saya berhati2 untuk tidak menafsirkan figur Gie, sehingga beliau
menjadi amat lain sekali dari kenyataannya. Tetapi saya juga tidak
bisa memisahkan keterlibatan diri saya secara emosional, menyangkut
Soe Hok Gie yg nota bene seorang Tionghoa, sama seperti saya. Sama
seperti saya juga yang waktu pertama mengenalnya dari Catatan
Seorang Demonstran,merindukan figur Tionghoa yg ideal di Indonesia.

Untuk ukuran orang Tionghoa pada umumnya (yg bagi saya tertangkap
kesan berhati2, berusaha cerdik dalam segala langkah, dan tampak
menghindari dunia politik), Gie berbeda. Dalam catatan hariannya,
saya melihat Gie sebagai seorang "rebelion". Catatannya, gaya bahasa
yg tertuang  menggambarkan kepribadian yg kolerik, kepribadian yg
tidak akan pernah berhenti 'fight' atas sesuatu yg diyakininya benar.

Gie pernah marah pada guru di sekolahnya (SMP).Dia bilang : guru
bukan segala2nya dan murid bukan kerbau. Gie marah karena situasi
belajar mengajar yg baginya otoriter, dimana guru harus selalu
benar, meski terbukti ia salah.

Mungkin kata2 pertama dari buku harian beliau mengesankan ia seorang
yang kasar dan tidak mau kalah. Namun disisi lain dari catatan itu
saya juga melihat hati Gie yg lembut.

Hal ini ditunjukkan oleh bela rasa yg ditunjukkannya ketika ia
melihat orang yang saking kelaparannya (karena masa itu kemiskinan
sedang melanda) sampai memakan kulit mangga. Gie lantas memberikan
uang sakunya pada orang tersebut. Saya simpati pada Gie, karena bela
rasa yg ia tunjukkan.

dalam pertengahan catatan seorang demonstran, saya melihat sosok Gie
yg meranjak dewasa. Peralihan dari masa sekolah dalam masa kuliah
menunjukkan tumbuhnya suatu kesadaran akan fenomena yg sedang
dilihatnya. Gie lantas mengaitkan itu dengan sikap dan peran yg
harus ia tunjukkan sebagai pemuda.

Suatu kali Gie menulis, bahwa pemimpin2 yang sekarang ini (termasuk
Soekarno) adalah jajaran orang yang seharusnya digantung di lapangan
Banteng. Gie menyimpulkan bahwa mereka2 itulah yg berperan dalam
keterpurukan Indonesia di masa itu. Gie berpikir dan memakai
nalarnya, ia menganalisa.

Sampai disini saya melihat sesuatu: Gie sebagai seorang pemuda, ia
membuka matanya untuk melihat kenyataan. Tetapi ia tidak berhenti
disana (sehingga menjadi komentator saja), melainkan menanggapi
panggilan itu dan menyanggupi tugasnya sebagai pemuda Indonesia yg
siap berbagian untuk memperbaiki keadaan.

Gie mengatakan :
"di Indonesia, hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau idealis.
Namun saya telah sejak lama memutuskan untuk menjadi idealis, sampai
batas yg sejauh2nya..."

Apa yg membuat bagian ini menarik dari sisi saya, adalah identitas
(politis?) Gie sebagai orang Tionghoa.

Sebelum membaca buku ini, saya jarang terbayang ada orang Tionghoa
yg menetapkan pilihan semacam itu dalam hidupnya. Bayangkan, kalau
saya yg berbicara seperti itu, itu artinya saya sudah siap
menghadapi teror (menjadi Tionghoa saja sudah dikategorikan sebagian
orang sebagai sesuatu yg 'risky'-seram untuk mrk yg paranoid).

Kalau mau direnung2kan, sebenarnya di jaman sekarang, saya juga
menghadapi fenomena2 yg mengusik nurani. Dengan mata batiniah, saya
juga bisa tahu kalau sesama saya manusia, hidup menderita. Dengan
otak dan nalar, saya juga bisa menelusuri darimana sumber derita dan
keterpurukan Indonesia sekarang. Saya juga mengharapkan perubahan
keadaan seperti semua orang Indonesia.

Tetapi beda saya dengan Gie adalah: Gie memutuskan untuk berbagian
dalam mengubah keadaan. Gie menangkap panggilan bahwa di saat itu
Indonesia memerlukan dirinya untuk berbagian dalam perubahan. Dan
dia maju. Maju terus sampai mati.

Untuk tipe pemuda kampus, Gie juga bukan model (maaf) anak LK
(Lembaga Kemahasiswaan) atau BEM yg puas dengan kenyamanan,
membangga2kan diri sebagai aktivis mahasiswa, dll. Tapi Gie tega
mengkritik lembaganya sendiri. Ia juga dibenci sama kawan2nya
sendiri karena sikapnya.

Disini saya melihat dan belajar, bahwa seorang demonstran sejati,
adalah ia yang berani menyatakan benar dan salah, pada diri dan
lingkungannya sendiri. Bukannya ikut membela atau membenarkan
kesalahan yg terjadi karena itu dilakukan "orang sendiri".

Saya juga menangkap konsistensi Gie terhadap isu2 HAM. Gie adalah
mahasiswa yg setuju dengan pembubaran PKI. Namun dia juga berteriak
ketika bekas pengikut PKI (yg konon sejumlah puluhan ribu)dibantai.
Gie mempertanyakan paradoks yg dirasakannya: Mengapa mereka, yg
menyatakan dirinya ber-agama dan ber-pancasila melakukan hal2 yg
lebih keji dari pada mereka yg tidak?

Dalam catatannya, Gie juga menulis hal2 sehari-hari yg mungkin
tampak sepele. Ia bisa membayangkan bagaimana perasaan sedih anjing
yg berpisah dengannya dengan dibawa naik becak.

Kadang2 membaca Catatan seorang Demonstran juga terselip capture2
dari hal2 unik dan menyentuh. Seperti misalnya, ketika rekan Gie yg
kesakitan gara2 dilempari gas air mata, oleh tentara dalam
demonstrasi, diberikan sapu tangan oleh salah seorang prajurit yang
agak menyesal. Ada potret kemanusiaan yg terekam dalam catatan
harian Gie, yg melibatkan manusia dalam balutan berbeda2.

Sejauh yg saya rasakan dari Gie adalah, ia bertindak dari nurani.
Gie memberanikan nurani berbicara sebagaimana adanya. Waktu membaca
Catatan Seorang Demonstran, yang mengetengahkan pergulatan pikiran
seorang pemuda pada zamannya, saya diperhadapkan pada kenyataan
zaman ini. Sama seperti Gie, jaman ini pun memiliki panggilannya
sendiri. Yang menjadi masalah adalah seberapa jauh saya bersedia
mengorbankan diri untuk berbagian dalam perubahan di jaman ini?












 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke