Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message ---



Note: forwarded message attached.


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.

--- Begin Message ---



Note: forwarded message attached.

I ask God for a better life,He gave me life that makes me better...
Marina Devita
[EMAIL PROTECTED]


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.

--- Begin Message ---

Note: forwarded message attached.


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
--- Begin Message ---
Selasa, 18 Juli 2006 - 10:05:58 WIB
Masih banyak ironi yang seringkali dipertontonkan oleh negeri ini,
khususnya bidang pendidikan. Banyak anak tak bisa sekolah, tapi kita bisa
mengirim puteri Indonesia untuk pamer syahwat


[Surat untuk mister Presiden]


Oleh: Wildan Hasan*


Seorang anak SMA berlari meninggalkan barisan pramuka di lapangan
Kiarapayung, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Ahad siang kemarin, saat
pembukaan Jambore Nasional 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Siswa SMA kelas II IPS Sandy Putra, Bandung tersebut, berlari menuju
podium dimana presiden berada. Dimas Gumilar Taufik, sesampainya di podium
langsung menyerahkan sebuah map putih kepada presiden tanpa berkata-kata.
Hanya matanya nampak memerah dan berkaca-kaca menyiratkan sesuatu yang
tidak sulit untuk dibaca. Malu, tapi harus dilakukan.

Aksi mengejutkan ini ternyata luput dari pengawasan pasukan pengamanan
presiden (paspampres), yang langsung mengamankannya seusai kejadian. Ada
apa gerangan? Kenapa Dimas begitu nekat menghampiri presiden? Apa yang
diinginkannya? Ternyata aksi yang dilakukan Dimas “hanyalah” untuk meminta
bantuan biaya sekolah kepada presiden. Memakai kata ‘Hanyalah” dalam tanda
kutip disini, karena bagi sebagian orang, soal biaya sekolah tidak perlu
melakukan aksi gila seperti itu atau langsung mencemooh apa yang dilakukan
Dimas, sebagai cari sensasi dan memalukan. Ciss....

Namun Dimas mengatakan, dirinya sangat ingin sekolah dan menuntut banyak
ilmu. Apa mau dikata kedua orangtuanya menganggur tanpa pekerjaan. Dirinya
bingung hendak meminta bantuan pada siapa. Sedangkan semua saudaranya juga
sama-sama susah dan miskin. Boro-boro untuk nyekolahin anak, buat makan
sekali sehari saja susahnya minta ampun.

Aksi yang dilakukan siswa cerdas dan aktif ini, memang sengaja
dilakukannya dan sudah ia persiapkan sebelumnya. Terbetik pikiran
menyampaikan masalahnya langsung kepada presiden. Kenapa tidak? Toh bukan
aksi kejahatan, bukan pula salah kirim. Ia berikan langsung kepada
Presiden, karena di tangannyalah nasib pendidikan jutaan anak bangsa,
termasuk dirinya. Tidak sesuai prosedur? Memang, tapi Dimas sadar jika
sesuai prosedur, suratnya tidak akan sampai ke tangan presiden. Surat apa
sih di negeri ini, kalau tanpa ada uang pelicin akan berhasil dengan sukes.

Presiden kaget memang, menerima surat tersebut. Namun dengan bijak ia
menerimanya dan ia simpan untuk ditindak lanjuti. Namun sampai kapan akan
disimpan kita tidak tahu, jikapun ternyata ditindak lanjuti dan Dimas
dibantu biaya sekolahnya. Haruskah berjuta-juta pelajar di negeri ini pun
melompat menghadap presiden dan menyampaikan permohonan bantuan biaya
pendidikan? Seperti yang dilakukan Dimas?. Karena, selama ini mereka
menangis , berteriak, berpeluh basah dan berdarah-darah, tidak jua
diperhatikan oleh anak buah mister presiden tersebut. Atau haruskah mereka
meneladani aksi teman-temannya, menggantung diri, menyisit urat nadi,
meminum jus obat nyamuk, memenggal kepala orangtua. Dan bisa jadi tidak
sesadis itu, cukup dengan pergi ke jalanan, kumpul-kumpul dengan para
preman, kemudian berbangga menjadi sampah masyarakat.

Ironis memang, nasib bangsa ini. Di saat melimpahnya kekayaan dan hidup
mewah dinikmati segelintir orang di negeri ini. Di saat pejabat yang telah
salah kita pilih menumpuk-numpuk uang haram, sebagai ganti pengeluarannya
saat pemilihan. Di saat pemerintah pusat disiplin menggelar gaji ketiga
belas.

Di saat orang kaya bingung membelanjakan uangnya. Di saat yang sama pula,
ada seorang ibu yang mengutil demi sekolah anaknya, ada seorang bapak
mencuri sepeda demi SPP anaknya yang nunggak lima bulan. Ada seorang ibu
yang menghabisi anak-anaknya karena tidak kuat membiayai sekolah mereka.
Ada jutaan anak yang terpaksa terjun ke jalanan, mengemis dan menghiba
recehan untuk sekedar bisa makan. Dan ada seorang siswa yang berlari
menghiba kepada presiden agar dibantu biaya sekolahnya.

Masih banyak ironi yang seringkali dipertontonkan oleh negeri ini. Ada tim
pelajar Indonesia untuk olimpiade matematika internasional, gagal total
mengikuti ajang tersebut gara-gara pemerintah malas mengurusi visa mereka,
yang hanya bisa diurus dengan dua atau tiga hari saja. Padahal mereka
telah bersusah payah mengikuti seleksi, dilatih berbulan-bulan dan siap
mengharumkan nama bangsa. Tapi pemerintah senantiasa rajin dan sangat
bersemangat mendukung keberangkatan duta kehancuran moral bangsa, puteri
Indonesia untuk beradu keberanian mengumbar syahwat dan aurat di ajang
Miss Universe.

Anggaran pendidikan bertambah? Tidak kemudian menjadikan pelajar optimis
akan tenang belajar tanpa dikejar-kejar guru BP menagih uang SPP. Hingga
saat ini kita terus berharap sampai kapan mimpi buruk ini akan berakhir.
Sampai puisi kehilangan kata-kata indah, sampai kata-kata kehilangan
maknanya dan sampai makna malu mewarnai pendidikan negeri ini. Kosong,
hampa tanpa jiwa.

Apalah mau dikata, pendidikan di negeri ini statusnya belum meningkat.
Masih sebagai anak tiri. Kalau penulis bisa diberi kesempatan bertemu
Presiden RI, mungkin, panulis akan bertanya, "Mister Presiden, benarkan
orang miskin di negeri ini dilarang sekolah?"


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
--- End Message ---

--- End Message ---

--- End Message ---

--- End Message ---

Kirim email ke