Hidup di bawah tekanan atau Bangkit mensejajarkan diri
 
Hari ini diperkirakan 30.000 massa pekerja tersebar di beberapa titik aksi dalam mewarnai hari buruh international tgl 1 Mei dan momentum hari penolakan pada revisi UU Tenaga Kerja (begitu media memberitakan).  Jakarta dinyatakan siaga satu dalam hal keamanan. Minggu malam diberapa tempat Jakarta sdh bersiap menyambut senin paginya Jakarta yang akan lebih padat dari hari-hari biasa, kawat berduri sdh mulai ramai ditebar di sekitar Istana Presiden dan sekitarnya. Mobil dan aparat "penggebuk massa sdh standby di DPR Senayan sana, secara pagar DPR kali ini tak akan roboh krn sdh begitu kokohnya sama halnya dengan pendirian "penguasa" negara (eksekutif dan legislatif - red) yang tetap tak akan bergeming secara alih-alih revisi ini diperuntukkan untuk perbaikan iklim perekonomian yang carut marut dengan "upeti-upeti" tak berjuntrung. 
Kembali ke persoalan pekerja/buruh/karyawan/eksekutif profesional atau entah apalah namanya akankah kunjung datang nasib baiknya......///????? Pola berfikir yang rajin berkembang saat ini telah menjadi batu kerikil dalam hidup kesejahteraan komunitas yg berkeahlian dan penguasaan ilmu menjadikan meraka bernama buruh tidak mempunyai posisi tawar yang kuat dalam meningkatkan harkat dalam berkehidupan. Sedangkan para pekerja karyawan kantor/profesional muda yg "katanya" mempunyai keahlian dan mumpuni dlm penguasaan materi merasa bangga hati dgn posisi tawar yg justru kadangkala tetap di bodohi penguasa modal dgn 'trik' yg lebih cantik dalam mengekang lewat berbagai perjanjian kontrak kerja, perusahaan "broker tenaga kerja" (outsourch begitu istilah kerenya-red). Lalu kapankah anak bangsa akan terangkat dalam berdedikasi u/ perbaikan secara pola pikirnya dibunuh secara perlahan lewat stigma belajarlah yg rajin masuk kampus negeri (UI klu perlu) IPK tinggi "menyontek klu perlu"
shg biar "gampang" dpt kerja di perusahaan mentereng. Alih-alih utk posisi yg lebih nyaman teman-teman berduyun memperebutkan posisi CPNS secara hidupnya akan ditanggung negara, orangtua pun turut bangga sebagai pengabdi pemerintah. Lalu dikemanakan semua ilmu akademis yg sdh diperoleh dengan susah payah........./// cuma tercetak dalam bentuk daftar riwayat hidup utk mencari kerja ataupun beasiswa yang nantinya diharapkan minimal dpt memperbaiki nasib diri sendiri ataupun bangsa./
penulis sadar betul krn hal ini memang nyata terjadi dlm diri dan lingkungan sekitar. Lalu kapankah kita baru pekerja ataupun para calon pekerja bisa memperbaiki nasib sehingga bisa sejajar.......(karena secara logika berbisnis mungkin jika saya menjadi penguasa modal pun pasti akan berlaku hal yg sama, menghilangkan rasa idealisme kampus menjadi pengeruk harta tanpa rasa kemanusiaan). Kembali teringat kata seorang teman lama "Pekerjaan yg mumpuni dan paling aman saat ini adalah menjadi PNS atau polisi/TNI krn mereka dibiayai negara ditanggung negara s/d hari tua,secara mereka adalah aparatur!" lalu benarkah fenomena ucapan kawan lama atau hanya analisa yg sangat prematur.........///??? De tengah keketidakpuasan hidup penulis yakin suatu saat nanti ilmu dan tenaga akan tercurah utk kembali mangabdi pada masyarakat pada bumi pertiwi. Terkakhir cuma bisa terucap selamat berbahagia u/ para pekerja pd hari ini hari buruh international dengan turun kejalan dan beraksi dengan damai sg telah mengahabiskan anggaran negara dlm mengamankan kota Jakarta dan kota-kota lainnya, kepada teman-teman calon pekerja (masih kuliah) saya ucapkan selamat meniikamati sisa-sia hidup penuh idealis yg tinggi semoga bisa tetap bertahan. Kepada teman-teman seprofesi.....cuma kata bangkitlah dari keterpurukan...!!!!! bangun kembali negeri ini
 
Yakin usaha sampai....
 
NS
penulis saat ini aktif bekerja
 


SPONSORED LINKS
Corporate culture Corporate culture change Business culture of china
Corporate culture training


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke