Sedikit opini tentang opini: Rasisme memang tidak mungkin hilang samasekali, BUKAN karena rasisme itu ESENSIEL (mendasar, harus ada) dalam kemanusiaan dari manusia. Rasisme tidak mungkin hilang samasekali adalah karena SELALU ada sebagian manusia yang menganggap kelompok lain sebagai "berbeda". Berbeda bukan hanya karena ia tidak mau beresiko dengan akibat dari perbedaan itu, tetapi juga karena ia merasa berasal dari kelompok yang "lebih" dan merasa "rugi" bila bergaul dengan kelompok yang "kurang", atau semacam itu. Semua kata itu saya beri bertanda petik, karena menurut pemahaman saya, sebenarnya tidak seharusnya demikian. Manusia pada hakekatnya SAMA. Yang berbeda adalah pemahaman akibat kurangnya pendidikan, provokasi, kebencian, ketidak-obyektifan, dan kesombongan yang berlebihan. Yang secara esensiel (hakiki) SAMA tsb, lalu menjadi BERBEDA karena KACAMATAnya. Kaca mata berwarna akan membuat semua yang dilihatnya berwarna sesuai warna "kaca" yang dipakainya. Analogi zebra takut singa itu TIDAK TEPAT karena yang hendak dianalogikan adalah SESAMA MANUSIA, yaitu manusia yang secara esensiel SAMA. Zebra takut singa karena singa makan zebra. Singa TIDAK SAMA dengan zebra, karena singa adalah predator dari zebra. Orang Padang tidak perlu tidak berkumpul dengan orang Cina dan sebaliknya karena mereka tidak saling "memakan". Manusia tidak saling memakan manusia, paling tidak, tidak semestinya begitu. Jadi rasisme meskipun bisa saja masih ada yang tertinggal "mengimaninya" di bumi ini, tetap saja sudah selayaknya dihapuskan. Bukan karena selalu ada tersisa maka tidak perlu usaha menghapuskannya apalagi mengesahkannya. KITA, bisa berkontribusi positif dalam usaha menghapuskan rasialisme itu dengan mengungkapkan ketidak-setujuan kita atas segala bentuk provokasi, celetukan, tulisan, posting, yang terasa mengganggu semangat itu. Bukan membenarnya. Dalam lingkungan saya, Cina dan Padangpun berjabat erat cari makan bersama, bahkan orang terdekat saya sedang menggalang hubungan kemitraan niaga (join bisnis). Mereka adalah hubungan antara Cina dan Padang. Mesra kok. Hari gini.... kacamata berwarna yang tidak perlu sudah saatnya dilepas. Ideologi2 yang rasis, stereotip2, generalisasi2 yang berlebihan sudah semestinya ditanggalkan dan ditinggalkan... Ada suara di masa lalu: "Bangsa kita cuma satu: Bangsa Manusia". Entah kapan terakhir kudengar kata kata itu. Ada rindu pada perdamaian di dalamnya. Entah semua merasakannya?. Tak tahu. Mungkin tidak. Salam, fw
_____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Avianti Eva Andriani Sent: Sunday, April 15, 2007 12:48 AM To: [email protected] Subject: Re: [Soe_Hok_Gie] Re: Fwd: dari blog orang ad terima kasih sudah kasih banyak opini dari posting kemarin. tapi posting tersebut tidak punya maksud untuk menjatuhkan sebuah golongan tertentu, kalau memang tidak berkenan saya mohon maaf sebesar - besarnya. tapi saya hanya memberikan sedikit gambaran keadaan masyarakat disini. walaupun terkadang mereka mengaku kalau mereka tidak pernah membedakan satu sama lain. tapi sampai kiamatpun rasisme itu tak kan pernah mati. saya ada sedikit cerita dari salah satu rekan saya yang sudah berkeluarga. mungkin bisa jadi gambaran. "Planet animal adalah salah satu stasiun TV favorit anak saya. Saya juga suka sih. Seneng rasanya ngeliat kelakuan binatang yang sering tampak lebih beradab daripada manusia kayak kita. Mereka berkumpul sesuai dengan jenisnya. Kuda zebra dengan kuda zebra. Bison sama bison, bebek sama bebek, gajah sama gajah, singa sama singa. Ga pernah saya ngeliat gajah kumpul sama zebra atau singa sama bebek. Secara alami dan naluriah mereka berkumpul sesuai dengan spesiesnya. Pernah ada seekor singa jinak tertarik pada kelompok zebra itu. Si singa ingin bergabung sama mereka. Apa yang terjadi? Kumpulan zebra itu lari menghindar. Mengapa demikian? Karena mereka melihat binatang itu berbeda dengan mereka. Perbedaan itu membuat para zebra curiga, takut dan merasa terancam. Namanya juga singa jinak, si singa mengaum mungkin berusaha menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud buruk. Akibatnya lebih fatal! Kelompok zebra itu lari tunggang langgang. Anak saya terkekeh-kekeh geli sekali melihat kelakuan binatang-binatang itu. Terus dia nanya; Kenapa kuda zebra itu ga mau main sama Singa itu Ayah? Saya ; Soalnya bentuknya beda. Jadinya zebranya takut. Leon : Kan singanya udah jinak? Kenapa takut? Saya : Soalnya zebranya gat au kalo singanya udah jinak. Singa bahasanya beda sama zebra. Mungkin dia tadi mau ngejelasin kalo dia cuma mau main. Tapi kudanya ga ngerti justru malah takut. Aumannya singa kan serem. Leon : Oh pantas di sekolahan juga gitu. Leon ngerti deh sekarang. Saya : Kenapa di sekolah? Leon : Iya di sekolah juga ada kelompok-kelompok. Yang cina ngumpul sama cina. Yang bule ngumpul sama bule. Yang dari afrika juga kumpul sama afrika. Melayu sama melayu. Saya : Oh ya? Anak saya sekolah di international school. Jadi berbagai bangsa memang campur aduk di sekolahannya. Surprise juga anak saya punya pengamatan sampai sejauh itu. Pikiran saya flashback. Waktu kuliah, saya pacaran sama cina. Ga tau kenapa saya selalu tergila-gila sama cewek cina. Buat saya kecantikan perempuan yang paling ideal adalah perempuan cina. Ga usah tanya kenapa. Udah dari sononya. Ayah dan ibu saya marah banget setiap kali saya pacaran sama cina. Maklumlah, orang Padang paling ga suka sama cina. Udah agamanya lain, jadi saingan dagang pula. Tapi karena saya cowo yah saya cuek aja. Pacarannya kan di luar. Omongan bonyok mah anggap aja angin lalu. Sayangnya hubungan saya dengan perempuan cina ga pernah bertahan lama. Halangannya bukan cuma dari keluarga saya. Suatu hari pas lagi jemput pacar ke rumahnya buat nonton bioskop, saya dipanggil sama bapaknya. Bapaknya sebenernya baik sama saya, tapi jarang-jarang dia panggil saya mau ngobrol. Pasti gejala buruk nih.tapi mukanya sih keliatan adem dan ramah-ramah aja. Bapak : Bud, saya lihat hubungan kamu makin dekat sama Kiki. Kalian pacarannya serius ya? Saya : Serius ga serius sih Om. Kan masih kuliah. Bapak : Kamu aslinya orang mana Bud? Saya : Padang Om. Kenapa? Bapak : Begini Om mau ngomong. Coba kamu ngobrol dari hati ke hati sama ibu kamu. Tanya sama beliau 'Lebih seneng punya mantu orang padang apa orang cina?' Saya : Kalo itu sih ga perlu ditanya Om. Saya udah tau jawabannya. Bapak : Keinginan Ibu kamu sangat manusiawi kan? Saya : Manusiawi sekali sih. Bapak : Memang begitulah manusia. Kalo kamu tanya orang jawa, mereka juga seneng dapet mantu sesama jawa. Orang batak dapet mantu orang batak. Menado sama menado. Kepada siapa pun kamu Tanya, pasti jawabannya sama. Dan keinginan itu sangat alamiah dan manusiawi sekali. Saya : Speechless menunggu vonis. Bapak : Begitu juga saya. Saya kan cina. Saya akan lebih seneng kalo dapet mantu cina juga. Ini ga ada hubungannya dengan rasis loh Bud. Kamu jangan salah paham. Bukan karena kami cina dan kamu pribumi. Sama sekali