Hidup Mati Penulis & Karyanya (1): Pram Mati, Hidup Pram! Oleh: A.Kohar Ibrahim http://16j42.multiply.com/journal/item/321/A.Kohar_Ibrahim_Hidup_Mati_Penulis_ Ilustrasi : Kohar & Pramoedya, Amsterdam 1999 Pram Mati - Hidup Pram ! Hidup Mati Penulis & Karyanya (1) Oleh : A.Kohar Ibrahim DALAM suasana polemik kebudayaan, khsusnya kesusastraan Indonesia dewasa ini dalam ragam nada dan warna nuansanya nama sastrawan terkemuka Pramoedya Ananta Toer kembali muncul jadi pembicaraan. Sang sastrawan yang telah meninggal dunia 30 April 2006 itu sepertinya masih hidup atau hidup kembali. Dan kembali menghadapi gugatan akan « dosa-dosa »nya di masa lalu. Kongkretnya : selagi dia memegang kekuasaan di ruang kebudayaan koran Bintang Timur : Lentera. Iya. Saya ulang bilang dan tulis dengan menggaris-bawahinya : Pram untuk kesekian kalinya, sejak masa hidup sampai matinya, jadi tokoh yang tergugat lantaran keintegritasannya sebagai pengarang dan posisinya sebagai Penguasa Ruang Kebudayaan Lentera Bintang Timur ! Iya. Sedemikian rupa makna pentingnya sosok sastrawan kaliber Pram dengan Lentera Bintang Timur itu, rupanya memang benarlah ungkapan bahwa « meski Pram sudah mati, namun karyanya tetap hidup ». Termasuk, karya-karya tulisnya yang berupa esai dan bersifat polemis. Seperti yang berkaitan dengan persoalan adanya tendensi dalam kesenian (« realisme-sosialis » vs « humanisme universal »), persoalan munculnya manifesto-manifesto politik Manipol vs Manikebu, dan persoalan yang lebih khusus seperti soal yang menyangkut kebebasan berekspresi dan keberbedaan pendapat. Justeru, dalam soal persoalan yang belakangan itulah, dewasa ini Pram kembali dijadikan persoalan. Tegasnya : soal sikap pendirian Pram di bidang kebudayaan umumnya, khususnya yang berkenaan dengan kebebasan berekspresi dan penerbitannya. Dimulai, dengan diungkap-angkat karya tulisnya yang dimuat di Lentera Bintang Timur tanggal 9 Mei 1965 dengan judul : « Pramoedya Ananta Toer : Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total. » (Mediacare / Blog Art-culture 28 Oktober 2007). Penyiaran-ulang tulisan Pram tersebut mendapat sambutan, antara lain, dari pembaca sekaligus yang mengaku sebagai pengagumnya : Ahimsa H. Situmeang. Akan tetapi, oh, sedemikian rupa dampak tulisan tersebut atas dirinya, sehingga terus terang mengaku : « Saya jadi sedih dan guncang banget kekaguman saya kepada Pramoedya. » Suatu pengakuan yang lugu, saya rasa. Yang saya kira memang wajar-wajar saja datang dari seorang pembaca sekaligus jadi pengagum Pramoedya Ananta Toer. Pengakuan lugu dalam periode sikon perjuangan kehidupan masyarakat yang relatif damai. Zaman sekarang. Yang memang amat berbeda dengan periode sebelumnya, ketika rezim Orde Baru berjaya memperagakan arogansi kekuasaannya. Dalam masa mana, untuk menjadi pembaca dan pengagum Sang Pujangga Besar Indonesia itu, konsekwensinya kena incaran intel, ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. Seperti nasib yang di-alami oleh 3-B : Bambang Isti Nugroho, Bambang Subono, Bonar Tigor Naipospos. Bayangkan saja ! Jadi pembaca dan pengagum Pujangga Indonesia sendiri, ketiga pejuang demokratisasi di bawah cengkeraman rezim Orde Baru itu, harus mendekam di dalam penjara dari tahun 1989 sampai dibebaskannya secara bersarat tahun 1994 ! Dan, selain « 3-B », berapa banyak pula yang secara diam-diam karena terbungkam menjadi pembaca atau pengagum Pramoedya khususnya, umumnya kaum pencinta kebebasan berekspresi ? Yang pasti (selaras catatan saya masa itu), jangankan mengekspresikan diri bersimpati pada Pram, kepada sang « 3-B » itu saja pun tidak dimungkinkan. Contohnya, tulisan karya Emha Ainun Nadjib berjudul « Isti dan Isti-Isti di Tanahair » tidak ada media massa apa-mana-pun yang berani menyiarkannya. Naskah itu baru tersiarkan dalam Majalah ARENA nomor perdana September 1990, Culemborg, Nederland yang editornya adalah saya sendiri. Saya utarakan selintas pintas hal-ihwal yang bersangkutan dengan kasus gadang sang pengarang kondang Pramoedya Ananta Toer itu, semata-mata karena tergelitik oleh pengakuan bernada lugu seorang pembaca sekaligus mengaku sebagai pengagumnya : Ahimsa H. Situmeang itulah. Seorang pengagum yang « terguncang » oleh suatu naskah Pram tersebutkan di atas itu. « Lha, sebagai pengagum Pram, kok gampang terguncang begitu ? Bahkan sangat terguncang » pikirku teriring kerut kening, namun hanya sedetik. Kerna teriring asa, membaca baris-baris kata Situ selanjutnya: Mungkin kita perlu menelaah kembali sejarah (terutama sejarah kemerdekaan berekspresi dan berbeda pendapat) di Indonesia " Baguslah jika beritikad demikian: menelaah kembali sejarah kebebasan berekspresi, kebebasan pers, yang adalah merupakan hak azasi manusia. Dan khususnya yang berkenaan dengan sosok tokoh Pramoedya Ananta Toer, kiranya akan lebih afdol jika ditelaah bukan hanya perihal kebebasan berekspresi dan toleransi pada keberbedaan pendapat, melainkan perihal sejarah Kemerdekaan Indonesia itu sendiri. Bagaimanakah sikap pendirian Pram, aktivitas-kreativitasnya yang mendasar dan kongkret dalam perjuangan Kemerdekaan rakyat, Bangsa dan berdirinya negara Republik Indonesia. Jika sudah ditelaah dan dipahami sikap-pendiriannya yang mendasar, bagaimana dia selain memanggul senapan juga menggenggam pena, di kancah perjuangan demi dan untuk mencapai Kemerdekaan yang penuh. Perjuangan yang penuh ujian dan pengorbanan -- dari masa Revolusi Agustus dan selama di bawah pimpinan Pemimpin Besar Revolusi/Pangti ABRI/Preseiden Republik Indonesia Sukarno sampai pengkudetaannya oleh kaum militeris di bawah pimpinan Jenderal-Jenderal Suharto-Nasution. Dan juga bagaimana sikap-pendirian dan tindakannya di bawah rezim Orde Baru Jenderal itu, maka akan lebih baik lagi lah kiranya AH Situmeang memahami Sang Pujangga Terkemuka Pramoedya Ananta Toer itu. *** Brussel, 28 Oktober 2007.
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
