--- In [EMAIL PROTECTED], "Arie Tia" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ada Senyum di Balik Duka: Cerita kecil dari Yogya Bencana bisa datang kapan saja tanpa kita perkirakan. Bencana bisa merengut siapa dan apa saja tanpa diminta. Bencana memberi kita duka bahkan luka yang mendalam. Bencana juga mengajarkan kita tentang kuasa alam dan kecilnya manusia di hadapan-Nya. Bencana mengajarkan kita tentang bagaimana sifat-sifat alamiah manusia yang beragam. Bencana memberi kita semua yang mengharu-biru itu. Menangis, gagap, histeris, bahkan trauma. Tetapi seringkali diantara ketiadaan..ketika kita tidak punya apa-apa lagi, maka ada satu yang tetap ingin kita miliki, semangat hidup. Melanjutkan hidup sebagai karunia Tuhan yang begitu berharga. Diantara duka itu, diantara mereka yang sudah mulai lelah menangis, lelah dengan rasa takut dan panik, ada semangat hidup yang terbit. Ada senyum di balik duka. Sebuah senyum yang sebenarnya getir, tetapi memberi sepercik kegembiraan, membangun semangat, menghapus luka, pulihkan jiwa. Berikut ini kumpulan cerita yang sebenarnya tidak dimaksutkan untuk `sekedar tertawa' tetapi dihimpun sebagai suatu kisah-kisah jenaka dari mereka yang masih bisa tersenyum, menyisakan semangat hidup diantara puing-puing kedukaan. 1. Kisah Jenaka Pertama (dikisahkan oleh Tia, relawan di wilayah Mojohuro Imogiri, 90 % wilayah hancur) Senin siang itu, hari ketiga setelah gempa, aku mengunjungi kawanku. Kawanku, Mas Bari, masih bisa tersenyum diantara puing-puing rumahnya yang hancur, nyaris rata dengan tanah di Mojohuro, Imogiri. Senyum dan canda anak-anaknya yang masih berusia 2 dan 9 tahun memberinya semangat hidup. Ketika kami datang ke belakang rumahnya, ia menunjuk sebuah WC model jaman dulu yang terletak di luar rumah. Tembok WC itu sudah hancur, tetapi lubang WC-nya, untung, masih bisa mereka pakai sebagai WC darurat dengan pembatas plastic disekelilingnya sebagai penutup. Tiba-tiba dia tersenyum ketika anak tertuanya, Agus bercerita dengan jenaka padaku. "Mbak waktu gempa Lik Harno (adik Mas Bary) ada di dalam WC itu sedang pup (buang air besar)." "Wah lucu sekali lho dia lari keluar WC masih belum sempat tutup restleting, ha..ha..ha " begitu, tuturnya polos. Kami semua yang ada disana tersenyum. Bahkan Ayah Mas Bary yang sudah renta-pun ikut tertawa mengenang peristiwa itu. Mas Bary bertutur singkat, "Ah, Mbak inilah anak-anak. Tanpa mereka mungkin kami ini semua sudah putus asa."Ya, memang, kita seringkali menggunakan kosa-kata `kekanak-kanakan' sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif, tetapi justru kanak-kanak lah yang seringkali mengajari kita untuk tetap tabah menjalani hidup. 2. Kisah Jenaka Kedua (dikisahkan oleh Tanti, mengalami gempa di wilayah Karangwaru, Kotamadya Yogya wilayah utara, sedikit sekali kerusakan di kampungnya hanya 3 rumah yang atapnya ambruk) Pagi itu aku lari turun dari tangga karena rumah kami bergoyang-goyang keras. Belum pernah aku merasakan gempa sehebat itu di Yogya. Pikirku, ini pasti Merapi meletus, ternyata bukan. Waktu aku keluar rumah di depan jalan sudah banyak orang. Beberapa detik kemudian setelah gempa reda, aku dan beberapa tetanggaku baru sadar, ternyata diantara kami ada anak tetangga, Bayu bocah lelaki yang sudah kelas 2 SMP masih bergidik ketakutan. Dia masih menangis sambil memeluk badan ibunya dari belakang. Ternyata Bayu tidak pakai baju sama sekali, alias TLBB (telanjang bulat-bulat). Rupanya waktu kejadian, Bayu sedang mandi pagi untuk berangkat sekolah. Pasti tidak ada orang yang perhatikan dia sedang telanjang waktu berhamburan lari keluar rumah. Tetapi yang membuat kami tersenyum diantara rasa takut dan parno (paranoid akan terjadi gempa susulan), adalah ketika Bayu menutupi `aurat'nya di balik tubuh ibunya. Jadinya ketika gempa reda, mereka berjalan seperti truk gandeng saja, karena Bayu malu, cepat-cepat ingin pulang ke rumah. Ketika esoknya kutanya, "Bayu, udah besar kemaren waktu gempa kok nangis?" jawabnya lugu, "Ya itu campur perasaanku, Mbak, antara takut gempa dan juga malu..." Yah ada-ada saja, pikirku. Untung RUU-APP belum disyahkan ya..coba kalau sudah..pasti Bayu terkena kriminalisasi deh...he..he..he.. 3. Kisah Jenaka ketiga (dikisahkan pada penulis oleh Joko, korban gempa yang selamat, tinggal di daerah Sewon, Bantul) Sebenarnya yang membuatku paling trauma itu justru bukan waktu ada gempa, Mbak. Waktu itu, aku udah pasrah karo Gusti Allah tenan! Pikirku, ini pasti sudah mau kiamat saja. Tetapi ketika gempa itu akhirnya reda, kurang dari satu jam kemudian semua orang panik, ribut-ribut akan ada tsunami. Waduuh..rasanya seperti mengalami teror dalam hidup saja. Aku nggak bisa keluarkan mobil, Mbak karena mobilnya hancur ketiban atap dan dinding garasi. Untung pagi itu waktu ada gempa, aku sedang panaskan sepeda motor di halaman, mau antar istri ke pasar. Waktu ribut-ribut ada tsunami itu, secara spontan aku langsung ngajak istriku dan anakku yang berumur 2 tahun (anaknya Joko bernama Idham, diberi nama seperti itu karena dia sangat mengagumi Bupati Bantul-`bukan promosi politik lho wong Pilkada disini/Bantul, sudah lewat'-begitu selorohnya). Waktu itu aku langsung nge-gas, Mbak secepat-nya. Jalanan sudah penuh mobil dan motor, bahkan orang lari-lari. Waktu aku sampai di batas kota (kota Yogya bagian selatan), karena jalanan macet sekali jadinya motorku cuma bisa jalan pelan-pelan. Eh, kok tiba-tiba di jalan itu aku dan istriku, juga orang-orang yang antri di jalanan itu malah dikasih nasi bungkus oleh sekelompok orang, Mbak. Kupikir, lho kok baik sekali orang ini ngasih aku sangu (bekal), nasi bungkus di dalam kantong plastik. Apa mereka sudah tau ya, kalau akan ada bencana? Elah dalah..setelah semua ini reda, aku baru tau Mbak..ternyata mereka itu semua pemilik warung-warung makan. Waktu kutanya, kok mereka baik banget mau kasih nasi bungkus segala? Jawabnya singkat: "Wah Mas, kalau memang benar-benar ada tsunami lewat sini, kami sudah nggak bisa kemana-mana karena jalanan penuh sesak. Jadi kami pikir, ya kami berbuat amal sajalah sebelum mati. Lagipula, nanti juga nggak laku, daripada mubazir, Mas." Yah..itulah Mbak suka-dukanya gempa. Mungkin orang baru mau beramal sosial karena `kiamat sudah dekat' (bukan promosi sinetron lho! Katanya, menambahkan). Itu dulu senyum yang ingin kami bagi dari puing-puing yang tersisa di Yogya. Penulis dan pengumpul Cerita Arie Setyaningrum (Tia) --- End forwarded message --- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free. http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
