Jakarta is too complicated!!!

Banjir yang datang, hampir tiap tahun juga gak menyadarkan Gubernur ampe 
masyarakat yang paling bawah sekalipun bahkan Presiden juga hanya bisa pasang 
muka turut berduka, meeting, dan masing2 department memberikan laporan, ini 
karena ini n itu,.. trus mereka rapat di gedung yang berAC dan gak banjir 
tentunya, mengatakan its should be like this or like that dan apabila belum ada 
keputusan para orang intelektual2 itu pun diberi akomodasi dan transportasi 
untuk menginap di penginapan yang memadai biar mikir solusinya dengan tenang. 
Haloooooo,... anybody there? kedinginan neh,.. banjir pak banjir,... keputusan 
juga belum diambil, kami sedang berusaha melakukan yang terbaik agar masyarakat 
bisa lepas dr bencana ini...... tapi banjir keburu kering n lumpur juga udah 
dibersihkan,.. sebulan berlalu, bekas banjir juga menghilang dan taon depan,... 
banjirrrr!!!!!!

Menanggapi statement2 Sutiyoso,.. hmmm,... no comment deh. Cuma bisa usul ntar 
pada waktu pergantian Gubernur, pilih Gubernur yang tempat tinggalnya terkena 
banjir, so secara pribadi dia pasti trauma n mau mengatasi masalah banjir krn 
dia tau bener susahnya kalo rumah kebanjiran.
Percuma menyalahkan Sutiyoso hampir seluruh anggota pemerintahan gak pernah 
mengakui kesalahan, dalam bentuk apapun itu. Belum ada kata maaf yang dengan 
tulus diucapkan, dan itu bukan hanya Sutiyoso doang!!

Masalah banjir di Jakarta bukan hanya karena kesalahan dari Gubernurnya, lihat 
dong dari bawahnya dulu baru ke atas, seperti masalah birokrasi gt loh,.. dari 
mulai laporan kepala desa, camat, lurah, bupati, so intinya yang paling utama 
disalahkan adalah masyarakatnya. Ngapain sih tinggal di Jakarta klo cuma hidup 
di pinggir kali, dibawah kolong jembatan, ato tempat2 yang gak pantas buat 
tempat tinggal. Makin banyak masyarakat juga gak peduli dengan lingkungannya 
mulai dari sampah sampai letak rumah yang pantas buat dijadiin tempat tinggal 
(emang sih sebagian besar adalah kesalahan pemerintah yang mengijinkan 
pembangunan gedung-gedung yang tinggi tanpa memikirkan pengairan air). Kemudian 
setiap hari pasti ada penambahan penduduk, dan pastinya setiap hari pasti ada 
penambahan sampah and rumah. Bayangin aja, kalo satu orang punya sampah 1kg 
setiap harinya, trus seminggu, sebulan,. dan sampah itu dibiarkan gt aja, 
nunggu pemulung ato penjaga kebersihan yang melakukannya,
 padahal kita bisa mengupayakannya sendiri, dengan membakar sampah2 tersebut.
Tapi, ntahlah,.. itu urusan masyarakat Jakarta deh,.. kita yang diluar Jakarta 
cuma bisa bantu seadanya n doa sekhusuk mungkin biar masyarakat Jakarta bs 
keluar dr bncana ini.. amiiiinnnnn.....

ya udah deh,.. buat rakyat Jakarta,.. get spririt!!!
titin - medan


----- Original Message ----
From: nurun setiawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: Adminisitrasi Niaga Politeknik '00 <[EMAIL PROTECTED]>; 
[email protected]
Cc: Mike Herawati <[EMAIL PROTECTED]>; cupenk abadi <[EMAIL PROTECTED]>; cupenk 
angga cuplis <[EMAIL PROTECTED]>; Anggian Gita Pertiwi <[EMAIL PROTECTED]>; 
Rina Marlina <[EMAIL PROTECTED]>; Sari Yanti <[EMAIL PROTECTED]>; Husni <[EMAIL 
PROTECTED]>; "pepenk "cumi" ahmad" <[EMAIL PROTECTED]>; Tuty <[EMAIL 
PROTECTED]>; Sofia Liang <[EMAIL PROTECTED]>; Syaibatul Aslamiah <[EMAIL 
PROTECTED]>; "[EMAIL PROTECTED]@Ni" <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, February 14, 2007 9:47:32 AM
Subject: [Soe_Hok_Gie]

Angin Goreng Sutiyoso 


Den Haag - Banjir karena siklus lima tahunan? Ah, Gubernur Sutiyoso sedang 
jualan angin goreng. Kok warga Jakarta mau melahapnya begitu saja.

"Yang terjadi kali ini adalah banjir siklus lima tahunan," (Sutiyoso, 
4/2/2007). 

Warga Jakarta, yang dirugikan harta, benda, kehidupan sosial dan psikisnya, kok 
diam saja? Coba periksa statistik sejarah, apa betul ada siklus lima tahunan 
banjir bandang menenggelamkan Jakarta? Sejak kapan?

Menyimak pernyataan Sutiyoso dan tayangan tangis-derita warga Jakarta di NOS, 
VRT Belgia dan CNN, saya langsung meraih pena. Warga Jakarta, bicaralah dan 
ambillah sikap. Pernyataan ini kata ungkapan Belanda: gebakken lucht. Secara 
harfiah "angin goreng" alias omong kosong, atau menurut bahasa kampungnya Suti! 
yoso (Semarang): nggedebus.

Mengapa Sutiyoso tidak secara ksatria mengatakan, "Maaf saudara-saudara, kami 
telah keliru membuat kebijakan tata kota, sehingga saudara menanggung derita 
dan kerugian tiada terkira?"

Jawabnya simpel saja: kalau Sutiyoso jujur seperti itu dan pasang badan memikul 
tanggung jawabnya, maka itu sama saja harakiri. Padahal kabar burung mengatakan 
bahwa dia masih berambisi jadi presiden. Bisa wassalam dia.

Tenggelamnya Jakarta itu lebih disebabkan oleh kombinasi moral hazzard, 
disintegritas dan inkompetensi pejabat DKI, dengan penanggungjawab akhir: 
gubernur, dari sejak sebelum Sutiyoso. Dan soal siklus lima tahunan itu 
Sutiyoso ada benarnya. Setiap ada pergantian gubernur, pelenyapan daerah hijau 
dan resapan air selalu terulang.

Berapa kali sudah Perda tentang Tata Ruang dilanggar, ribuan hektar daerah 
hijau dan resapan air dikorbankan dan disulap menjadi beton-beton "penampung 
air"? Jika dibandingkan dengan masterplan tata ruang warisan Belanda, yang 
sudah ratusan tahun berpengalaman mengatur Jakarta, berapa besar sudah yang 
diacak-acak?

Adalah lucu menangani kawasan ibukota yang begitu luas dan letaknya rendah 
dengan hanya meributkan Banjir Kanal Timur (BKT), seolah-olah ini satu-satunya 
jawaban mengatasi banjir. Simpul masalah utama adalah ketiadaan daerah resapan 
karena telah berubah jadi beton. Sehingga setiap hujan, Jakarta menjadi kolam 
beton terbesar di dunia, menenggelamkan semuanya. 

Sekiranya daerah resapan mencukupi, air akan cepat reda, merembes ke tanah. 
Baru kelebihannya akan mengalir di atas permukaan tanah, mencari kanal-kanal. 
Kanal-kanal itu, kalau dilihat di Belanda, fungsinya sekunder, sebagai saluran 
akhir dari l! uapan curah hujan. Sudah daerah resapan air tiada, kanal-kanal di 
Jakarta tidak dirawat pula. Ya, banjirlah.

Sutiyoso rupanya tidak sendirian dalam jualan angin goreng. Menteri PU Djoko 
Kirmanto, mengutip Menristek, juga sami mawon dengan bungkus terkesan ilmiah, 
"...return period banjir kali ini 30 tahun," Aduh! Sudah begitu, bulan purnama 
disalahkan juga. "Bulan purnama menjadi salah satu penyebab."

Karena bangsa Indonesia adalah bangsa beragama, maka kalau bulan purnama ikut 
menjadi penyebab, ya ini artinya juga kesalahan Tuhan. Enak nian pejabat 
Indonesia tinggal menyalahkan alam dan Tuhan. Lalu apa gunanya akal dan segala 
sumber daya yang sudah dikaruniakan? Apa pula gunanya ilmu yang disandang? 
Seharusnya semua fenomena alam itu dikenali, dikendalikan dan ditundukkan, 
dengan perencanaan dan pembangunan yang baik. 

Negeri Belanda itu letaknya rendah di muara Laut Utara dan sekitar 60% 
wilayahnya berada di bawah permukaan laut. "Negeri" ini bisa dihuni berkat 
tanggul-tanggul dan kanal-kanal. Bandara Schiphol itu berada -3m dapl. Tapi 
meskipun hujan badai mengamuk, air laut pasang, Schiphol tidak tenggelam.

Kecelakaan pernah sekali terjadi di 1953. Tanggul Zeeland jebol, mengakibatkan 
separuh wilayah Belanda tenggelam, 1.836 orang tewas, ribuan lainnya mengungsi. 
Sebenarnya sejak 1920 DPU-nya Belanda sudah mend! eteksi ada kelemahan di 
tanggul itu, namun kabinet saat itu lebih memprioritaskan pembangunan tanggul 
Botlek, Brielse Maas (1950) dan Braakman (1952). Ini menunjukkan, tanpa kendali 
manusia Belanda tiada.

Lain cerita negeri orang, lain cerita kita. Ketika hari cerah, para pemimpin 
kita berpolah, melanglang buana bak raja diraja dari negeri dongeng. Uang 
dihamburkan, salah prioritas, keliru penggunaan. Siapa mengurusi kanal dan 
kali? Berapa kali dalam periode kali dikeruk? Siapa menjatuhkan sanksi kalau 
sampah dibuang sesuka hati?

Kini? Gambar-gambar televisi internasional menjadi karikatur yang menyedihkan: 
Jakarta seperti kampung Indian di muara Amazone. Presiden, gubernur seolah 
tidak becus mengurus secuil Jakarta. Dan lagi-lagi kita menengadahkan tangan 
menerima uluran bantuan.

Salah siapa? Masihkah menyalahkan bulan dan Tuhan ataukah ini semua akumulasi 
dari kebobrokan dan ketidakbecusan pejabat kita? (es/es) 

 
 
 
artikel di ambil dari milist yamaha mx club indonesia



 
____________________________________________________________________________________
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
http://mobile.yahoo.com/mail 

Kirim email ke