Saya rasa maillinglist soe hok gie ini betul2 gambaran para membernya, karena 
didalamnya terdapat banyak para pemikir2 apa yang dirasakan dimasa lalu, 
sekarang dan bisa kita bayangkan apa yang terjadi kedepan, perbedaan pendapat 
ataupun friksi pasti tidak bisa kita hindarkan dan tak jarang salah paham 
berbuntut permusuhan sakit hati dsb, namun saya yakin orang2 disini punya 
persepsi yang lebih dewasa menyikapi perbedaan.
Dipandang dari sudut science chemistry kami mengenal philosophy "likes 
dissolves likes" yang artinya senyawa kimia yang sejenis sifat kimia nya yang 
akan bereaksi dengan yang sejenisnya pula tanpa memperhatikan wujudnya cair, 
gas ataupun padat, misalnya plastik tidak akan larut dengan air tapi dia akan 
sedikit larut dengan alokohol ataupun larut sempurna dengan n-hexanne hal ini 
terjadi karena sifat kepolaran plastik hampir sama dengan n-heksan (sama2 non 
polar), manusia sendiri adalah gambaran kimia dari unsur2 pembentuknya, 
simpelnya manusia semaksimal mungkin akan berbaur dengan yang sejenisnya secara 
physikologis tanpa berbicara bentuk physic (kulit, mata dll), bukankah setiap 
dari kita dalam hidup ini mencari kenyamanan?, mungkin ada sebagian dari orang 
merasa sudah gak nyaman kalo ngeliat etnis atau agama tertentu, itu hanya baru 
ngeliat doang belum lagi kalo tinggal serumah atau menjadi suami/istri, nah 
jelas terlihat tingkat kenyaman  manusia sendiri berbeda-beda
 dan sayangnya kebanyakan masyarakat indonesia lebih merasa nyaman kalo gabung 
dengan orang yang satu suku dulu, kemudian kalo dia ternyata tidak menemukan 
satu suku akan menurunkan level amannya menjadi mencari satu agama, naik lage 
mencari satu bangsa, satu regional (asean), satu ras (mongoloid,kasia, 
negroid), satu nasib(dua ketiga, G7), satu  ideologi (barat, islam, komunis)  
mungkin kalo alien betul2 ada maka  kita akan nyaman kalo ketemu dengan manusia 
ntah apa pun dia.
Intinya kita yang menetapkan level aman kita bergaul terhadap siapa, tergantung 
kondisi dan kepentingan dan tak jarang kita menjadi ular berkepala dua tapi 
itulah fakta hidup, kita dipakasa membuat kotak-kotak kehidupan, sama seperti 
cerita saudari Avianti Eva Andriani, batas bergaul Padang sama Cina menurut 
persepsi kedua orangtuanya adalah cukup hanya berteman, tidak samapi 
pernikahan, mungkin di orang lain tidak begitu, so define what your own 
borderline for your social interaction, dan itulah nilai hidup kita.

maaf kalo kepanjangan ya....
 
Bonatua 766hi
Scientist&Researcher Dept.
PT Antar Mitra Prakarsa
Jl Tulodong Bawah II no 24 Jakarta Selatan 21190
P: +62215266988 F: +62215737559
M: +6281315968073; +628881705686

----- Original Message ----
From: Avianti Eva Andriani <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, April 15, 2007 12:48:19 AM
Subject: Re: [Soe_Hok_Gie] Re: Fwd:  dari blog orang ad









  


    
            terima kasih sudah kasih banyak opini dari posting

kemarin. tapi posting tersebut tidak punya maksud

untuk menjatuhkan sebuah golongan tertentu, kalau

memang tidak berkenan saya mohon maaf sebesar -

besarnya. tapi saya hanya memberikan sedikit gambaran

keadaan masyarakat disini. walaupun terkadang mereka

mengaku kalau mereka tidak pernah membedakan satu sama

lain. tapi sampai kiamatpun rasisme itu tak kan pernah

mati.



saya ada sedikit cerita dari salah satu rekan saya

yang sudah berkeluarga. mungkin bisa jadi gambaran.



"Planet animal adalah salah satu stasiun TV favorit

anak saya. Saya juga suka sih. Seneng rasanya ngeliat

kelakuan binatang yang sering tampak lebih beradab

daripada manusia kayak kita. Mereka berkumpul sesuai

dengan jenisnya. Kuda zebra dengan kuda zebra. Bison

sama bison, bebek sama bebek, gajah sama gajah, singa

sama singa. Ga pernah saya ngeliat gajah kumpul sama

zebra atau singa sama bebek. Secara alami dan naluriah

mereka berkumpul sesuai dengan spesiesnya.

