ad info 

Ari Warokka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  
Dikutip dari Gatra - Perspektif, 6 Desember 2007

Mencuri Klaim, Itu Biasa

Jika Anda berjalan-jalan di Paris, tentu takkan
terlewatkan sebuah bulevar bernama Champs Elyssee, di
mana toko-toko ternama dunia dan pedestrian yang
nyaman membuat pesiar dari seluruh dunia mengenang
kecantikannya. Di tengah jalan raya besar itu, Anda
bisa memandang lurus ke arah barat dan timur, di mana
terbentar Axis de Paris yang dibangun Napoleon
Bonaparte untuk membelah kota impian itu.

Dalam aksis yang berujung di La Defense --pusat bisnis
supra-modern sebagai antitesis kota tua Paris yang
klasik dan antik-- Anda akan menemukan beberapa
landmark ibu kota Prancis itu, yang seluruhnya
menciptakan kekaguman, juga mewartakan sejarah yang
mengesankan. Satu di antara penanda besar itu pasti
sulit Anda lewatkan, sebuah monumen bernama Trocadero.

Monumen berjenis menhir dan bebentuk seperti potlot
itu membuat bangga warga Paris, bahkan Prancis, selama
hampir dua abad. Tapi, maaf, monumen purba itu
sebenarnya bukan milik mereka, bukan milik Prancis.
Itu barang curian. Dan Napoleon-lah yang mencurinya
dari tempat asalnya, Mesir. Tanpa ragu tanpa malu,
pencurian itu bahkan diabadikan dalam diorama di
kompleks monumen tersebut.

Lebih dari itu, Trocadero sebenarnya juga menjadi
monumen aksi pencurian besar-besaran bangsa Eropa,
para imperialis modern, terhadap karya-karya besar
serta peninggalan sejarah bangsa-bangsa yang
dijajahnya di Asia dan Afrika terutama. Lalu mereka
berduyun-duyun menciptakan klaim atas barang-barang
curian itu, bahkan beberapa di antaranya menjadi
referensi identitas sosial/kebangsaan mereka.

Apakah kita di Indonesia hanya mengetahui bagaimana
ribuan khazanah pustaka dan artefak kuno kita tersebar
di berbagai perpustakaan, museum, atau koleksi pribadi
tokoh-tokoh di berbagai kota dunia? Tidakkah Anda juga
mengetahui bahwa pencurian itu terjadi pula pada
karya-karya atau hak intelektual kita, dalam bentuk
tarian, lagu, musik, seni rupa, pertunjukan, olah
tubuh, atau sastra, yang sudah ratusan bahkan ribuan
tahun diproduksi dan berkembang di negeri kepulauan
ini?

Sesungguhnya, soal curi-mencuri produk
intelektual/kultural, atau saling klaim atas
kepemilikannya atau posisinya sebagai acuan identitas,
sudah menjadi salah satu tradisi di dunia beradab
bangsa-bangsa di bumi ini. Sejak dahulu kala. Bahkan
ketika Mongol berkuasa di daratan Cina, mereka tidak
hanya merebut dan menguasai semua potensi material
bangsa besar itu. Melainkan juga merebut dan mengklaim
hampir seluruh khazanah seni dan budaya Cina sebagai
milik dan sumber identitas mereka yang baru.

Begitu pun ketika Romawi menyerbu dan menguasai
Yunani. Hingga saat lalu lintas ekonomi, politik, dan
budaya antarbangsa semakin licin dan kuat. Sejarah
memperlihatkan bagaimana sebuah negeri atau bangsa
mengadopsi bahkan mencuri dan mengklaim --diam-diam
atau terbuka-- produk seni atau budaya lain menjadi
miliknya. Juga di Indonesia. Ketika beberapa tradisi
Arab dijumput oleh komunitas muslim negeri sebagai
milik (identitas)-nya, dari soal seni musik, busana,
kebiasaan/tradisi, hingga perilaku sehari-hari.

Orang Jawa akan dengan meyakinkan menyatakan wayang
sebagai buah karya dan sumber acuan identitasnya.
Walau --mereka sadari atau tidak-- hal-hal esensial
dalam wayang, bentuk dan ceritanya, sungguh-sungguh
diambil nenek moyang mereka dari negeri lain. Bukankah
negeri dan bangsa ini, secara keseluruhan, dari Aceh
hingga Papua, dari suku Mentawai hingga suku-suku di
Flores atau Wamena, telah mengklaim Melayu sebagai
bahasa (identitas linguistik/modern) mereka.

Maka, apa yang mesti dirisaukan lagi ketika
curi-mencuri dan rebutan klaim semacam itu terjadi
kembali di masa kini? Apalagi cuma sekadar lagu Rasa
Sayange atau alat musik angklung, misalnya. Negeri ini
sudah melakukan hal tersebut, juga menjadi korban
perilaku tersebut sejak ribuan tahun lalu. Mengapa
kemudian kita harus merinding, kesal, marah, hingga
harus mengangkat panji nasionalisme, bahkan seakan
siap mencabut kapak perang untuk perilaku lumrah
bangsa-bangsa di atas bumi itu?

Dalam pergaulan internasional yang kian intens pada
saat ini, perkara itu menjadi hal yang tidak
mengherankan, tidak runyam sama sekali. Mungkin setiap
hari terjadi curi-mencuri atau klaim atas hak
intelektual orang/bangsa lain. Bukankah sudah lama
batik, misalnya, diklaim Malaysia sebagai warisan
budayanya. Atau klaim atas tempe, kecap (ketchup),
hingga sayur laksa yang asli banget Bogor, yang kini
justru lebih populer lewat identifikasi "Singapura" di
belakangnya. Bahkan banyak sekali restoran Indonesia
yang menjual identitas kuliner itu, tanpa rikuh dan
risau bahwa itu juga hasil pencurian.

Maka, dalam pergaulan seperti ini, di mana silang
budaya, interkulturalisme menjadi kelumrahan global,
terjadinya pertukaran karya, impit-mengimpit,
pinjam-meminjam, atau saling klaim juga biasa-biasa
saja. Masak kita harus ngambek hanya karena melihat
Nelson Mandela mengenakan batik dan menjadikannya
sebagai salah satu acuan identifikatifnya. Tidak
secengeng itu, kan?

Radhar Panca Dahana
Pekerja seni dan pemerhati budaya
[Perspektif, Gatra Nomor 4 Beredar Kamis, 6 Desember
2007] 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 




       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu 
Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups.
 Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di 
http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke