan identitas tak > berisi apa-apa. > Terhadap mereka, tak perlu mengkalkulasi jumlah > tetes air keringat > dari titik nol sebab mereka bukan bagian dari > angka-angka kerja keras > dan tidak masuk hitungan apa pun. Kalaupun harus > memasuki fungsi > matematik, mereka hanya bisa dikali nol. > Pendakian anak-anak muda itu, hanya bagian dari > hegemoni aktifitas > rekreatif (rekreatif di sini bukan dalam pengertian > re-kreatif atau > mencipta kembali. Maksudnya di sini adalah > mendapatkan kesementaraan > dalam bersenang-senang). Sebuah kegiatan yang > melewatkan masa muda > sebagai keletihan usia belaka. Residu keletihan > tanpa janji terhadap > masa lalu, masa sekarang apalagi masa depan. Mereka > seperti > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