Pernah ada seekor singa jinak tertarik pada kelompok

zebra itu. Si singa ingin bergabung sama mereka. Apa

yang terjadi? Kumpulan zebra itu lari menghindar.

Mengapa demikian? Karena mereka melihat binatang itu

berbeda dengan mereka. Perbedaan itu membuat para

zebra curiga, takut dan merasa terancam. Namanya juga

singa jinak, si singa mengaum mungkin berusaha

menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud buruk. Akibatnya

lebih fatal! Kelompok zebra itu lari tunggang

langgang.

Anak saya terkekeh-kekeh geli sekali melihat kelakuan

binatang-binatang itu. Terus dia nanya; Kenapa kuda

zebra itu ga mau main sama Singa itu Ayah?

Saya ; Soalnya bentuknya beda. Jadinya zebranya takut.

Leon : Kan singanya udah jinak? Kenapa takut?

Saya : Soalnya zebranya gat au kalo singanya udah

jinak. Singa bahasanya beda sama zebra. Mungkin dia

tadi mau ngejelasin kalo dia cuma mau main. Tapi

kudanya ga ngerti justru malah takut. Aumannya singa

kan serem.

Leon : Oh pantas di sekolahan juga gitu. Leon ngerti

deh sekarang.

Saya : Kenapa di sekolah?

Leon : Iya di sekolah juga ada kelompok-kelompok. Yang

cina ngumpul sama cina. Yang bule ngumpul sama bule.

Yang dari afrika juga kumpul sama afrika. Melayu sama

melayu.

Saya : Oh ya?

Anak saya sekolah di international school. Jadi

berbagai bangsa memang campur aduk di sekolahannya.

Surprise juga anak saya punya pengamatan sampai sejauh

itu.

Pikiran saya flashback. Waktu kuliah, saya pacaran

sama cina. Ga tau kenapa saya selalu tergila-gila sama

cewek cina. Buat saya kecantikan perempuan yang paling

ideal adalah perempuan cina. Ga usah tanya kenapa.

Udah dari sononya. Ayah dan ibu saya marah banget

setiap kali saya pacaran sama cina. Maklumlah, orang

Padang paling ga suka sama cina. Udah agamanya lain,

jadi saingan dagang pula. Tapi karena saya cowo yah

saya cuek aja. Pacarannya kan di luar. Omongan bonyok

mah anggap aja angin lalu. Sayangnya hubungan saya

dengan perempuan cina ga pernah bertahan lama.

Halangannya bukan cuma dari keluarga saya.

Suatu hari pas lagi jemput pacar ke rumahnya buat

nonton bioskop, saya dipanggil sama bapaknya. Bapaknya

sebenernya baik sama saya, tapi jarang-jarang dia

panggil saya mau ngobrol. Pasti gejala buruk nih…tapi

mukanya sih keliatan adem dan ramah-ramah aja.

Bapak : Bud, saya lihat hubungan kamu makin dekat sama

Kiki. Kalian pacarannya serius ya?

Saya : Serius ga serius sih Om. Kan masih kuliah.

Bapak : Kamu aslinya orang mana Bud?

Saya : Padang Om. Kenapa?

Bapak : Begini Om mau ngomong. Coba kamu ngobrol dari

hati ke hati sama ibu kamu. Tanya sama beliau ‘Lebih

seneng punya mantu orang padang apa orang cina?’

Saya : Kalo itu sih ga perlu ditanya Om. Saya udah tau

jawabannya.

Bapak : Keinginan Ibu kamu sangat manusiawi kan?

Saya : Manusiawi sekali sih…

Bapak : Memang begitulah manusia. Kalo kamu tanya

orang jawa, mereka juga seneng dapet mantu sesama

jawa. Orang batak dapet mantu orang batak. Menado sama

menado. Kepada siapa pun kamu Tanya, pasti jawabannya

sama. Dan keinginan itu sangat alamiah dan manusiawi

sekali…

Saya : Speechless menunggu vonis.

Bapak : Begitu juga saya. Saya kan cina. Saya akan

lebih seneng kalo dapet mantu cina juga. Ini ga ada

hubungannya dengan rasis loh Bud. Kamu jangan salah

paham. Bukan karena kami cina dan kamu pribumi. Sama

sekali bukan itu.

