Tanggapan Untuk A. Kohar Ibrahim
Dari Goenawan Mohamad Sejarah yang diulang gampang jadi sebuah parodi. Itu sebabnya saya tak pernah bernafsu mengungkit kembali "perdebatan" lama kalangan Lekra dan Pramoedya Ananta Toer dengan "Manikebu", sebuah pernyataan yang saya ikut rumuskan dan tandatangani di tahun 1963. Bagi saya, yang perlu adalah merintis bersama sebuah masa baru bagi Indonesia, setelah kita menempuh sebuah masa silam yang berdarah, kotor dan penuh kebencian agar semua itu tak terulangi lagi. Sudah lama saya telah memilih jalan ini, dan melakukan apa yang saya bisa, di tengah situasi yang tak mudah di bawah pengawasan Orde Baru. Tapi kini seorang yang bernama A. Kohar Ibrahim tiba-tiba sekarang tampak bernafsu hendak mencanangkan permusuhan lama kembali. Tak ayal, suaranya terdengar seperti parodi yang buruk. Ia menyatakan diri sebagai "seorang yang memposisikan diri sebagai salah seorang yang menghargai Hak Azasi Manusia". Maaf, saya belum pernah dengar apa yang telah dilakukannya dalam soal ini. Yang saya bisa duga dari tulisannya adalah bahwa ia tak bicara apa-apa tentang pembrangusan pers dan penahanan Mochtar Lubis bertahun-tahun sejak 1956 apalagi mengecam pembungkaman suara sastrawan dan seniman "Manikebu" di tahun 1964. Bagaimana sikap macam ini dikaitkan dengan "menghargai hak asasi", saya kira hanya tukang sulap logika yang bisa melakukannya. Bahkan Kohar mengatakan, sebagai cara menghalalkan pembrangusan di tahun 1964 itu, bahwa pada "Manikebu" ada "ke-pura-pura-an" yang "berbahaya". Bahwa bagi Manikebu, "Politik yang mereka jadikan panglima itu memang politik politisi beneran". Artinya, "mereka mem-panglima-kan politik kaum militeris dengan pangkat Jenderal Jenderal." Lalu sederet tuduhan pun dilancarkan. "Manikebu", kata Kohar, "menjalani politik yang paling kotor dan keji". Sekaligus, "selaras garis politik kaum nekolim pimpinan AS." Satu hal yang keji dari "Orde Baru" adalah cara-cara brutal membuat cap, dengan fitnah, terhadap musuh-musuhnya dan dengan itu halal-lah tindakan apapun terhadap para musuh itu. Tanpa argumen atau alasan. Tanpa bukti. Tanpa proses peradilan yang terbuka dan tak apriori. Kita ingat misalnya, bahwa oleh "Orde Baru" PKI dianggap "bertentangan dengan Pancasila", dan cuma pura-pura pro Pancasila tanpa si "Orde Baru" merasa perlu membuktikan anggapan itu. Ajaib (atau jangan-jangan tak ajaib), cara itu juga yang dilakukan Kohar Ibrahim. Atas dasar apa ia menganggap Manifes Kebudayaan "mem-panglima-kan politik kaum militeris dengan pangkat Jenderal Jenderal"? Di mana ia bisa tunjukkan kami "menjalani politik yang paling kotor dan keji"? Di mana ia menemukan bukti bahwa perbuatan kami "bertentangan dengan isi Pancasila terutama sekali dalam sila perikemanusiaan"? Tampaklah, begitu ia memutuskan "Manikebu" berpura-pura, ia pun memutuskan untuk tak merasa perlu membaca apa yang dikatakan "Manikebu" Dengan masygul saya menuliskan semua ini. Masygul karena begitu banyak korban sudah di masa lalu meliputi pelbagai kalangan, tak hanya PKI, juga orang yang memusuhi dan dimusuhi PKI, tak hanya orang-orang yang berpikir seperti Kohar, juga yang tak sepaham dengan dia tapi orang ini, yang mengaku "menghargai hak-hak asasi manusia", mengulang suara seorang Stalinis yang kerdil, yang dengan memaki, sekaligus bertepuk tangan untuk pembungkaman. Ia tak paham agaknya, bahwa hak-hak asasi manusia harus ditegakkan dan dikembangkan dengan semacam "kastrasi", dengan kesediaan berkorban. Salah satu pengorbanan adalah memotong dari diri sendiri pendirian (atau kebencian?) yang menganggap lawan politik adalah musuh yang harus dihabisi. Itu sebabnya saya, seorang penandatangan Manifes Kebudayaan yang diganyang Pramoedya Ananta Toer, membela hak dia sekuat tenaga saya, karena suara yang tak menyenangkan saya itu juga tak layak dimatikan. Ataukah Kohar Ibrahim akan menuduh saya hanya "pura-pura" bekerja untuk hak asasi manusia? Sekali lagi, dengan masygul, Bung. Goenawan Mohamad blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
