Dessy Aryani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
To: [EMAIL PROTECTED]
From: Dessy Aryani <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 13 Apr 2006 00:30:08 -0700 (PDT)
Subject: [SWR] Fwd: Penting !

-----Original Message-----
From: HANNY
Sent: Thursday, April 13, 2006 2:10 PM
To: AGUS ; ANIE; BETTY ; DESSY ; ELMI ; FANG2 ; FELI; INDRA ; JANE; LYNA ; PUJI; SUGI; WIJI ; YULIE
Subject: FW: Penting !



 
 
Friends,

Aku mau sharing pengalaman adik-ku nih. semoga
bermanfaat bagi semua yang baca.

Adikku mulai merasakan ada benjolan di payudara kiri
sekitar awal 2003.  Pada bulan mei 2003, dia periksa
ke dr. Sutjipto, ahli bedah di RS Dharmais, Slipi.
Setelah di USG, dr. bilang tidak apa2, itu hanya
berupa kelenjar air susu yang membengkak yang mana
nantinya akan menghilang setelah menikah, punya anak
dan menyusui. (catatan: kesalahan kami adalah tidak
melakukan pemeriksaan ke dr lain karena logika
mengatakan seharusnya dr di RS Dharmais yang memang
special untuk kanker tidak mungkin salah
mendiagnosis).

Bulan Januari 2004, adikku menikah.  Juni 2004, dia
mengandung anak pertama.  Oktober 2004 (usia kandungan
+- 4 bln) masih sempat kontrol ke dr. sutjipto di
Dharmais (kali ini tidak di USG), diagnosis dr masih
sama seperti diagonis pertama.

Anak pertama lahir awal April 2005, produksi air susu
sedikit hanya cukup untuk menyusui selama 3 bulan.
Adikku merasa benjolan membesar, bukannya hilang
seperti kata dr. 

Bulan Nov 2005 (kondisi hamil anak ke-2 bulan ke-3),
adikku kembali konsul ke dr. yang sama di Dharmais.
Hasil USG benjolan berukuran 1,89 x 1,8 x 1,76.
Diagnosis dr. berubah menjadi tumor kelenjar lemak.
Disarankan untuk dilakukan pengangkatan tumor sebelum
usia kandungan 6 bl dgn alasan lewat bln ke-6, hormon
sudah mulai memproduksi air susu sehingga akan
mempersulit proses penyembuhan luka.  dr. tidak tahu
tingkat keganasan tumor, hal ini akan dicek setelah
dilakukan pengangkatan.

Mengingat adikku sedang hamil, kita takut pembiusan
pada saat operasi akan mempengaruhi pertumbuhan &
kesehatan janin, selain itu alasan dr jgn lewat bl
ke-6 adalah untuk proses penyembuhan luka, maka kita
memutuskan untuk menunda operasi setelah bayi lahir.
(Catatan: dr. tidak pernah mengatakan bahwa kehamilan
dapat memicu sel2 jahat tersebut bekerja lebih cepat).

Bulan Maret 2006, kebetulan adikku ke Singapura, atas
desakan suaminya, dia melakukan pemeriksaan di Mt.E.
Oleh dr Wee Siaw Bock, ahli bedah spesialis kanker
payudara, dilakukanlah "neddle test" yang katanya sih
semacam pengambilan cairan di benjolan dgn menggunakan
jarum super halus untuk ditest di lab.  Hasil lab: 90%
mengarah ke kanker ganas.

Untuk lebih meyakinkan lagi disarankan untuk dilakukan
biopsi.  Adik saya sempat shock, tapi setelah
diyakinkan oleh dr bahwa biopsi tidak akan membuat
kanker itu menyebar seperti yang dikhawatirkan oleh
orang awam, maka adikku setuju, maka dilakukanlah
"trucut biopsi".
Hasil biopsi : kanker payudara ganas dengan tingkat
penyebaran 3 of 3 berdasarkan "Bloom & Richardson
Grade".
(Catatan: ada juga dr yg bilang bahwa biopsi dpt
memicu sel kanker bekerja lebih cepat dan menyebar)

Saran dr adalah secepatnya dilakukan pengangkatan dgn
beberapa opsi berikut:
Opsi 1:
angkat keseluruhan payudara, bayi ddipertahankan.
kemoterapi baru dilakukan setelah bayi lahir.

Opsi 2:
tunggu sampai bayi siap dilahirkan (+- 35 mgg
kehamilan), dilakukan caecar sekaligus operasi
penangkatan benjolan saja, payudara dipertahankan,
langsung menjalani kemoterapi.
(Catatan: usia kandungan pada saat itu +- 27 mgg)

Kita mencoba mencari pendapat dr lain.  Oleh salah
seorang kenalan, direferensikan dr. Lie, kepala bagian
bedah RS Husada. (dr. Lie sendiri adalah spesialis
bedah jantung).

Aku membawa hasil lab di Sing ke dr. Lie sedangkan
adikku konsul by phone (adikku tinggal di jambi
setelah menikah).  menurut dr Lie, seharusnya benjolan
itu sudah dibuang dari pertama kali muncul karna
benjolan apapun dipayudara bisa membahayakan
dikemudian hari apalagi jika sedang hamil, hormon2 di
tubuh akan mempercepat proses perkembangbiakan sel
jahat.

Dari konsul ini dr. Lie memberikan 4 opsi:
1. tunggu bayi lahir normal baru dilakukan tindakan
terhadap benjolan ( opsi ini tidak direkomendasikan)
2. angkat payudara, bayi dipertahankan, tunggu bayi
lahir baru kemoterapi (juga tidak direkomendasikan)
3. bayi dilahirkan prematur scr caecar sekaligus
angkat payudara, dilanjutkan kemoterapi (harus
konsultasi dgn dr. kebidanan mengenai kesiapan bayi
untuk dilahirkan prematur)
4. dilakukan "frozen section", yaitu operasi dilakukan
oleh 1 team dr, yg terdiri dari dr. bedah, de.
kebidanan, ahli patologi, dll. pertama dilakukan
penangkatan benjolan, kemudian langsung dianalisa oleh
patologi untuk meyakinkan hasil biopsi.  jika sudah
menyebar, payudara langsung diangkat dan bayi lahir
prematur.  Jika belum menyebar, payudara dan bayi
dipertahankan.

dr.Lie menyarankan adikku untuk datang ke jkt untuk
konsul langsung, keputusan jadi tidaknya operasi
adalah hak adikku, tidak ada keharusan untuk op di
Husada.

Beberapa hari kemudian adik saya ke jakarta untuk
pemeriksaan lbh lanjut dgn dr. Lie.
Hasil USG benjolan menunjukkan bahwa benjolan lebih
besar dari hasil USG sebelumnya.

Hasil USG Janin menunjukkan bahwa bayi belum mampu
untuk bertahan hidup jika dilakukan caecar pada saat
itu.

Hasil konsultasi dr. Lie dgn teamnya, menganjurkan
pengangkatan payudara secepatnya, kemoterapi dilakukan
setelah janin cukup matang untuk dikeluarkan secara
caecar.  (Catatan: opsi ini sebenarnya tidak
direkomendasikan oleh dr. Lie tetapi melihat hasil USG
yg menunjukkan benjolan membesar, ditakutkan jika
ditunggu, akan makin menyebar.  alasan dr mengambil
opsi ini: dgn membuang induknya lebih dulu, sel2 yang
tersisa akan terhambat perkembangannya.  ini akan
memberi kita waktu sampai bayinya cukup safe untuk
caecar.

Adikku memilih untuk bertahan sampai bayinya cukup
umur, karna takut jika dilakukan op payudara sekarang,
janin akan terpengaruh pembiusan.

Sekarang sudah lewat 3 minggu, adikku rencana untuk
konsul ke kebidanan 2 minggu lagi, jika janin safe,
maka akan dilakukan op.
Sementara menunggu kami hanya bisa berdoa.


Kesimpulan yang aku dapat dari pengalaman ini adalah:

benjolan di payudara, sekecil apapun, walaupun oleh dr
dikatakan tidak berbahaya, sebaiknya segera angkat
karena dikemudian hari dia bisa berubah menjadi jahat.
mumpung masih kecil, proses op juga tidak susah. 

tidak ada kepastian apakah biopsi itu dapat membuat
sel kanker menyebar lebih cepat atau tidak.  Ada dr
yang bilang ya, ada juga dr yang bilang tidak.  tapi
satu hal yang pasti "neddle test" tidak membuat sel
kanker menyebar.

kehamilan dapat memicu sel kanker bekerja lebih aktif.

jangan percaya hanya pada pendapat 1 dr, selalu cari
pendapat dr lain pada setiap jenis kasus penyakit.
karena 1 pendapat saja dapat menyesatkan kita seperti
kasus adikku ini.


Bagi yang sudah meluangkan waktu membaca, terima kasih
dan tolong disebarluaskan ke teman, saudara, pacar,
ibu, istri ataupun putri anda.  Jangan sampai mereka
terlena oleh diagnosa dr.


GBU
Fifi
93-96






Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.


New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.


SPONSORED LINKS
Corporate culture Corporate culture change Business culture of china
Corporate culture training


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke