Itulah ketabuan yang tengah melanda Indonesia tercinta....
Teddy
> ------------ Původní zpráva ------------
> Od: radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]>
> Předmět: [Soe_Hok_Gie] Caping: Perempuan
> Datum: 31.3.2006 18:38:36
> ----------------------------------------
> Catatan Pinggir: Perempuan
>
> Seorang isteri guru ditangkap polisi di Tangerang. Ia berada di jalan di
> sekitar
> pukul tujuh malam. Ia harus membuktikan dirinya bukan pelacur. Peraturan
> Daerah
> mengharuskan itu. Tuan-tuan yang berkuasa di Tangerang tampaknya berpendapat,
> tiap perempuan yang berada di luar rumah dalam remang itu perlu dicurigai
> sebagai "jalang".
>
> Bisakah Tuan-Tuan itu memperkirakan, kini "kaum perempuan di Tangerang
> dicengkram ketakutan"? Tapi mereka mungkin tak mengacuhkan pernyataan Forum
> Solidaritas Perempuan Banten, 22 Maret 2006 itu - juga tak membayangkan para
> ibu
> yang cemas bila anak mereka pulang terlambat dari kursus di malam hari dan
> saudara mereka kembali dari pabrik setelah senja.
>
> Mungkin Tuan-Tuan itu akhirnya akan menjawab (dengan dukungan
> Majelis Ulama): perempuan memang harus tinggal di rumah, "dilindungi".
> Tuan-Tuan itu pasti bukan kelas bawah yang perlu dapat tambahan penghasilan
> dari
> upah isteri yang jadi pemijat, penunggu kios rokok atau bakul jamu. Lagipula
> ayat suci bisa dikutip, sebagaimana di Arab Saudi Qur'an dan Hadith dikutip
> untuk memutuskan: perempuan tak boleh berpakaian lain selain purdah,
> perempuan
> tak boleh menyetir mobil, dan tentu saja tak boleh jual jamu...
>
> Perempuan selalu dekat dengan dosa - itulah mungkin pikir Tuan-Tuan di
> Tangerang, seraya mendengar agama berbicara. Tentu saja agama yang datang
> dari
> Timur Tengah. Saya tak tahu persis kenapa di sana perempuan selalu ditilik
> demikian. Mungkinkah karena sebuah pengalaman, yang kemudian jadi paradigma,
> juga metafor - yaitu dahsyatnya gurun pasir?
> Siapa tahu. Sebab ada seorang tua bernama Apa Sisoes. Ia seorang
> biarawan di Mesir abad ke-4.
>
> Murid Apa Sisoes itu berkata kepadanya, "Bapa, bapa telah tua. Mari kita
> pindah sedikit ke dekat tanah yang telah dihuni." Orang Tua itu menyahut,
> "Di
> mana tak ada perempuan, ke tempat itulah kita harus pergi".
>
> Murid itu pun berkata kepadanya, "Tempat apa lagi yang tak ada
> perempuannnya,
> kecuali gurun pasir?"
>
> Dan Orang Tua itu berkata, "Bawa aku ke gurun pasir".
>
> Kisah itu diceritakan kembali oleh Peter Brown, gurubesar sejarah
> di Princeton University, dalam The Body and Society , sebuah paparan
> penting tentang iman dan seksualitas, ketika perempuan ditampilkan
> sebagai sumber godaan yang tak habis-habisnya di masa awal agama
> Kristen -- ketika seorang biarawati yang menepuk kaki bapak uskup
> yang sepuh dan sakit sudah bisa dianggap merangsang untuk
> bersetubuh.
>
> Maka tak mengherankan bila di Mesir masa itu ada seorang rahib
> yang mencelupkan jubahnya ke bangkai seorang perempuan yang sudah
> membusuk; ia berharap, bau "baseng" itu tak akan membuatnya mau
> berfantasi tentang wanita.
>
> Bahkan ada seorang calon biarawan yang menggendong ibunya yang
> tua menyeberangi sungai seraya membungkus tangannya dengan kain,
> sebab ia tak mau bersentuhan dengan kulit ibunya sendiri. "Daging
> semua perempuan adalah api". Perempuan adalah api -- daya yang bisa merusak,
> bagian dari "dunia", begitulah waktu itu ada petuah agama yang berkata.
> Wanita
> harus dijauhi dan dijauhkan. Ia tak termasuk "gurun pasir".
>
> "Gurun pasir", bentangan alam yang garang itu, waktu itu punya
> makna tersendiri. Gurun pasir, dalam catatan Brown, "muncul sebagai
> tempat yang tak tertandingi dalam heroisme Kristen". Di sanalah
> laki-laki bisa hidup keras dan khusyuk melatih diri bebas dari nafsu
> apapun. Dalam kekhusyukan itu, batas harus tegas antara "gurun
> pasir" dan "dunia".
>
> Maka ketika dunia diliputi "dosa", di gurun itu -- terbentang dari tepi
> Danau
> Mary sampai ke arah Iskandariah, terutama di Wadi Natr - tinggallah ratusan
> apotaktikoi, "para penampik" yang tak menghendaki hidup dengan panca indera
> yang mencicipi nikmat bumi.
>
> Penampikan itu tentu saja akhirnya tak hanya terbatas di gurun pasir, dan
> juga
> tak hanya di Mesir. Bahkan sejak abad ke-2, para alim Masehi memandang
> perempuan sebagai pangkal kematian. Di bawah pengaruh ajaran Tatian, pelbagai
> kelompok Gereja Kristen Suriah meyakininya.
>
> Dan mereka bilang, Juru Selamat sendiri berkata: "Aku datang
> untuk membatalkan kerja perempuan".
>
> "Perempuan" di situ ditafsirkan sebagai hasrat seksual, "kerja"
> diartikan kelahiran dan maut. Demikianlah dengan was-was komunitas
> Kristen yang terserak sampai ke kaki-kaki bukit Iran memandang "dunia":
> kelahiran, perempuan, kematian.
>
> Tapi tak hanya mereka sebenarnya. Juga dari sekitar gurun pasir
> Timur Tengah, agama Yahudi mengawali rasa was-was itu. Aliran
> ortodoksnya menggariskan kol isha yang melarang lelaki mendengarkan
> perempuan menyanyi. Ada yang hanya mengharamkan mereka menyaksikan
> pertunjukan nyanyi yang "sugestif".. Ada yang lebih ketat: mereka
> melarang lelaki mendengarkan suara perempuan bahkan dalam rekaman.
> Dan tak cuma itu. Dalam komunitas Yahudi ortodoks zaman modern
> sekalipun, perempuan tak boleh berbaju tanpa lengan, memakai blouse
> dengan potongan krah rendah. Celana ketat dilarang. Lutut harus
> ditutupi. Halacha, syariat Yahudi, mengharuskan perempuan yang sudah
> menikah menutup rambutnya.
>
> Saya tak tahu, kenapa dari sekitar gurun pasir Tuhan bertitah
> agar perempuan diperlakukan demikian. Kenapa di Bali, misalnya,
> tidak? Mungkinkah karena di sini tak berlaku paradigma "gurun
> pasir": para pertapa tak mengalami alam yang kosong dan garang,
> melainkan hutan tropis yang semarak, gua yang dirias pohon dan
> rumpun, akar dan kembang, bunyi burung dan biru gunung? Dengan
> kata lain: sebuah "dunia", di mana yang indrawi tak ditampik, hingga
> pertapaan bukanlah tempat apotaktikoi? Dalam cerita wayang, di situ
> malah lahir ksatria Bambang Sumantri dan gadis Shakuntala yang
> gemulai.
>
> Apapun sebabnya, di kesunyian hidup brahmana dan resi tak tampak
> rasa was-was kepada "dunia", kepada perempuan. Di sana, tafakur
> adalah bersyukur. Tapi itu dulu. Siapa tahu kita telah berubah, dan Tuan-Tuan
> Tangerang lebih suka paradigma baru: "padang pasir"..
>
> Goenawan Mohamad
>
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.
>
>
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/