Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam
protection around 
http://mail.yahoo.com 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message --- Menengok Desa-desa di Balik Kabut Grasberg
Suara Pembaruan, 7 April 2006


Timika diguyur hujan pagi itu. Rencana terbang dengan helikopter ke Tembagapura bakal jadi berantakan. Begitulah, iklim tanah Papua cepat berubah. Cuaca susah sekali ditebak. Sebentar terang, sebentar hujan. Kadang muncul kabut pekat.

Sambil menunggu hujan reda, kami menyeruput kopi di restoran hotel tempat kami menginap. Kemudian datang petugas dari PT Freeport Indonesia (PTFI) menjemput. Di pangkalan helikopter, ada beberapa petugas yang mengenal betul alam Papua. Namun Kapten Adhian yang akan menerbangkan kami tampak tenang.

Setelah sepuluh menit menunggu, Kapten Adhian akhir berkata, "Kita bisa berangkat." Gerimis masih membasahi Timika. Kami segera menuju ke helipad. Empat anggota tim yang dipimpin Prof Dr Hardi Prasetyo dari Departemen ESDM akan melihat pelaksanaan program community development.

Pekan lalu rombongan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar berkunjung ke PTFI. Kebetulan, perusahaan tambang ini kembali menjadi sorotan semenjak kasus Abepura membara.

Ketika ketinggian sudah di atas 4.000 dari permukaan laut, cuaca berubah jadi cerah. Ada sedikit kabut, namun tidak mengganggu penerbangan. Sinar mentari pagi menerangi pegunungan dan lembah. Kapten Adhian mengatakan pemandangan salju abadi Puncak Jaya berada di sebelah kanan jendela. Untung, kabut mulai menipis sehingga kami dapat melihat salju abadi di negeri tropis.


Bangun Perumahan

Helikopter terbang menyusuri lembah. Kami pun menengok tiga desa dataran tinggi suku Amungme yang tinggal di sekitar Tembagapura. Kunjungan pertama adalah desa Tsinga, sebuah desa di dataran tinggi dari suku Amungme. Dari atas tampak desa yang tertata rapih. Rumah-rumah terbuat dari kayu dengan atap seng. Di desa ini terdapat beberapa dusun yang letaknya berdekatan satu sama lain. "Kami telah menyiapkan lahan di sini untuk pembangunan lapangan terbang perintis yang bisa didarati oleh pesawat kecil. Lapangan ini menjadi milik masyarakat, dan kami memfasilitasnya. Kami berharap, adanya lapangan terbang itu bisa membuka isolasi desa-desa di sini," kata karyawan PTFI yang memandu kami.

Setelah melihat dari dekat desa Tsinga, kami menuju ke Desa Banti Waa. Profil desa ini pun hampir tidak berbeda dengan Desa Tsinga. Rumah-rumah penduduk sudah ditata rapih. Lalu, kunjungan kami berlanjut ke terbang lebih tinggi ke Desa Aroanop yang juga terletak di lembah

Di tiga desa tersebut, PTFI telah membangun perumahan, yaitu rumah baru (338 buah), pemugaran rumah lama (247), lalu prasarana umum seperti jembatan gantung, ruas jalan raya selebar 2,5 meter, jembatan berkapasitas sepuluh ton, pemakaman umum, toko dan ruang serba guna. Sementara sarana umum bangun pasar tradisional, gedung gereja, rumah pendeta, honay (ramah asli Papua), kandang babi, dan listrik.

Selain itu, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) telah membangun rumah guru, sekolah, asrama, klinik, rumah sakit, dan rumah paramedik. Sebagian besar bangunan rumah itu diangkut dengan helikopter dari Timika, ibu kota Kabupaten Mimika. Itu sebabnya di tiap desa selalu terdapat helipad. Helikopter menjadi sarana angkutan andalan di tiga desa dataran tinggi yang terisolasi itu, meskipun biaya penerbangan satu jam helikopter mencapai US$ 2.500.

Pengembangan Masyarakat

Pada tahun 1988, PTFI menemukan cadangan tambang Grasberg. Namun baru pada 1991 ditandatangani kontrak karya yang berlaku 30 tahun dengan perpanjangan 2 x 10 tahun (sampai 2041). Pada 2005 rata-rata diproduksi 215.000 ton bijih (konsentrat) setiap hari. Konsentrat itu mengandung tembaga (30 persen), emas (41,3 gram/ton), dan perak (74 gram/ton). Hasil tambang tersebut kemudian dikapalkan ke Gresik (Indonesia), China, Jepang, Korea, Filipina, India, Bulgaria, Finlandia, Jerman, dan Spanyol.

Pemerintah mendapatkan pemasukan berupa pajak, dividen dan royalti. Jumlahnya mencapai US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 11,2 triliun pada 2005. Sementara dana untuk pengembangan masyarakat Rp 576 miliar pada 2005. Saat ini, perusahaan tersebut mempekerjakan 18.669 orang dengan karyawan asing 496 orang. Warga asli Papua yang bekerja di PT FI berjumlah 2.410 orang. Sebelum ke Tembagapura, pada hari sebelumnya kami mengunjungi sejumlah lokasi pengembangan masyarakat seperti Institut Pertambangan Nemangkawi yang mempersiapkan para calon tenaga kerja lokal dengan berbagai keterampilan.

Kami juga mengunjungi satuan pemukiman, yaitu penyediaan pemukiman baru bagi sejumlah suku di Mimika. Mereka diberi rumah dan lahan serta dididik untuk beternak dan bercocok tanam. Bahkan ada di antara mereka yang sudah berhasil membuka peternakan ayam dan menyuplai kebutuhan telur di Timika. Di sana juga ada RS Mitra Masyarakat, tempat penduduk asli setempat mendapatkan perawatan gratis.

Berkaitan dengan pengembangan masyarakat, antara lain diberikan beasiswa dan pelatihan tenaga kerja, pengembangan sosial budaya, pelayanan kesehatan masyarakat, dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Setelah mendapat sorotan masalah lingkungan hidup, PTFI berusaha memberi perhatian lebih pada pengelolaan limbah. Memang diharapkan, kehadiran suatu industri semestinya memang tidak mengganggu kehidupan yang sudah ada. Idealnya, industri dan lingkungan berpadu untuk kesejahteraan masyarakat.[W-9]


[Non-text portions of this message have been removed]


--- End Message ---

Kirim email ke