bukan itu. Saya : Iya Om (hampir ga terdengar) Bapak : Keinginan saya ini ga ada bedanya dengan keinginan semua orang di belahan bumi ini. Sama persis dengan keinginan ibu kamu. Saya minta maaf tapi semoga kamu bisa memahami keinginan saya. Sejak itu kami pun back street. Kalo mau pacaran, janjian di suatu tempat. Pokoknya saya ga pernah datang lagi ke rumah Kiki begitu juga sebaliknya. Sayangnya hubungan kami tercium juga oleh keluarganya. Kiki langsung diberhentikan dari kuliah dan langsung dikirim ke Manila bersekolah di sana. Dan saya.jomblo lagi. Sekarang saya sudah berkeluarga dan punya anak. Tapi saya coba juga mawas diri, mencoba menganalisa dari sudut pandang orang tua. Ternyata bener loh. Kalo saya bandingkan dengan binatang-binatang di Planet animal, saya bandingkan dengan apa yang terjadi di sekolah anak saya, semuanya jadi masuk akal. Semua orang ingin bergaul dan berkumpul dengan spesiesnya. Kalo saya ingin diterima menikah dengan Kiki, saya harus merubah diri jadi cina. Sayangnya itu ga mungkin kan? Orang saya item begini? Cuma stevi wonder yang percaya kalo saya ngaku orang cina. Tapi saya berkesimpulan bahwa rasisme itu tidak akan pernah mati sampai dunia kiamat. Rasisme itu alamiah dan bisa diterima selama tidak gontok-gontokan satu sama lain. Saya kira begitulah seharusnya kita memahami konsumen. Kita harus yakin bahwa konsumen itu rasis. Mereka bergaul dengan orang yang sejenis dengan mereka. Yang kaya bergaul sama yang kaya, yang menengah bergaul sama yang menengah. Yang seneng olahraga bergaul sama yang suka olahraga. Yang suka drugs bergaul dengan sesamanya. Selain masyarakat bahasa, juga ada masyarakat lifestyle, ada masyarakat ekonomi, masyarakat politik dan lain-lain. Kita harus menjadi bagian dari mereka. Kita harus terlihat sama dengan mereka. Jangan melakukan kesalahan seperti singa di atas. Kalo kita mau menawarkan sesuatu ke pada zebra, kita harus menjadi zebra. Kalo kita mau menjual sesuatu pada orang padang, jadilah orang padang dahulu. Kalo kita udah diterima, sudah dikenal, sudah dipercaya maka akan semakin muluslah jualan kita." --- Kath <katherinekirana@ <mailto:katherinekirana%40hotmail.com> hotmail.com> wrote: > hmm ceng li lah. > emang gw setuju kalo ini macem gambaran nyata yang > terjadi di > indonesia dr dulu2 smpe sekarang. > > cuman yang gw kurang suka sih, > kenapa penulisnya pake self-identity dari golongan > tertentu. > kalo misalnya ini cuman buat humor politik or humor > etnis yang > neutral, saya rasa ini sih lebih bisa dibilang > menyindir yah. > > walau gw emang warga keturunan, tapi bukan berarti > gw suka membeda2kan > yang sipit yang ga sipit. orang indo yah orang indo, > mao muka kayak > apa, kulit kayak apa, rambut kayak apa, mata kayak > apa, toh jiwanya donk. > bule aja bisa ngaku dia orang indo kalo dia cinta > sama negara ini, > jadi gw rasa apa yang ngebedain dia sama orang2 > indonesia laennya? > gw pikir sih, ga da guna kalo pemerintah bikin > peraturan ini itu > menyangkut SARAS soalnya mereka cuman nulis di > hukum, prakteknya kurang. > kalo kita punya belief bahwa smua orang sama di > tanah indonesia, yah > kita harus yang mulai untuk nggak menbeda2kan sapa > aja. kita yang > musti mulai dengan mendidik anak kita (misalnya), pa > nggak generasi2 > muda kita untuk nggak menbeda2kan orang berdasarkan > penampilan luar. > > luar bisa beda, dalem jiwanya sama. > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail. <http://mail.yahoo.com> yahoo.com
