Kita Memberhalakan Agama?

Oleh : Ahmad Tohari 


Saya sempat mengkhawatirkan nasib Muhajir, seorang teman di Jakarta
yang lama tidak ada kontak. Jangan-jangan dia jadi korban banjir yang
membenamkan Jakarti akhir-akhir ini. Alhamdulillah, ternyata dia
baik-baik saja. Bahkan kemarin dia kirim SMS dan sama sekali tidak
cerita soal banjir. Dalam SMS-nya Muhajir cerita: "Ada seorang pendeta
kencing di dekat patung Budha. 

Ketika murid-murid mempermasalahkannya, si pendeta menjawab, 'memang
saya harus kencing di mana?' Di musim dingin, pendeta kehabisan kayu
api. Maka dia jadikan patung kayu itu sebagai bahan bakar. Ketika para
murid mempermasalahkannya, si pendeta bilang, 'patung yang bisa
terbakar bukan Budha." 

"Apa tanggapan kamu?" tanya Muhajir.

"Saya suka cerita ini. Menurut saya, si pendeta sedang melakukan
semacam dekonstruksi terhadap simbolisme agama."
"Bagus, jadi kamu suka cerita saya?" Sambung Muhajir. "Saya juga suka,
maka cerita itu saya sampaikan ke kamu."

"Ya, terima kasih."

"Jangan cuma terima kasih. Cerita itu saya sampaikan dengan maksud
agar kamu mau mengulasnya. Sebab di tengah kaum muslim pun yang
namanya simbolisme hampir-hampir menghijabi makna agama. Karena
terjebak dalam simbolisme maka banyak di antara kita telah menjadikan
agama sebagai berhala. Akhirnya, kita tidak mampu menghayati ruh agama
yang berada di balik simbol-simbolnya."

Saya tersenyum dan harus berfikir dulu sebelum membalas SMS Muhajir.
Ah, pikiran ikhwan ini harus dikritisi dulu. Kalau tidak, dia bisa
kebablasan. "Kamu jangan terlalu galak terhadap simbolisme. Karena,
bagaimana juga simbol dalam kehidupan beragama itu penting. Simbol
berupa bangunan masjid, ritus-ritus, lembaga, penampilan, bahkan nama
tetap diperlukan, antara lain untuk membangun identitas. Soal nama
saja misalnya; kamu mau bila cucu kamu diberi nama George Walter Bush?"

Karena hanya lewat SMS saya tidak tahu begaimana reaksi pada wajah
Muhajir. Tapi saya bisa bayangkan dia tersenyum. 
"Iya sih, dan saya bukan sedang mengatakan simbolisme sama sekali
tidak penting. Cuma, kita melihat saudara-saudara kita kaum muslim
sering berperilaku berlebihan dalam membela simbol-simbol keagamaan.
Karena simbolisme, kita juga sering tersesat dalam perasaan yang
salah. Misalnya, karena telah menjalankan rukun Islam secara lahir,
dan telah menjunjung simbol-simbol agama, maka kita merasa telah
sampai kepada tujuan akhir." "Memang tujjuan akhir keberagamaan kita
apa?" tanya saya.

"Kamu jangan meledek! Bukankah kamu yang dulu bilang tujuan akhir
keberagamaan kita adalah budi luhur alias akhlak karimah? Dan katamu
dulu, ridha ilahi - itulah tujuan terakhir keberagamaan kita -
mustahil tercapai di luar akhlak karimah."

"Ya, lalu?"

"Begini. Sekarang ini kita rasakan, dan kita lihat gejalanya,
simbolisme dalam keberagamaan kita sudah terlalu kental. Kita giat
membangun dan menyuburkan simbol-simbol tetapi kurang perhatian
terhadap penghayatan makna. Maka gejala yang muncul adalah pembangunan
fisik keagamaan yang menjamur, pelaksanaan ritual yang kian subur,
bahkan politik berbasis agaama yang kian heboh, namun..."

SMS Muhajir putus. Wah, mungkin karena kalimatnya sudah terlalu
panjang. Atau pulsanya habis? Karena tak sabar menunggu maka saya
kejar dia. Kebetulan pulsa saya masih penuh.

........

Yang hendak memperoleh tulisan-tulisan berkualitas tentang Islam dan
isu-isu keagamaan, silahkan mendaftar di milis ini:

http://groups.yahoo.com/group/bacaan-islam-bermutu/

Kirim email ke