Saya : Iya Om (hampir ga terdengar)

Bapak : Keinginan saya ini ga ada bedanya dengan

keinginan semua orang di belahan bumi ini. Sama persis

dengan keinginan ibu kamu. Saya minta maaf tapi semoga

kamu bisa memahami keinginan saya.

Sejak itu kami pun back street. Kalo mau pacaran,

janjian di suatu tempat. Pokoknya saya ga pernah

datang lagi ke rumah Kiki begitu juga sebaliknya.

Sayangnya hubungan kami tercium juga oleh keluarganya.

Kiki langsung diberhentikan dari kuliah dan langsung

dikirim ke Manila bersekolah di sana. Dan saya…jomblo

lagi.

Sekarang saya sudah berkeluarga dan punya anak. Tapi

saya coba juga mawas diri, mencoba menganalisa dari

sudut pandang orang tua. Ternyata bener loh. Kalo saya

bandingkan dengan binatang-binatang di Planet animal,

saya bandingkan dengan apa yang terjadi di sekolah

anak saya, semuanya jadi masuk akal. Semua orang ingin

bergaul dan berkumpul dengan spesiesnya. Kalo saya

ingin diterima menikah dengan Kiki, saya harus merubah

diri jadi cina. Sayangnya itu ga mungkin kan? Orang

saya item begini? Cuma stevi wonder yang percaya kalo

saya ngaku orang cina.

Tapi saya berkesimpulan bahwa rasisme itu tidak akan

pernah mati sampai dunia kiamat. Rasisme itu alamiah

dan bisa diterima selama tidak gontok-gontokan satu

sama lain. Saya kira begitulah seharusnya kita

memahami konsumen. Kita harus yakin bahwa konsumen itu

rasis. Mereka bergaul dengan orang yang sejenis dengan

mereka. Yang kaya bergaul sama yang kaya, yang

menengah bergaul sama yang menengah. Yang seneng

olahraga bergaul sama yang suka olahraga. Yang suka

drugs bergaul dengan sesamanya.

Selain masyarakat bahasa, juga ada masyarakat

lifestyle, ada masyarakat ekonomi, masyarakat politik

dan lain-lain. Kita harus menjadi bagian dari mereka.

Kita harus terlihat sama dengan mereka. Jangan

melakukan kesalahan seperti singa di atas. Kalo kita

mau menawarkan sesuatu ke pada zebra, kita harus

menjadi zebra. Kalo kita mau menjual sesuatu pada

orang padang, jadilah orang padang dahulu. Kalo kita

udah diterima, sudah dikenal, sudah dipercaya maka

akan semakin muluslah jualan kita."



--- Kath <katherinekirana@ hotmail.com> wrote:



> hmm ceng li lah.

> emang gw setuju kalo ini macem gambaran nyata yang

> terjadi di

> indonesia dr dulu2 smpe sekarang.

> 

> cuman yang gw kurang suka sih,

> kenapa penulisnya pake self-identity dari golongan

> tertentu.

> kalo misalnya ini cuman buat humor politik or humor

> etnis yang

> neutral, saya rasa ini sih lebih bisa dibilang

> menyindir yah.

> 

> walau gw emang warga keturunan, tapi bukan berarti

> gw suka membeda2kan

> yang sipit yang ga sipit. orang indo yah orang indo,

> mao muka kayak

> apa, kulit kayak apa, rambut kayak apa, mata kayak

> apa, toh jiwanya donk.

> bule aja bisa ngaku dia orang indo kalo dia cinta

> sama negara ini,

> jadi gw rasa apa yang ngebedain dia sama orang2

> indonesia laennya?

> gw pikir sih, ga da guna kalo pemerintah bikin

> peraturan ini itu

> menyangkut SARAS soalnya mereka cuman nulis di

> hukum, prakteknya kurang. 

> kalo kita punya belief bahwa smua orang sama di

> tanah indonesia, yah

> kita harus yang mulai untuk nggak menbeda2kan sapa

> aja. kita yang

> musti mulai dengan mendidik anak kita (misalnya), pa

> nggak generasi2

> muda kita untuk nggak menbeda2kan orang berdasarkan

> penampilan luar.

> 

> luar bisa beda, dalem jiwanya sama.  

> 

> 



____________ _________ _________ _________ _________ __

Do You Yahoo!?

Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 

http://mail. yahoo.com 



    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->







__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke