wah seneng ya sekarang tambah banyak masyarakat kita yang CARE sama industri
perfilman. mau share aja nih soalnya kemarin gw baru dapet booklet tentang satu
komunitas film juga di Jakarta. dan ternyata isinya sangat menyedihkan.
Such as:
*seorang produser film lokal ternyata harus membayar pajak perizinan penayangan
di Indonesia yang notabenenya jauh lebih besar dibanding pajak film
internasional untuk dipatar di Indonesia. ironis kan? masa karya anak negeri
sendiri justru dipersulit untuk bisa dinikmati bangsanya sendiri??
*sebuah produksi film lokal membutuhkan kisaran dana 4-6 milyar. dan para
sinemas hanya bisa mendapatkan ganti dana dari hasil tiket penjualan bioskop.
murni dari situ. itupun konon masih dipotong sama pihak pemilik bioskop
masing-masing wilayah.
*setelah sebuah film dinyatakan 'keluar' dari penayangan bioskop, film lokal
kita hanya bisa mendapatkan aliran dana pengganti lagi dari hasil penjualan
VCD/DVD asli. atau jika ada stasiun televisi yg mau membeli untuk ditayangkan
bagi publik.
ini yang bisa kita lakukan:
tonton terus film Indonesia. jangan pernah berhenti untuk mengapresiasikan
karya para sinemas kita. apalagi selama penayangan di bioskop-bioskop masih
ada. percuma donk jadi generasi era 2kys tapi hanya bisa mengkritik film-film
kita tanpa mencoba menikmatinya terlebih dahulu. selamat nonton!
soeroen lelakibugis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
R.A Kartini. Nama itu yang mungkin akan terngiang di kepala pada hari ini. Ya,
21 April memang ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Kartini, sosok yang
disimbolkan sebagai pahlawan perempuan nasional.
Sorot Layar Tamalanrea yang digelar setiap Sabtu Malam di Kafe Ininnawa
memilih menjadikan bulan April ini sebagai moment untuk memutar film-film yang
disutradai dan diproduseri oleh Nia Dinata, perempuan pekerja film Indonesia
yang telah banyak meraih penghargaan di dunia perfilman nasional dan
internasional. April, Solata memutar film; Arisan, Ca Bau Kan, Janji Joni dan
Biola Tak Berdawai
Sinopsis Janji Joni
Film. Mungkin anugrah seni terbesar yang pernah dimiliki manusia. Kita semua
tahu bagaimana sebuah film dibuat, ditulis, di-syut, diedit, baru setelah itu
film bisa dinikmati orang di bioskop.
Tapi sangat jarang orang yang mengerti peran anak muda berusia 22 tahun
bernama JONI dalam proses di atas. Dia adalah orang di balik layar. Dia adalah
orang yang menentukan, apakah kita bisa nonton film di bioskop apa tidak. Joni
adalah seorang pengantar rol film.
Saat Joni sedang bertugas, rol film akan diantar tepat waktu sehingga
penonton tidak akan pernah melihat tanda ini muncul di layar bioskop: MOHON
MAAF, TUNGGU FILM. Itulah Janji Joni.
Tapi suatu hari, seluruh kota seolah-olah berkonspirasi untuk membuat Joni
terlambat mengantar rol filmnya, justru saat Joni mempunyai sesuatu yang sangat
besar untuk dipertaruhkan jika dia terlambat, {the girl of his future.}Joni
harus berhadapan dengan berbagai karakter yang eksentrik, gang-gang Jakarta
yang menyerupai labirin, berpacu dengan waktu untuk menunaikan janjinya. Apakah
perjuangan Joni sia-sia? Jawabannya dapat anda saksikan pada Solata 21 April
2007 di Kafe Ininnawa pukul 20.00 wita.
Biografi Nia Dinata
Karir Nia Dinata di dunia layar lebar diawali film Ca Bau Kan. Dengan Ca Bau
Kan, Nia meraih penghargaan untuk Sutradara Pendatang Baru Berbakat Terbaik di
Festival Film Asia Pasifik, Seoul, Korea pada tahun 2002. Film ini juga
mendapatkan predikat Sutradara Seni Terbaik di festival yang sama (FFA). Pada
2003 Ca Bau Kan terpilih oleh Akademi Perfilman Ilmu Pengetahuan dan Budaya
(Ampas) untuk diputar sebagai satu kandidat nominee film asing
Tahun 2002 Nia bersama Afi Shamara memproduksi film kedua mereka Biola tak
Berdawai. Di tahun 2003, Nia tampil lagi menyutradarai film Arisan!. Film
ini meraih banyak penghargaan dalam sejumlah festival film di Indonesia. Pada
Festival Film Cinema Asia di Amsterdam (2004), juga penghargaan film terbaik.
Tahun yang sama, film ini menjadi nominee Sutradara Pendatang Baru Tahunan
dalam Festival Film Internasional Amerika Asia di New York. Kemudian dia
mendapat penghargaan secara resmi pada Festival Film Internasional Vancouver
Canada, Festival Film Gay dan Lesbian Internasional, dan sejumlah festival
lainnya.
Pada Festival Film Indonesia (FFI) 2004, Arisan! meraih kategori Film
Terbaik, Penyunting Terbaik, Aktor Terbaik (Tora Sudiro), Aktor Pendukung
Terbaik (Surya Saputra), Aktris Pendukung Terbaik. 'Arisan! telah diputar di
lebih dari 50 festival film di dunia.
Pada Mei 2004, dalam rangka perayaan ke 20 Pons Sud Sinema, bersama
Kementerian Urusan Luar Negeri Prancis dan Festival de Cannes, Nia diundang
untuk bergabung dengan program sutradara muda Cannes. Di bulan Juni, Nia
terpilih sebagai salah satu juri dalam festival film Prancis di Indonesia.
Di bulan April 2005, ia kembali memproduksi sebuah film roman berjudul Janji
Joni yang disutradarai Joko Anwar. Selain hasratnya dalam penyutradaraan, Nia
juga memercayai potensi dari para pembuat film muda Indonesia lainnya. Dengan
sebuah perusahaan produksi independen miliknya, Kalyana Shira Films Nia
berkomitmen untuk mengembangkan naskah yang menarik dan menghasilkan film-film
Indonesia yang lebih berkualitas.
Janji Joni telah memenangi sejumlah penghargaan. Contohnya Film Terbaik
pada penghargaan film Indonesia MTV, penyuntingan terbaik di Festival Film Asia
Pasifik. Dan juga disiarkan di banyak festival film seluruh dunia, seperti
Festival Film Internasional Amerika-Asia, Festival Film Internasional Pusan,
dan di Festival Film Internasional Tokyo.
lets working together for better a new world
visit me here
Mansyur Rahim
Jl. Perintis Kemerdekaan 9 no 76
(Depan Mercedes Benz PT. Timur Permai)
Tamalanrea, Makassar 90245
Telpon: 0411-586.459
Mobile: 0411-577.3388
---------------------------------
Yahoo! Answers - Got a question? Someone out there knows the answer. Try it
now.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.