Kenapa sih masih ada aja SARA yang masuk ke Milis?????
On 5/12/08, aulia amalia <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > dari FS tetangga semoga dapat bermanfaat > > > Prabugita... > > Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu belajar > di Jogja. Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan teman- > teman memilih nglurug ke patang puluhan, rumahnya > Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan kiai > mbeling Emha Ainun Nadjib. > > Kita bikin forum melingkar di situ. > Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, > tapi juga ngobrolin soal keagamaan. > > Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. > Komandannya anak Solo, Nasution Wahyudi. > Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dgn Nasution > yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma > mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek > kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu. > > Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu. > > "Apakah anda semua punya tetangga?" > > Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak > kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan > dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya ikut-ikutan > saja menjawab : "Tentu saja punya". > > Cak Nun melanjutkan bertanya : "Punya istri enggak > tetangga Anda?" > > Sebagian hadirin menjawab : "Ya, punya dong". > Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan > semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak desa. > Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya. > > Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya : > "Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu? > Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus atau ada bekas > korengnya ?" > > Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah > pembicaraan Cak Nun. > > Kebanyakan menjawab : "Tidak pernah memperhatikan > Cak. Ono opo Cak?" > > Cak Nun ndak peduli. > Dia tanya lagi : "Body-nya sexy enggak?" > > Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh. > Apalagi saya yang benar-benar tidak faham arah > pembicaraan sang Kiai mbeling itu. > > Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis. > Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasai saya ingat > sampai hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk sebuah > negeri yang memilih Pancasila : "Jadi ya begitu. Jari > kakinya lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak bukan > urusan kita,kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah > kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau > perdebatkan. Biarin saja". > > "Kenapa cak?" salah satu teman bertanya, penasaran. > > "Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan > orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah > diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar > salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, > masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya > begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah > disimpan didalam hati saja". > > Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan. > Saya setuju dengan pandangan Cak Nun. > > Dia melanjutkan serius : "Bagi orang non-Islam, agama > Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang > non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa > Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, > bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar > itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana > istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan > diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan > seminar atau pertengkaran. > > Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan > jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk > menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak > usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya > karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak > pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, > teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan > masing-masing pada keyakinannya. " > > Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya. > > Cak Nun terus berkata : "Itu prinsip kita dalam > memandang berbagai agama. Sementara itu orang muslim > yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan > pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk > mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang > sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal > waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko tetangganya > yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang > Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, > kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan > tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya. > Begitu." > > Kami semua terus menyimak paparannya. > > "Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. > Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda. Mana > ada orang yang mau isterinya dibahas dan diomongin > tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai > pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, > aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama > di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, > sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. " > > "Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki > pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihkan > kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple > dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, > cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya > Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus hati dgn > hati. Itulah maiyah," ujarnya. > > Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris > tanpa emosi. Tapi serius dan dalam. Saya menyimaknya > sungguh-sungguh. Dan saya catat baik-baik dalam > hati saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal. > Di Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak > orang usil mengurusi isteri tetangganya. Begitu juga di > berbagai tempat di dunia. Di Bosnia. Atau yang paling > baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya perang dan > hancur-hancuran. Menyedihkan. > > Sangat menyedihkan. > > ------------------------------ > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it > now. > > > <http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ> > > -- Regards, Ary Triyanto Hendrawinata Gani & Hidayat Member of Grant Thornton International Wisma Dharmala Sakti 18th Floor Jl Jend. Sudirman kav 32 Jakarta Pusat T : (021) 570 7997 F : (021) 570 7996 E1 : [EMAIL PROTECTED] E2 : [EMAIL PROTECTED] W : www.gthendrawinata.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
