hembusan angin masih perlahan hanya membuat sejuk suasana, namun bila berlarut2 angin itu akan kencang dan mematahkan kekuatan batang pohon dan dedaunanpun yang berkumpul akan rontok seperti tiada artinya. Angin pun akan tersenyum ringan melihat pohon yang kokoh telah tumbang karena hembusannya.
--- hurip setiyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > menurut saya, kita simak tulisan mbak aulia amalia > yg ini : > > "Tapi, sebagaimana > istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, > jangan > diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan > seminar atau pertengkaran." > > saya berharap mbak aulia amalia memahami artikel yg > dikirimnya > dan juga memahami kepada siapa seharusnya artikel > ini dikirim(mis : japri aja), > dan juga memahami tanggapan temen2 > > walaupun saya yakin, saya seiman dengan mbak, > maaf ya mbak > > > > ----- Pesan Asli ---- > Dari: Ary Triyanto <[EMAIL PROTECTED]> > Kepada: [email protected] > Terkirim: Senin, 12 Mei, 2008 10:59:50 > Topik: [STIE YKPN Mailing List] Re: agama dan istri > tetangga... > > > Kenapa sih masih ada aja SARA yang masuk ke > Milis????? > > > > > > On 5/12/08, aulia amalia <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > dari FS tetangga semoga dapat bermanfaat > > > Prabugita... > > Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu > belajar > di Jogja. Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan > teman- > teman memilih nglurug ke patang puluhan, rumahnya > Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan kiai > mbeling Emha Ainun Nadjib. > > Kita bikin forum melingkar di situ. > Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, > tapi juga ngobrolin soal keagamaan. > > Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. > Komandannya anak Solo, Nasution Wahyudi. > Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dgn > Nasution > yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma > mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek > kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar > disitu. > > Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu. > > "Apakah anda semua punya tetangga?" > > Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak > kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan > dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya > ikut-ikutan > saja menjawab : "Tentu saja punya". > > Cak Nun melanjutkan bertanya : "Punya istri enggak > tetangga Anda?" > > Sebagian hadirin menjawab : "Ya, punya dong". > Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan > semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak desa. > Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya. > > Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya : > "Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda > itu? > Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus atau ada > bekas > korengnya ?" > > Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah > pembicaraan Cak Nun. > > Kebanyakan menjawab : "Tidak pernah memperhatikan > Cak. Ono opo Cak?" > > Cak Nun ndak peduli. > Dia tanya lagi : "Body-nya sexy enggak?" > > Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh. > Apalagi saya yang benar-benar tidak faham arah > pembicaraan sang Kiai mbeling itu. > > Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis. > Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasai saya > ingat > sampai hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk > sebuah > negeri yang memilih Pancasila : "Jadi ya begitu. > Jari > kakinya lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak > bukan > urusan kita,kan? Tidak usah kita perhatikan, tak > usah > kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau > perdebatkan. Biarin saja". > > "Kenapa cak?" salah satu teman bertanya, penasaran. > > "Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan > orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah > diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar > salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, > masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya > begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi > cukuplah > disimpan didalam hati saja". > > Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan. > Saya setuju dengan pandangan Cak Nun. > > Dia melanjutkan serius : "Bagi orang non-Islam, > agama > Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi > orang > non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa > Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian > juga, > bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru > berdasar > itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, > sebagaimana > istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, > jangan > diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan > seminar atau pertengkaran. > > Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, > dan > jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk > menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, > tak > usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya > karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak > pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih > jelas, > teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, > biarkan > masing-masing pada keyakinannya. " > > Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya. > > Cak Nun terus berkata : "Itu prinsip kita dalam > memandang berbagai agama. Sementara itu orang muslim > yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan > pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk > mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor > yang > sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal > waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko > tetangganya > yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang > Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga > Budha, > kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan > tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan > jualannya. > Begitu." > > Kami semua terus menyimak paparannya. > > "Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. > Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda. Mana > ada orang yang mau isterinya dibahas dan diomongin > tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai > pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, > aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama > di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, > sambil saling melindungi koridor teologi > masing-masing. " > > "Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki > pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihkan > kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple > dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, > cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya > Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus hati > dgn > hati. Itulah maiyah," ujarnya. > > Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris > tanpa emosi. Tapi serius dan dalam. Saya menyimaknya > sungguh-sungguh. Dan saya catat baik-baik dalam > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
