CoPas dari : http://jalanraya.net/?p=143
Layak dan Pantaskah kita Berkendara di Jalan raya? Posted by adminjr on
August 27 2009 Add Comments <http://jalanraya.net/?p=143#comment>

Sebuah pernyataan yang terkesan sombong, angkuh dan merasa hebat serta
pintar ? Tergantung darimana kita mengambil benang merahnya. Saya
akhir-akhir ini cukup was-was berkendara di belantara Jakarta. Was-was
kenapa ? Setiap detik saya selalu dibuat jantungan dan bermain di area
berbahaya. Lolos adalah sebuah keberuntungan. Dan keberuntungan itu saya
dapatkan setiap hari. Gila.

[image: 
Photobucket]<http://s657.photobucket.com/albums/uu299/JDDCOnline/?action=view&current=persimpangan.jpg>

Ada yang salah dengan sistem lalu lintas kita ? Bisa ya bisa tidak.
Argumentasi berkeliaran menyinggung bobroknya pengaturan lalu lintas,
infrastruktur hingga soal mental pengguna jalan. Saya paling menaruh
perhatian kepada banyaknya jumlah Surat Ijin Mengemudi yang lolos dari pihak
berwajib untuk dikantungi para pengendara amatiran. Bukan berarti saya
profesional. Tapi tentu tidak juga amatir.

Saya adalah korban sistem kemudahan mendapatkan SIM. Cukup membayar sekian
ratus tanpa harus antri. Antri pun sebenarnya ada di kondisi yang sama.
Prosedur dan tes tidak murni diterapkan lengkap. Tapi kemudahan mendapatkan
SIM saya anulir dengan terus menambah pengetahuan berkendara dan ber lalu
lintas. Saya rasa ini lebih dari cukup untuk mempertanggung jawabkan saya
karena menempatkan diri sebagai korban produksi SIM.

Berapa banyak dari pemohon SIM yang selepas pulang mau meluangkan waktu
membaca literatur berkendara, baik soal skill maupun pelebaran pemahaman UU
Lalin. Pasti tidak banyak. Beruntung saya bukan pemilik SIM yang asal punya.
Saya meluangkan waktu mendapatkan ilmu baru. Saya meluangkan waktu
memperbaiki diri.

Saya termasuk yang sering berkoar dalam tulisan soal menjadi penggiat
-istilahnya- Safety Ride. Tapi ada semacam pemikiran terlintas, sepertinya
ada yang ‘missed’ dalam kampanye ini. Ketika gelontoran artikel masuk ke
sistem web atau email atau mailing list maka saya langsung berpendapat bahwa
setiap pembaca pasti sudah punya pemahaman yang cukup. Pembaca bukan lah
pengguna jalan raya amatiran. Mereka semua sanggup jadi panutan. Lalu
bagaimana dengan para pengguna jalan raya yang ‘lolos’ dari kampanye yang
banyak diumbar di internet ?

Jika kita mau bisa saja kita menjadi pengendara yang hebat, penuh sopan
santun dengan skill yang mumpuni. Tapi yang terlihat adalah NOL BESAR.
Berapa banyak dari pengguna jalan yang menghargai helm, yang mau menengok
sekilas saat berubah arah, yang lebih memilih mendahului daripada menyalip,
yang memutuskan berhenti saat lampu lalin berwarna merah ? Persentase nya
bisa 1:20 jika dihitung jumlah kendaraan yang ada di belakang garis putih.

Apakah kita merasa pantas dan layak jadi pengguna jalan ? Saya merasa
menjadi pribadi yang menuju sosok yang layak meski harus banyak melakukan
perubahan. Di setiap persimpangan saja kita enggan menurunkan gas dan lebih
memilih bermain di bibir kendaraan lain lalu kita anggap itu suatu tindakan
pantas dan layak dan berpengetahuan sebagai pengguna jalan raya. Lihat lagi
Surat Ijin Mengemudi, renungkan apa kita masih layak dan pantas berkendara
di jalan raya. Kita sudah di ijinkan berkendara tapi bukan berarti jalan
raya menjadi milik kita.

Tidak usah berkendara di jalan raya jika tidak tau aturannya.


-- 
[email protected]
www.spinner-community.net

http://maps.google.com/maps?f=q&source=s_q&hl=en&geocode=&q=serpong&sll=-6.19039,106.845474&sspn=0.330398,0.441513&g=jakarta&ie=UTF8&ll=-6.246278,106.678276&spn=0.020136,0.055189&z=14

Kirim email ke